{"id":353477,"date":"2025-08-20T14:46:39","date_gmt":"2025-08-20T07:46:39","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=353477"},"modified":"2025-08-20T14:46:39","modified_gmt":"2025-08-20T07:46:39","slug":"penumpang-trans-jogja-bertahan-karena-tidak-punya-pilihan-lain","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/penumpang-trans-jogja-bertahan-karena-tidak-punya-pilihan-lain\/","title":{"rendered":"Malangnya Penumpang Trans Jogja, Bertahan karena Tidak Punya Pilihan Lain"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kekurangan Trans Jogja banyak, tapi warga tidak punya pilihan transportasi lain di Kota Pelajar ini.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Transportasi umum merupakan infrastruktur yang sangat krusial dalam sebuah kota. Ia setara dengan layanan kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit. Apalagi, jika mobilitas kota tersebut sangat hectic, seperti Jakarta dan Jogja. Maka sewajarnya pemerintah membuat jalan kemudahan bagi warganya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang Jakarta, saya terbiasa menggunakan transportasi umum untuk mobilitas sehari-hari. Dibanding daerah lain, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">konon katanya Jakarta punya transportasi publik paling mending di Indonesia. Orang Jakarta jadi terbiasa naik kendaraan umum untuk sekolah, kerja, atau sekadar jalan-jalan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama di Jakarta saya senang-senang saja naik transportasi umum, terlebih <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/transjakarta-bikin-trauma-sopir-buta-arah-dan-jadi-tahanan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Transjakarta<\/a>. Jumlah armada yang banyak, tak membuat penumpang membuang-buang waktu. Terlebih bus menjangkau daerah yang cukup luas.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau soal biaya, jangan tanya, sudah pasti oke. Hanya saja, penyakit macet agaknya memang sulit disembuhkan oleh pemkot Jakarta. Dan, karena inilah transportasi kereta seperti KRL, MRT, dan kini LRT menjadi pilihan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Awal menjajal Trans Jogja<\/b><\/h2>\n<p>Ketika pindah ke Jogja 7 tahun silam, <span style=\"font-weight: 400;\">saya bawa kebiasaan naik transportasi umum di tempat tinggal baru ini. Saya pikir Jogja akan seperti Jakarta. Ternyata saya salah. Walau namanya mirip, ternyata ada perbedaan yang signifikan antara TransJogja dan Transjakarta.<\/span><\/p>\n<p>Asal tahu saja, dahulu saat awal pindah ke Jogja, saat masih<span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Madrasah_aliyah\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Aliyah<\/a> (pendidikan setara SMA yang dikelola oleh Kementerian Agama), nyaris tiap Jumat saya selalu pergi jalan-jalan. Saya menggunakan Trans Jogja untuk mengelillingi kota karena harganya yang ramah di kantong. Di sisi lain, di Jogja memang tidak ada angkot dan kereta.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebiasaan menggunakan Trans Jogja berhenti sementara saat saya lulus Aliyah dan masuk dunia kuliah. Selama kuliah, saya kebetulan memiliki banyak teman yang biasa saya tebengi hingga depan kampus. Jadi tak perlu menggunakan trans untuk ke kampus. Sebuah nasib baik.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pelanggan bukan berarti penikmat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang saya sudah lulus kuliah. Tidak ada lagi kawan yang biasa ditebengi. Saya kembali rutin menggunakan transportasi satu ini untuk pulang pergi kerja. Mau tidak mau saya kembali menjadi pengguna Trans Jogja lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jarak tempat saya tinggal dengan kantor cukup jauh. Sejauh 19 kilometer atau setara dengan 1 jam perjalanan normal. Eits, ini kalau ditempuh pakai motor ya. Lain ceritanya kalau ditempuh menggunakan Trans Jogja. Biasanya, saya menghabiskan satu setengah jam, atau bahkan pernah sampai 2 jam perjalanan. Dua kali lipatnya dari waktu tempuh perjalanan menggunakan sepeda motor.<\/span><\/p>\n<p>Ironisnya, hampir 7 tahun berlalu, armada Trans Jogja yang saya tumpangi saat ini tidak beda jauh dengan pertama kali saya sampai di Jogja. H<span style=\"font-weight: 400;\">anya sistem yang kini sudah melayani pembayaran digital. Lainnya? Sama saja. Lebih buruk malah karena waktu tunggu yang samakin lama di beberapa rute.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai pendatang jujur saja saya resah. Tujuh tahun adalah waktu yang cukup untuk membuat perubahan yang signifikan. Namun, kesempatan itu tidak digunakan oleh Trans Jogja. Transportasi publik yang satu ini semakin tertinggal dengan Transjakarta di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/jakarta-surganya-transportasi-publik-motor-pribadi-jual-aja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jakarta<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, ada baiknya, dan memang patutnya, pemerintah Kota Jogja tak hanya sibuk mengurusi budaya. Memang, daya tarik Jogja ada di budayanya. Tapi kan transportasi umum juga tak kalah penting dari budaya. Lagipula, transportasi umum yang baik tak hanya berkontribusi mengurangi kemacetan, tapi juga dapat menyedot wisatawan lebih banyak.