{"id":354637,"date":"2025-08-29T09:09:46","date_gmt":"2025-08-29T02:09:46","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=354637"},"modified":"2025-08-29T07:13:47","modified_gmt":"2025-08-29T00:13:47","slug":"dosa-penjual-ketoprak-jakarta-bikin-pembeli-nggak-nafsu-makan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dosa-penjual-ketoprak-jakarta-bikin-pembeli-nggak-nafsu-makan\/","title":{"rendered":"5 Dosa Penjual Ketoprak Jakarta yang Membuat Pembeli Tidak Nafsu Makan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketoprak Jakarta adalah makanan khas Betawi dengan bahan dasar ketupat dan bumbu kacang. Kuliner satu ini bisa dengan mudah ditemui di Jabodetabek dan populer di berbagai daerah seperti Jawa Barat seperti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/9-kuliner-cirebon-yang-layak-dikenal-lebih-banyak-orang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Cirebon<\/a>. Rasanya yang menggoda dan harganya yang terjangkau membuat ketoprak jadi makanan favorit banyak orang, khususnya jadi menu sarapan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedikit cerita soal ketoprak Jakarta. Saat pertama kali mendengar kuliner yang satu ini, banyak orang bertanya-tanya, ketoprak sejenis makanan atau sebuah pertunjukan seni? Sebab, ada juga seni pertunjukan drama rakyat tradisional Jawa bernama kethoprak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selidik punya selidik, memang ada keterkaitan antara keduanya. Konon katanya, nama makan ini berasal dari abang-abang pemain ketophrak. Dia bekerja sambilan jadi penjual makanan tahu hangat yang dipanggul. Para pembeli kemudian menjulukinya sebagai \u201cBang Ketoprak\u201d. Siapa sangka sebutan itu bertahan hingga sekarang sebagai nama makanan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di balik cerita asal-usul dan rasanya yang unik, makanan Betawi satu ini menyimpang sisi gelap. Penjualnya sering mempermainkan kelezatan ketoprak hingga membuat pelanggan kapok. Saya mengalaminya beberapa waktu lalu.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Tekstur bumbu kacang yang kasar, jadi sering nyangkut di gigi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bumbu kacang menjadi salah satu ciri khas ketoprak. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/10-kudapan-khas-betawi-yang-namanya-bikin-gagal-paham\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Makanan Betawi<\/a> satu ini terdiri dari ketupat atau lontong, tahu, telur, kerupuk, tauge, dan taburan bawang. Di atasnya disiram bumbu kacang yang sudah dihaluskan dengan tekstur sedikit kental. Rasanya yang cenderung manis sangat cocok dipadukan dengan isian ketoprak yang beragam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, bumbu kacang adalah kunci kuliner satu ini. Kalau kacang Kalau bumbu kacangnya apek dan teksturnya kasar, rasa ketoprak jadi kurang nendang.\u00a0 kacang yang masih kasar juga mengganggu pengalaman kuliner. Itu bisa nyangkut di sela-sela gigi. Sangat merepotkan, bikin badmood.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Penjual mengira semua pembelinya suka pedas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya persoalan ini banyak dialami ketika <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menormalisasi-jajanan-kaki-lima-yang-nggak-higienis-adalah-hal-goblok\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">jajan kaki lima<\/a>. Tingkat kepedasan penjual satu dengan penjual lain berbeda-beda. Terlebih untuk penjual ketoprak. Entah mengapa perbedaan rasa pedasnya bisa begitu berbeda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buruknya, penjual kadang lupa menanyakan pesanan pembeli pedas atau tidak. Dan, banyak penjual mengira semua orang suka makanan pedas. Alhasil seporsi ketoprak pedas lebih sering tersedia. Padahal, ada juga segelintir orang yang menghindari rasa satu ini agar perut tidak melilit.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, tolong bagi penjual ketoprak, sebelum membuatkan pesanan, konfirmasi dulu ke pembeli pesanannya pedas atau nggak pedas. Jangan diam bae. Soal cita rasa ini sensitif, jadi tolonglah lebih inisiatif.