{"id":35470,"date":"2020-04-10T15:32:32","date_gmt":"2020-04-10T08:32:32","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=35470"},"modified":"2020-04-10T15:32:32","modified_gmt":"2020-04-10T08:32:32","slug":"jogja-sebenarnya-tidak-romantis-jika-kamu-cuma-punya-gaji-umr","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-sebenarnya-tidak-romantis-jika-kamu-cuma-punya-gaji-umr\/","title":{"rendered":"Jogja Sebenarnya Tidak Romantis Jika Kamu Cuma Punya Gaji UMR"},"content":{"rendered":"<p>2 tahun lalu saya pernah bikin polling di Instagram, terkait kota mana yang lebih romantis: Bandung atau Jogja, tentu saja itu iseng. Tidak ada tolok ukur atau standar yang digunakan untuk memenuhi kelayakan kota paling romantis, yang kalian kalau tanya saya, jawabannya Paris hehe. Hasil polling saat itu 49-51, 49 persen untuk Bandung, dan 51 persen untuk Jogja.<\/p>\n<p>Saya juga masih ingat, pacar saya merespon &#8220;Halah, semua kota yang ada penggusurannya kok disebut romantis.&#8221; Lalu saya jawab &#8220;Tidak juga, Majalengka ada penggusuran saya tidak menyebut kota romantis&#8221;. Saat itu memang bertepatan dengan pembangunan bandara Yogyakarta International Airport, dan penggusuran kepada warga Kulon Progo, sementara di Bandung ada program Kotaku (Kota tanpa kumuh) dari Wali kota Bandung. Rumah-rumah yang masuk ke dalam rencana Kotaku juga dalam upaya penggusuran.<\/p>\n<p>Kalau dipikir-pikir kok ya agak ngilu. Tiba-tiba saja kepikiran kalau perjuangan-perjuangan merekalah yang sesungguhnya romantis. Perjuangan untuk terus melawan dan merebut ruang hidup mereka kembali, perjuangan untuk terus hidup.<\/p>\n<p>Lalu kenapa hari ini masih banyak orang yang memuja dan terus meromantisir Jogja? Padahal dari segi UMR saja tiap 1 Mei sudah pasti ada protes dari buruh dan mahasiswa, utamanya anak-anak UIN. Harga kosan yang saya pikir lebih murah dari Bandung, ya minimal dari sekitaran kampus saya dulu, ternyata sama saja. Berkisar di antara 500-600 ribu rupiah.<\/p>\n<p>Mari coba kita hitung UMR Jogja cukup buat apa saja? Untuk Upah Minimum Provinsi (UMP) DIY sekitar Rp. 1.704.608 angka paling rendah jika dibandingkan UMK DIY yang lain. Nah UMK Kota Jogja sendiri Rp. 2.004.000.<\/p>\n<p>Taruhlah 500 ribu untuk bayar kosan, untuk makan perhari 20 ribu, itu pun kalau masak nasi sendiri. 20 ribu x 30 saja sudah 600 ribu. Belum lagi berasnya 1 kilo itu 10-13 ribu, biasanya yang harga 10 ribu berasnya agak kecoklatan. Jadi ambil tengahnya, 12 ribu lah. Satu kilo untuk diri sendiri bisa bertahan 5 hari, bergantung banyaknya konsumsi, kalau satu porsi tidak cukup satu centong, tiga hari juga sudah habis. Kalau dihitung kira kira sebulan 6 kilo. 6 kilo x 12 ribu hasilnya 78 ribu.<\/p>\n<p>Itu baru kebutuhan pokok, belum kalau peralatan mandi habis, sabun, pasta gigi, deterjen, pewangi, pengharum ruangan, shampoo, parfum, facial foam, pelembab, cutton bad ya sekitar 200 ribu lah ya. Jajanan, kalau suatu waktu pengen ngemil, rokok, kalau perempuan butuh pembalut. nongkrong sama temennya, apa iya masih bisa nabung? Terus ambil KPR? Membangun keluarga yang harmonis dan punya rumah yang hangat dengan hanya UMR Jogja kok rasanya mustahil ya :(.