{"id":353039,"date":"2025-08-17T12:05:56","date_gmt":"2025-08-17T05:05:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=353039"},"modified":"2025-08-17T12:05:56","modified_gmt":"2025-08-17T05:05:56","slug":"untuk-mahasiswa-kkn-stop-ngatur-hidup-orang-desa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/untuk-mahasiswa-kkn-stop-ngatur-hidup-orang-desa\/","title":{"rendered":"Untuk Mahasiswa KKN, Stop Ngatur Hidup Orang Desa, Mereka Jauh Lebih Jago Bertahan Hidup ketimbang Kalian-kalian yang Mengaku Pahlawan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu hal yang dari dulu bikin saya geleng-geleng kepala, orang kota yang dalam hal ini mahasiswa KKN, merasa paling ngerti cara hidup orang desa. Bawaannya kayak superhero\u2014turun dari kendaraan, pakai kacamata item, bawa proposal tebal, lalu dengan bangga berkata, \u201cKami datang untuk menyelamatkan kalian, wahai warga desa.\u201d Padahal, yang mereka sebut \u201cdesa tertinggal\u201d itu kadang lebih mandiri dan lebih jago survival daripada anak kota yang tiap pagi bingung sarapan apa selain pesan online.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bukan sedang anti orang kota atau mahasiswa KKN. Saya juga pernah jadi mahasiswa yang, kalau musim liburan, ikut ngerasain gegap gempita cerita kawan-kawan yang mau \u201cmengabdi ke masyarakat.\u201d Cuma, jujur saja, sering kali saya geli. Apalagi kalau mendengar proker andalan mereka bikin plang nama jalan, pasang papan penunjuk arah kampung, atau bantu lomba balap karung pas 17 Agustus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaannya, siapa sih sebenarnya yang butuh plang itu? Warga desa yang sudah hafal jalan ke sawah sejak masih bisa merangkak? Atau justru mahasiswa KKN itu sendiri, supaya tidak nyasar kalau mau ke rumah Pak RT?<\/span><\/p>\n<h2><b>Orang desa tidak butuh diselamatkan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebanyakan mahasiswa KKN punya imajinasi yang aneh soal desa. Mereka pikir, begitu masuk wilayah pelosok, warga desa pasti hidup menderita, bingung cari makan, dan menanti bala bantuan datang. Padahal, faktanya orang desa itu jauh lebih jago bertahan hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan saja orang desa bisa makan tiap hari tanpa perlu mikirin saldo rekening. Mau sayur tinggal metik di kebun, mau lauk tinggal mancing di kali, mau cemilan tinggal ngambil pisang atau singkong di pekarangan. Bandingkan dengan anak kos di kota besar, yang kalau uang bulanan telat ditransfer, bisa jadi sahabat akrab Indomie selama seminggu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, ketika ada mahasiswa KKN datang dan bilang, \u201cKami akan mengajari kalian cara bertahan hidup,\u201d saya cuma bisa nyengir. Yang lebih butuh pelajaran survival justru kalian yang kalau listrik padam sejam saja sudah bingung cara hidup.<\/span><\/p>\n<h2><b>KKN dan proker yang kadang absurd<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak anti KKN. Program itu bagus, niatnya mulia. Tapi sering kali, realisasinya lebih mirip studi wisata ketimbang pengabdian. Ada yang datang dengan rombongan besar, bikin basecamp, lalu bikin proker yang sebenarnya tidak terlalu krusial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh klasik seperti bikin papan penunjuk arah. Aduh, kenapa ya? Emangnya warga desa nggak tahu jalan ke rumah tetangganya sendiri? Atau contoh lain seperti acara lomba 17-an. Memang seru, tapi apakah tanpa mahasiswa KKN desa itu tidak bisa bikin lomba? Wong dari dulu orang desa selalu punya tradisi meriah kalau Agustusan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sering membayangkan kalau warga desa bisa ngomong blak-blakan ke mahasiswa KKN, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLe, nduk, kami ini sudah biasa hidup di sini. Kalau soal bikin lomba balap karung, nggak usah repot-repot ngajarin. Coba kalau bisa, tolong bikinkan akses ke pasar supaya gabah kami nggak dijual murah ke <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Rentenir\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tengkulak.<\/a> Nah, itu baru pengabdian.