{"id":354841,"date":"2025-09-06T16:39:13","date_gmt":"2025-09-06T09:39:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=354841"},"modified":"2025-09-09T16:06:15","modified_gmt":"2025-09-09T09:06:15","slug":"akal-akalan-penjual-sate-ayam-demi-cuan-bikin-pembeli-rugi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/akal-akalan-penjual-sate-ayam-demi-cuan-bikin-pembeli-rugi\/","title":{"rendered":"4 Akal-akalan Penjual Sate Ayam demi Meraup Cuan Besar, tapi Merugikan Pembeli"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada banyak olahan sate ayam di Indonesia, salah satu yang punya banyak penggemar adalah sate ayam Madura. Saking populernya, <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jatim\/kuliner\/d-6893557\/10-makanan-khas-madura-yang-unik-dan-wajib-dicoba\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kuliner khas Madura<\/a> satu ini begitu mudah ditemukan di berbagai daerah. Tidak terkecuali daerah-daerah pelosok. Mungkin, ini satu-satunya kuliner yang bisa menyaingi kepopuleran <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/masakan-padang-di-jogja-tak-cocok-di-lidah-orang-minang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">warung Padang<\/a> di Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedihnya, tidak sedikit penjual \u201cmempermainkan\u201d harga demi mendapat cuan sebesar-besarnya. Mereka memanfaatkan kepopuleran makanan ini dan meraup keuntungan. Berikut beberapa akal-akalan yang mereka lakukan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h1><b>#1 Penjual sate ayam yang mencampur daging dan jeroan\u00a0<\/b><\/h1>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak sedikit penjual sate ayam yang mencampur daging dan jeroan ayam dalam satu tusuk satu. Semua dilakukan demi menekan biaya produksi. Seperti yang kita tahu, harga jeroan ayam lebih murah daripada daging ayam. Lebih dari itu, penjual tidak transparan. Mereka tidak memberi tahu satenya adalah campuran daging dan jeroan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembeli yang paling dirugikan di sini. Tidak semua pembeli doyan jeroan ayam, bahkan menghindarinya dengan alasan kesehatan. Istri saya adalah salah satunya. Jadi, kalau istri saya lagi sendiri di rumah lalu beli sate dan nemu ada jeroan, malah dibuang. Sayang kan? Kalau saya lagi makan bareng sate dengan istri, biasanya beberapa tusuk sate jeroan darinya diberikan ke saya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Menjual lontong dengan harga mahal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejauh pengamatan saya, kalau penjual tidak mengakali harga sate ayam, mereka mempermainkan harga lontongnya. Seperti yang kita tahu, makanan ini bisa jadi alternatif bagi mereka yang kelaparan. Kuliner ini cocok disantap bersama lontong. Nah, tak sedikit penjual yang menjual lontong dengan harga mahal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagian pedagang sate ada yang menjual lontong dari harga per bungkus Rp8.000 hingga Rp10.000. Padahal, biasanya harganya Rp2.000 hingga Rp2.500 saja. Mentok-mentok Rp5.000.\u00a0 Saya pernah membeli lontong seharga Rp8.000 per bungkus. Karena saya lapar dan tak ada nasi di rumah, maka ya saya terpaksa membelinya. Enak sih, tapi agak miris di dompet.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Penjual sate ayam pelit bumbu kacang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kasta-makanan-dengan-bumbu-kacang-yang-rasanya-paling-enak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bumbu kacang<\/a> memainkan peran penting dalam sajian sate ayam. Rasa bumbu kacang yang terlalu manis atau kurang nendang bisa merusak seporsi sate ayam. Tidak hanya rasa, porsi bumbu kacang yang terlalu sedikit juga bisa merusak rasa. Sayangnya, tidak sedikit penjual yang kemudian pelit bumbu kacang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking seringnya ketemu penjual yang pelit bumbu, saya jadi punya trik tersendiri. Begini, kalau saya beli sate lebih dari satu porsi, saya tak menggabungkan bumbu dan sate dalam satu bungkus. Misal, saya membeli dua porsi sate ayam untuk saya dan istri, saya meminta tukang sate untuk menggunakan dua bungkus.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Ada tulisan \u201csate kambing\u201d di gerobaknya, tapi nggak jual menu tersebut<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak sedikit penjual sate Madura yang menuliskan \u201csate ayam\u201d dan \u201csate kambing\u201d di gerobaknya. Namun, kenyataannya, mereka hanya menjual sate ayam saja. Bekali-kali saya menemukan kasus semacam ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking seringnya mendapati penjual seperti itu, saya jadi curiga, jangan-jangan penulisan \u201csate kambing\u201d hanyalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/upselling-strategi-yang-tercoreng-karena-penjual-tidak-terbuka\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">trik marketing<\/a> ya. Sebab, kadang, penggemar sate yang bosan menyantap sate ayam memilih sate kambing sebagai alternatif. Namun, ketika penjual mengaku tidak menyediakan sate kambing, pembeli biasanya tetap akan membeli sate ayam. Setidaknya begitulah yang saya lakukan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas akal-akalan penjual mempermainkan harga sate ayam. Mereka berupaya sebisa mungkin menekan biaya produksi agar mendapat margin keuntungan sebesar-besarnya. Dan, pembelilah yang paling dirugikan dalam hal ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Rahadian<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-tips-jajan-gudeg-jogja-yang-asli-enak-nggak-cuma-modal-viral\/\"><b><i>5 Tips Jajan Gudeg Jogja yang Asli Enak, Nggak Cuma Modal Viral<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penjual &#8220;mempermainkan&#8221; harga sate ayam dengan berbagai cara kotor demi mendapat cuan sebanyak-banyaknya. Pembeli dirugikan dan kapok. <\/p>\n","protected":false},"author":506,"featured_media":355751,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[5020,29769,29768,27289,18985],"class_list":["post-354841","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-madura","tag-penjual-sate","tag-penjual-sate-ayam","tag-sate-ayam-madura","tag-sate-madura"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/354841","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/506"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=354841"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/354841\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/355751"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=354841"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=354841"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=354841"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}