{"id":353802,"date":"2025-08-23T11:44:22","date_gmt":"2025-08-23T04:44:22","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=353802"},"modified":"2025-08-23T11:44:22","modified_gmt":"2025-08-23T04:44:22","slug":"tradisi-rewang-di-desa-gotong-royong-yang-kini-jadi-ajang-pamer","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tradisi-rewang-di-desa-gotong-royong-yang-kini-jadi-ajang-pamer\/","title":{"rendered":"Tradisi Rewang di Desa: Gotong Royong yang Kini Jadi Ajang Pamer"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di masyarakat Jawa, rewang adalah <a href=\"https:\/\/kumparan.com\/sejarah-dan-sosial\/sejarah-tradisi-rewang-dan-peranannya-dalam-gotong-royong-24lYMhZzTpJ\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">budaya luhur<\/a>. Sebuah tradisi gotong royong yang mengakar dalam kehidupan masyarakat desa. Biasanya dilakukan ketika ada hajat besar seperti pernikahan, khitanan, atau hajatan lain yang membuat tuan rumah kewalahan jika dikerjakan sendirian. Secara konsep, rewang itu indah. Tapi, seperti banyak hal di negeri ini, konsep sering kali tak berjalan sebagaimana teori.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab di balik semangat kebersamaan itu, terselip sesuatu yang&#8230; berkilau. Bukan metafora kebahagiaan, tapi kilau literal: perhiasan emas yang menempel dari ujung telinga sampai ujung jari.<\/span><\/p>\n<h2><b>Rewang: dapur bergoyang, gelang berbunyi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pagi itu, saya datang ke rumah tetangga yang sedang punya hajatan. Begitu masuk dapur, aroma bawang goreng menyambut, disusul suara panci beradu. Tapi bukan itu yang mencuri perhatian saya. Pandangan saya langsung terpaku pada gelang-gelang besar yang bergemerincing di pergelangan tangan salah satu ibu-ibu. Setiap kali ia mengaduk opor ayam, bunyinya seperti musik latar sinetron kolosal: cling-cling-cling.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan hanya gelang. Ada kalung tebal, anting bulat besar, bahkan cincin bertumpuk di setiap jari. Seolah-olah, kalau emas ini dijual, bisa cukup untuk membiayai kuliah anak sampai lulus S2\u2014di luar negeri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin ada yang bilang, \u201cAh, itu cuma kebiasaan. Namanya juga ibu-ibu.\u201d Tapi saya mulai curiga, jangan-jangan dapur rewang ini bukan sekadar tempat mengiris bawang, tapi juga catwalk untuk memamerkan investasi logam mulia.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dari gotong royong ke panggung ria<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Zaman dulu, rewang identik dengan baju sederhana dan kerja ikhlas. Ibu-ibu datang dengan pakaian kebaya seadanya, tangan belepotan bumbu dapur, rambut dicepol asal. Fokusnya jelas: membantu. Tapi, sebagian datang dengan dandanan seperti mau kondangan, bukan mau masak. Bedak tebal, lipstik merah menyala, bahkan ada yang kukunya baru saja dipasangi nail art.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya membayangkan, jika dulu nenek moyang kita melihat, mungkin mereka akan mengernyit sambil berkata, \u201cLho, ini rewang apa arisan emas?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fenomena ini membuat saya bertanya-tanya: apakah semangat gotong royong kita masih murni, atau sudah bercampur dengan hasrat tak terucap untuk menunjukkan siapa yang punya perhiasan paling banyak?<\/span><\/p>\n<h2><b>Pamer yang tidak pernah mengaku pamer<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ditanya langsung, hampir semua akan menyangkal. \u201cAh, saya cuma pakai biasa, kok.\u201d Tapi kalau dilihat dari sudut tertentu, kilau kalungnya bisa memantulkan cahaya sampai menyilaukan mata orang yang sedang mengiris bawang. Bahkan ada yang sengaja memegang centong tinggi-tinggi, agar gelangnya terlihat jelas oleh semua orang di ruangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pamer yang paling elegan memang bukan pamer terang-terangan, tapi pamer sambil pura-pura tidak pamer. Itulah level tertinggi flexing dalam budaya rewang. Semua akan menganggap itu \u201cwajar\u201d, padahal pesan bawah sadarnya jelas: \u201cLihat, tabungan saya bukan di bank, tapi di tubuh saya.