{"id":354929,"date":"2025-09-03T12:11:08","date_gmt":"2025-09-03T05:11:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=354929"},"modified":"2025-09-03T12:11:08","modified_gmt":"2025-09-03T05:11:08","slug":"angkringan-adalah-sekolah-bahasa-jawa-terbaik-bagi-para-perantau","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/angkringan-adalah-sekolah-bahasa-jawa-terbaik-bagi-para-perantau\/","title":{"rendered":"Angkringan Adalah Sekolah Bahasa Jawa Terbaik dan Termurah bagi para Perantau"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada orang yang bilang bahasa itu bisa dipelajari lewat kursus, buku tebal, atau video YouTube, mungkin dia belum pernah tinggal lama di Solo. Sebab di kota ini, ada satu lembaga pendidikan non-formal yang jauh lebih efektif daripada kursus bahasa asing apa pun. Tempatnya tanpa papan nama, tanpa kurikulum resmi, bahkan tanpa tutor bergelar magister linguistik. Namanya: angkringan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, angkringan adalah sekolah bahasa Jawa paling ramah, paling egaliter, dan tentu saja paling murah. Bayangkan, hanya dengan modal segelas kopi tiga ribuan dan sego kucing dua ribu, Anda bisa ikut kelas listening, speaking, sekaligus cultural studies dalam satu paket lengkap. Bahkan kalau beruntung, bisa sekalian ikut kelas politik praktis, sampai kelas ekonomi makro.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai perantau di Solo, saya dulu termasuk yang minder soal bahasa Jawa. Dari awal kuliah, saya cuma bisa menyebut \u201cnggih\u201d dan \u201cmboten\u201d dengan aksen yang bikin orang Jawa asli langsung tahu, \u201cOh, cah iki dudu wong kene.\u201d Setiap kali dengar percakapan di kampus, apalagi kalau sudah masuk ranah kromo inggil, saya merasa kayak turis asing yang nyasar di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Pasar_Klewer\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pasar Klewer<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, semua berubah sejak saya dekat dengan angkringan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tentang angkringan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kota-kota besar lain, tongkrongan mahasiswa biasanya kafe dengan lampu temaram, sofa empuk, dan latte art berbentuk hati. Di Solo, mahasiswa rantau pasti pernah ke angkringan. Kursinya bangku kayu panjang, mejanya cuma gerobak sederhana dengan lampu sentir. Menunya? Tentu saja sego kucing, sate usus, tempe mendoan, atau gorengan yang entah kapan terakhir kali minyaknya diganti. Tapi justru dari sinilah pelajaran bahasa Jawa dimulai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya masih ingat kali pertama mendengar kata \u201ctelas.\u201d Waktu itu, sekitar jam setengah tujuh pagi, saya mau ambil tahu bakso. Dengan polosnya saya nanya ke Pakde angkringan, \u201cPak, tahu baksonya masih ada?\u201d Si Bapak menjawab singkat, \u201cTelas, Mas.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bengong. Telas? Di kepala saya, justru malah yang ada Talas, makanan khas dari daerah saya, Bogor. Ternyata, dalam bahasa Jawa, telas berarti habis. Dari situ saya belajar bahwa satu kata bisa menyelamatkan Anda dari rasa malu ketika rebutan lauk tengah malam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Besoknya, saya belajar kata baru lagi: \u201csampun.\u201d Kata ini sering saya dengar ketika ada bapak-bapak pelanggan bilang, \u201cNggih, sampun, Pak.\u201d Ternyata artinya \u201csudah.\u201d Wah, sopan banget ya. Kalau pakai bahasa Indonesia kan biasa bilang, \u201cSudah, Pak.\u201d Tapi dengan \u201csampun,\u201d nuansanya lebih halus, lebih berwibawa. Rasanya kalau sesekali saya ngomong ke dosen, \u201cSampun, Pak,\u201d mungkin nilainya bisa naik setengah poin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan jangan lupa kata \u201csetunggal\u201d dan \u201ckalih.\u201d Itu semacam level berikutnya. Di kampus, kadang saya sering malu kalau beli fotokopian dan si mas penjaga bilang, \u201cKalih, Mas?\u201d Saya cuma bisa nyengir, pura-pura paham. Untung di angkringan saya dapat kamus gratis. Suatu malam, ada pembeli bilang, \u201cSate ati setunggal, segone kalih.\u201d Nah, dari situ saya paham, setunggal itu satu, kalih itu dua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lihat, betapa murahnya biaya sekolah bahasa di angkringan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kursus bahasa Jawa paling menyenangkan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang bikin angkringan jadi sekolah unik adalah atmosfernya. Tak ada guru resmi, tapi semua orang bisa jadi guru. Penjual angkringan mengajarkan kosakata lewat interaksi jual-beli. Sesama pembeli jadi kawan diskusi, entah soal politik, bola, atau keluh-kesah. Bahkan bapak-bapak tukang ojol yang ikut nimbrung bisa mendadak jadi dosen linguistik ketika Anda salah menanggapi sapaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari situ saya sadar, angkringan bukan hanya tempat makan murah, tapi juga ruang koreksi sosial. Salah ngomong nggak masalah, yang penting berani mencoba. Beda jauh dengan kelas formal, di mana salah jawab bisa bikin nilai jeblok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dipikir-pikir, angkringan itu mirip laboratorium bahasa. Bedanya, di lab kampus kita mendengar native speaker lewat kaset atau rekaman audio. Di angkringan, native speaker-nya langsung ada di samping kita. Gratis, real-time, dan kadang disertai bonus humor receh khas orang Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, ada bapak-bapak cerita, \u201cWingi aku numpak sepur, eh jebul kalih jam telat tekan.