<\/p>\n<p>Sederhananya, dari pengeluaran di atas seperti ini,<br \/>\nBayar kosan: 500 ribu<br \/>\nMakan harian: 600 ribu<br \/>\nBeras: 78 ribu<br \/>\nAir galon: 12 ribu ( sekali isi 6 ribu, satu bulan 2 galon cukup)<br \/>\nAlat mandi: 200 ribu<br \/>\njajan ke Indomaret atau Alfamart: 200 ribu (sebulan)<br \/>\nNongkrong: 200 ribu (Rokok, kopi, french fries, gorengan di kali sebulan)<br \/>\nBBM: 50 ribu<br \/>\nRokok: 88 ribu (perbungkus 22 ribu x4, paket hemat sehari 2 batang, satu bungukus untuk satu minggu)<br \/>\nKuota internet: 100 ribu<\/p>\n<p>Total : Rp. 2.024.000, UMK Jogja 2.004.000, bayangkan Sodara itu malah mines. Padahal sudah saya coba hitung dengan anggaran yang hemat tapi layak heuheu.<\/p>\n<p>Selesai soal pendapatan di Jogja mari beralih ke kasus intoleransi di Jogjakarta. Mengutip buku &#8220;Krisis Keistimewaan&#8221; yang dipublikasikan oleh CRCS UGM sepanjang tahun 2016 ada 13 kejadian kekerasan bernuansa identitas di Jogjakarta. Mulai dari pembubaran diskusi, penghentian paksa ibadah sampai klitih. Lah nggak ngeri gimana? Keistimewaan Jogja seakan luntur oleh sikap intoleransi yang dilakukan orang-orang tertentu. Jogja berhati nyaman menjadi Jogja mencekam.<\/p>\n<p>Yang tidak habis saya pikir kepada temen temen saya yang membayangkan Jogja, teduh, rindang, nyaman, sejuk, halaaah halaah mon maap itu bukan Buah Batu tahun 90 Gaes. Jogja sama saja dengan Priok, Bekasi, Depok sama-sama panas dan macet. Apalagi kalau jam dan pulang kerja, <em>ripuh<\/em> Bray.<\/p>\n<p>Jogja, tak ubahnya Jakarta, sudah banyak mall-mall yang berdiri tegak, hotel-hotel yang sengaja dibangun untuk menampung para wisatawan. Sangkin maraknya pembangunan hotel dan apartemen warga sekitar kadang kesulitan air jika musim kemarau, kalau tidak percaya tonton saja video series di kanal Youtube Watchdoc yang judulnya &#8220;Belakang Hotel&#8221;.<\/p>\n<p>Saya mencoba menerka-nerka mengapa Jogja menjadi kota yang serat puisi, cinta, kenangan dan hal lain yang turut merayakan perasaan? Padahal teman-teman saya yang tinggal di Jogja merasa ingin cepat keluar dan mendapat penghidupan yang lebih layak, mereka yang di luar Jogja, menjadikan kota itu sebagai pelarian dan jeda untuk mengambil nafas dari hiruk-pikuk ibu kota. Jogja yang terbiasa menyambut pertemuan dan merelakan perpisahan. Tapi tetap saja, Jogja menyisakan banyak problematik yang tidak romantik.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-dari-sudut-pandang-mahasiswa-baru\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Jogja dari Sudut Pandang Mahasiswa Baru<\/a><\/strong> <strong>d<\/strong><strong>an tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/anisa-dewi-anggriaeni\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Anisa Dewi Anggriaeni<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jogja tidak seromantis itu ternyata. Dari UMR saja sebenarnya susah bisa bertahan hidup di Jogja, belum lagi di sini banyak kasus intoleransi dan klitih. <\/p>\n","protected":false},"author":562,"featured_media":35588,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2378,115,5193,6093,6094],"class_list":["post-35470","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-intoleransi","tag-jogja","tag-klitih","tag-romantisme-jogja","tag-umr-jogja"],"modified_by":"Nia Lavinia","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35470","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/562"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=35470"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35470\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35588"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=35470"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=35470"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=35470"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}