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Ekonomi berjalan, sindiran pun berlanjut<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mau dibela, sebenarnya ini bagus untuk ekonomi. Tradisi pamer perhiasan di rewang menjaga industri emas tetap hidup. Tukang emas di pasar jadi kebanjiran order, perajin perhiasan terus bekerja, dan penjual kosmetik tersenyum lebar. Secara makroekonomi, kita bisa menyebut ini \u201cstimulus ekonomi berbasis gengsi.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun di sisi sosial, ada yang menggelitik. Mereka yang tidak punya banyak emas bisa merasa minder. Mau rewang, tapi takut terlihat \u201ckurang berada\u201d karena tidak ada yang bisa dibunyikan di pergelangan tangan. Akhirnya, rewang yang seharusnya jadi ajang persaudaraan malah bisa berubah jadi kompetisi tak resmi dalam hal kilauan tubuh.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kilau yang mengaburkan esensi rewang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak menolak emas, apalagi budaya rewang. Dua-duanya sama-sama penting: emas untuk jaga-jaga masa depan, rewang untuk jaga-jaga hubungan sosial. Tapi kalau dua hal ini bertabrakan, esensi gotong royong bisa terkikis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rewang yang seharusnya jadi sarana mempererat tali silaturahmi berubah menjadi panggung mode. Fokusnya bergeser dari \u201cbagaimana membantu\u201d menjadi \u201cbagaimana tampil sewah mungkin\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya punya usulan setengah guyon: bagaimana kalau setiap kali rewang, semua perhiasan harus dilepas dulu sebelum masuk dapur? Biar yang dinilai benar-benar keterampilan memasak, bukan kekuatan finansial. Atau kalau mau lebih kreatif, bikin \u201cseragam rewang\u201d khusus: kaos polos, celana kain, dan celemek. Sederhana, nyaman, dan egaliter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau itu dilakukan, kita bisa melihat siapa yang memang datang untuk membantu, dan siapa yang sebenarnya lebih niat pamer. Toh, kalau niatnya silaturahmi, tanpa perhiasan pun tetap bisa bersinar\u2014bukan karena kilau emas, tapi karena tulusnya hati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, rewang tetaplah bagian dari identitas budaya Jawa. Ia lahir dari semangat gotong royong, bukan dari gengsi. Tapi, manusia modern memang pintar menggabungkan dua hal yang tak seharusnya dicampur: kerja bakti dan pamer kekayaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dibiarkan, jangan-jangan nanti rewang berubah format jadi \u201cFashion Show Dapur Hajatan.\u201d Juri bukan lagi menilai rasa masakan, tapi menilai bling-bling di tangan para juru masak dadakan. Dan entah kenapa, saya tidak kaget kalau itu benar-benar terjadi.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Budi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tradisi-rewang-dan-nasib-orang-orang-di-balik-megahnya-pesta-pernikahan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tradisi Rewang dan Nasib Orang-orang di Balik Megahnya Pesta Pernikahan<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\" style=\"text-align: left;\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jangan-jangan nanti rewang berubah jadi \u201cFashion Show Dapur Hajatan\u201d. Juri bukan lagi menilai rasa masakan, tapi bling-bling di tangan.<\/p>\n","protected":false},"author":1041,"featured_media":300202,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[29608,2895,26507,29607,29606,9875],"class_list":["post-353802","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-budaya-flexing","tag-budaya-jawa","tag-budaya-rewang","tag-gelang-emas","tag-kalung-emas","tag-rewang"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/353802","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1041"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=353802"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/353802\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/300202"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=353802"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=353802"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=353802"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}