\u201d Saya diam-diam mencatat di kepala: wingi itu kemarin, jebul itu ternyata. Besoknya saya coba pakai ketika nongkrong, meski dengan logat medok karbitan: \u201cWingi aku turu kesusu.\u201d Teman-teman saya ketawa, tapi justru itulah feedback yang efektif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belajar bahasa di angkringan memang seperti itu: trial and error. Sering salah, sering diketawain, tapi lama-lama jadi terbiasa.<\/span><\/p>\n<h2><b>Perbedaan tingkat bahasa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lucunya lagi, di angkringan saya juga belajar perbedaan tingkat bahasa Jawa. Awalnya saya pikir bahasa Jawa itu satu paket saja. Ternyata ada ngoko, madya, dan kromo inggil. Bapak-bapak ngobrol dengan sesama temannya biasanya pakai ngoko: \u201cKowe arep mangan opo?\u201d Tapi kalau ke penjual angkringan, seringnya jadi lebih halus: \u201cSegone telas, Pak?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sinilah saya sadar, bahasa Jawa itu bukan sekadar alat komunikasi, tapi juga cermin tata krama. Angkringan, dengan segala kesederhanaannya, memperlihatkan betapa luwesnya orang Jawa menempatkan diri. Kepada teman sebaya boleh ceplas-ceplos, kepada yang lebih tua harus alus. Satu kata bisa menentukan apakah Anda dianggap sopan atau sembrono.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja, proses belajar bahasa di angkringan nggak instan. Saya butuh waktu empat tahun untuk lumayan ngerti percakapan sehari-hari. Tapi anehnya, saya nggak pernah merasa sedang belajar. Rasanya lebih seperti nongkrong, bercanda, atau sekadar mengisi perut. Tahu-tahu, kosakata bertambah sendiri. Inilah yang saya sebut kurikulum tersembunyi angkringan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan cukup lima sampai tujuh ribu di angkringan, memberi kita sesuatu yang lebih dari sekadar kosa kata: ia memberi pengalaman hidup, rasa kebersamaan, dan sedikit-sedikit kepercayaan diri untuk berinteraksi dengan masyarakat lokal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, jangan harap setelah lima kali nongkrong langsung fasih berbahasa kromo inggil. Tapi minimal, Anda bisa bedain mana \u201csampun\u201d dan mana \u201cdereng,\u201d mana \u201csetunggal\u201d dan mana \u201ckalih.\u201d Itu sudah prestasi besar bagi anak rantau.<\/span><\/p>\n<h2><b>Angkringan adalah universitas rakyat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, saya berani bilang begini: angkringan adalah universitas rakyat. Ia mengajarkan bahasa tanpa silabus, mendidik sopan santun tanpa modul, dan membentuk komunitas tanpa organisasi. Bahkan, kalau mau jujur, tanpa pengabdian masyarakat, ruang paling dekat untuk menyentuh masyarakat bagi mahasiswa ialah di angkringan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada yang nanya apa kontribusi terbesar angkringan bagi perantau, jawabannya jelas: ia jadi sekolah bahasa Jawa termurah, terindah, sekaligus terenak (apalagi teh panasnya yang kental dan legit).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalau Anda perantau yang baru sampai Solo dan merasa gagap bahasa dan takut dikerjain kalau belajar dengan teman, carilah angkringan terdekat. Duduklah di bangku kayu, pesanlah satu-dua nasi kucing dan segelas teh, dan biarkan percakapan mengalir. Selamat, Anda baru saja mendaftar jadi mahasiswa baru di Universitas Angkringan Solo Raya.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Alfin Nur Ridwan<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/mengenal-hik-solo-serupa-angkringan-jogja-sudah-ada-sejak-masa-penjajahan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mengenal HIK Solo: Serupa Angkringan Jogja, Sudah Ada Sejak Masa Penjajahan<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jadi, kalau Anda perantau yang baru sampai Solo dan merasa gagap bahasa Jawa dan takut dikerjain saat belajar, carilah angkringan terdekat.<\/p>\n","protected":false},"author":3055,"featured_media":290899,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[1641,16045,763,29722,2284],"class_list":["post-354929","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-angkringan","tag-angkringan-solo","tag-bahasa-jawa","tag-hik-solo","tag-solo"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/354929","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3055"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=354929"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/354929\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/290899"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=354929"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=354929"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=354929"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}