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Nggak semua orang suka bawang goreng<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepakat, <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Bawang_goreng\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bawang goreng<\/a> yang ditaburi di ketoprak menambah kriuk saat disantap. Tapi masalahnya nggak semua orang suka bawang goreng. Penjual ketoprak seringkali nggak menyadari hal ini. Akibatnya banyak orang enggan makan ketoprak lagi. Harusnya penjual ketoprak harus inisiatif dan peka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, bawang goreng bagi sebagian orang memiliki kesan aromatik yang kuat dan pedas sehingga mengganggu bau tubuh, makanya menghindari makanan yang ditaburi bawang goreng.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika saja penjual ketoprak bertanya terlebih dahulu ke pembelinya, bisa saja mereka nggak akan trauma untuk menyantap ketoprak.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Ketoprak dan kerupuk satu kesatuan, bukan dijual terpisah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namanya ketoprak itu pasti sudah satu kesatuan dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kasta-kerupuk-urut-dari-yang-paling-enak-sampai-yang-bikin-ngilu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kerupuk<\/a> yang gurih dan renyah. Apa jadinya kalau ada yang jualan ketoprak tapi dijual terpisah dengan kerupuknya? Ibarat makan mie instan tapi bumbunya harus dibeli tersendiri, nggak nyambung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terdengar aneh kan? Tapi, percaya atau tidak, ada lho penjual ketoprak yang menerapkan konsep semacam ini. Tipe penjual ketoprak yang semacam ini benar-benar red flag dan dihindari pembeli. Kalau nggak mau ngasih kerupuk yang banyak, seenggaknya ya dua atau tiga biji nggak masalah yang penting bukan dijual terpisah.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">#<\/span><b>5 Penyajian piring rotan bikin pengalaman menyantap ketoprak nggak nyaman<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Umumnya ketoprak itu disajikan dalam porsi yang besar karena banyaknya topping dan jenis bahan yang dipadukan. Itu mengapa, biar nggak gampang belepotan, piring keramik yang kuat dan kokoh seharusnya digunakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, nggak sedikit juga penjual ketoprak yang punya inisiatif dan ogah ribet, cuci piring, pakai piring rotan yang diberi alas kertas minyak atau daun pisang. Pastinya ini mempengaruhi porsi yang disajikan, karena piring rotan cenderung lemas dan nggak kokoh. Kalau sudah begini, pasti pembeli merasa kurang puas. Jadi perlu diperhatikan juga piring yang digunakan untuk penyajian, biar pembeli nggak merasa nggak dihargai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas beberapa penjual ketoprak Jakarta yang bikin pembeli tidak nafsu makan. Sebaiknya para penjual memperbaikinya agar pelanggannya tidak kabur.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis : Dodik Suprayogi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor : Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-perbedaan-gado-gado-jogja-vs-jakarta-yang-bikin-kaget\/\"><i>4 Perbedaan Gado-gado Jogja dan Gado-gado Jakarta yang Bikin Lidah Orang Ibu Kota seperti Saya Kaget<\/i><\/a><i>.<\/i><\/strong><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penjual ketoprak Jakarta melakukan &#8220;dosa-dosa&#8221; yang membuat pelanggannya nggak nafsu makan untuk menyantapnya. <\/p>\n","protected":false},"author":2731,"featured_media":354647,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[529,12567,25606,25584,26210,29687,29686],"class_list":["post-354637","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-jakarta","tag-ketoprak","tag-ketoprak-jakarta","tag-kuliner-betawi","tag-kuliner-jakarta","tag-makanan-betawi","tag-makanan-jakarta"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/354637","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2731"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=354637"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/354637\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/354647"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=354637"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=354637"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=354637"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}