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sederet kekurangan dan solusinya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika tidak bisa mengimbangi Jakarta yang memiliki ragam transportasi umum, setidaknya keresahan beserta solusi saya berikut ini bisa jadi pertimbangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejauh pengalaman saya, jarak antar titik pemberhentian masih terhitung jauh untuk pejalan kaki. Setiap harinya, saya perlu menempuh jarak 700 meter dari tempat tinggal saya ke titik terdekat pemberhentian bus. Selayaknya, ada penambahan titik di setiap penjuru kota.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi, rata-rata waktu tunggu bus sangatlah lama dan tak menentu. Persis menunggu kepastian doi. Kalau saja saya tak memiliki <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/menjadi-pertapa-dari-geladak-bus-trans-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kecerdasan spiritual<\/a>, boleh jadi saya sudah lama depresi menghadapi keresahan ini. Sialnya, saya pernah membuang waktu setengah jam hanya untuk menunggu bus datang. Seharusnya, pengelola Trans Jogja bisa bekerja sama entah dengan swasta atau pihak lain untuk penambahan armada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau soal sopir yang ugal-ugalan, sepertinya sudah menjadi keluhan klasik. Semua penumpang bisa merasakan. Malah, saking ugal-ugalan, saya pernah nyaris berpelukan dengan penumpang lain ketika bus bermanuver. Untung saja saat itu terhalang oleh ransel yang sengaja saya taruh depan. Kalau tidak? Entah bagaimana ending-nya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, tak jarang saya mendapati bus yang kerangkanya sudah aus. Bagian pintunya sudah berkarat dan bolong. Pendinginnya juga tidak bekerja maksimal. Sepertinya pengelola Trans Jogja perlu banyak perbaikan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Alasan saya bertahan menggunakan Trans Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak lain dan tak bukan, alasan utama saya masih bertahan menggunakan Trans Jogja adalah biayanya yang ramah kantong. Meskipun lambat, Trans Jogja menghemat biaya pengeluaran transportasi saya hingga 70 persen dibanding <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-motor-ojek-online-paling-nggak-nyaman-bagi-penumpang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ojek online<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adapun alasan lainnya, ada di jarak tempat tinggal dengan kantor yang cukup jauh. Mengingat jadwal kegiatan saya yang padat, selama dan sejauh itu saya bisa memanfaatkan waktu untuk istirahat (tidur) yang sangat kurang itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, kalau tidak ngantuk, saya jadi punya banyak waktu untuk membaca buku. Kesempatan yang belakangan jarang saya temukan jika tidak sedang naik bus. Sesekali saya memilih menikmati pemandangan hilir mudik jalanan Kota Jogja (kalau terpaksa tak kebagian kursi dan harus berdiri).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, itulah yang setidaknya membuat saya bertahan menggunakan Trans Jogja dengan sederet kekurangannya. Seandainya ada pilihan transportai publik lain yang bisa memangkas waktu dan lebih nyaman, jelas saya akan pertimbangkan hal itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ifana Dewi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/stiker-uii-di-trans-jogja-bikin-kaget-dan-prihatin\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Stiker UII di Trans Jogja Bikin Kaget dan Prihatin Sekaligus<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penumpang bertahan naik Trans Jogja bukan karena kualitasnya, tapi karena tidak ada pilihan tarnsportasi publik lain di Jogja. <\/p>\n","protected":false},"author":3044,"featured_media":353481,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[27265,115,8416,1623,29571],"class_list":["post-353477","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bus-jogja","tag-jogja","tag-trans-jogja","tag-transportasi-publik","tag-transportasi-publik-jogja"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/353477","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3044"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=353477"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/353477\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/353481"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=353477"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=353477"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=353477"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}