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, ya begitulah. Akhirnya mahasiswa KKN pulang dengan laporan tebal, foto-foto dokumentasi saat pasang plang jalan, lalu dapat nilai A. Warga desa? Tetap saja harus mikirin gimana harga panen nggak jatuh di pasaran.<\/span><\/p>\n<h2><b>Romantisisasi desa dan rasa \u201csuperior\u201d kota<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah utamanya ada pada cara pandang. Orang kota sering memandang desa dengan kacamata romantis sekaligus merendahkan. Romantis karena desa dianggap \u201calamiah, indah, damai, penuh keramahan.\u201d Merendahkan karena dianggap \u201cbutuh bantuan modernisasi, butuh bimbingan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, kenyataannya desa punya sistem sosial yang lebih rapi daripada yang dibayangkan. Di kampung saya, kalau ada orang sakit, tetangga langsung datang bawain makanan. Kalau ada yang panen, mereka saling bantu. Bandingkan dengan kompleks perumahan di kota, yang kadang nama tetangga sebelah pun tidak tahu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Survival sosial macam ini justru yang jarang dipunyai orang kota. Tapi, anehnya, justru orang kota yang datang seakan jadi guru kehidupan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bukan mau bilang mahasiswa KKN tidak boleh bikin acara 17-an atau plang jalan. Boleh saja, asal jangan merasa itu adalah satu-satunya bentuk \u201cpengabdian\u201d. Jangan merasa sudah menyelamatkan desa dengan papan triplek bertuliskan \u201cJl. Melati RT 03.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mau benar-benar mengabdi, coba ngobrol serius dengan warga. Cari tahu masalah mereka yang paling mendesak. Misalnya, akses pupuk yang susah, hasil panen yang ditekan tengkulak, atau anak-anak muda yang bingung setelah lulus SMA mau kerja apa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tugas mahasiswa bukan jadi pahlawan kesiangan, tapi jadi teman diskusi. Orang desa tidak butuh diselamatkan, mereka cuma butuh didengarkan.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Mahasiswa KKN stop ngatur orang desa!<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, stop lah orang kota ngatur-ngatur cara hidup orang desa. Apalagi cuma urusan survival. Karena kenyataannya, kalau dunia ini benar-benar hancur dan kembali ke zaman barter, orang desa akan tetap bisa hidup dengan kebunnya, sawahnya, ikannya. Sedangkan orang kota? Bisa jadi bingung cara nanam singkong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan buat mahasiswa KKN, jangan kecil hati. Teruslah turun ke desa, tapi dengan niat tulus bukan untuk menggurui, tapi untuk belajar bareng. Jangan cuma bawa plang jalan, tapi bawalah telinga yang siap mendengar. Karena kadang, pengabdian yang paling sederhana itu bukan pada papan kayu atau acara seremonial, tapi pada keberanian untuk menghargai pengetahuan lokal yang sudah ada.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Janu Wisnanto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/kkn-mending-dihapus-sekalian-kalau-isinya-cuma-drama\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">KKN Mending Dihapus Sekalian kalau Isinya Cuma Drama dan Programnya Gini-gini Aja<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mahasiswa KKN, teruslah turun ke desa, tapi dengan niat tulus bukan untuk menggurui, tapi untuk belajar bareng. <\/p>\n","protected":false},"author":2789,"featured_media":242512,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[29526,275,22677,29525],"class_list":["post-353039","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-desa-tertinggal","tag-kkn","tag-mahasiswa-kkn","tag-program-mahasiswa-kkn"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/353039","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2789"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=353039"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/353039\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/242512"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=353039"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=353039"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=353039"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}