{"id":352736,"date":"2025-08-15T13:54:50","date_gmt":"2025-08-15T06:54:50","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=352736"},"modified":"2025-08-15T13:54:50","modified_gmt":"2025-08-15T06:54:50","slug":"kenapa-30-menit-di-semarang-dibilang-jauh-tapi-di-jakarta-dibilang-deket","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-30-menit-di-semarang-dibilang-jauh-tapi-di-jakarta-dibilang-deket\/","title":{"rendered":"Kenapa 30 Menit di Semarang Dibilang Jauh, tapi di Jakarta Dibilang Deket"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai mahasiswa yang merantau ke Semarang, saya kaget pertama kali mendengar teman-teman bilang, \u201cLoh, 30 menit? Jauh banget, males ah.\u201d Padahal menurut saya, 30 menit itu bukan jarak yang mengerikan. Di tempat asal saya, Jakarta, waktu segitu malah sering dianggap dekat dan wajar untuk sekadar main atau nongkrong. Perbedaan cara pandang ini bikin saya mikir: kok bisa ya, jarak yang sama rasanya beda banget?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, pernah suatu kali saya mengajak teman-teman nongkrong di kafe yang menurut Google Maps cuma 12 kilometer dari kos. Reaksi mereka langsung seperti saya baru saja mengajak ekspedisi lintas provinsi. \u201cJauh, Bro. Mending sini-sini aja,\u201d kata mereka. Padahal kalau dihitung, perjalanan itu cuma butuh 30 menit lebih sedikit. Di tempat saya dulu, jarak segitu nggak bakal bikin orang mundur, paling cuma bikin nanya, \u201cLewat tol atau enggak?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari situ saya sadar, soal jarak dan waktu ternyata sangat dipengaruhi kebiasaan hidup di kota masing-masing. Di Semarang, jalanan relatif lancar dan semua terasa lebih ringkas, sehingga 30 menit berkendara memang dianggap cukup jauh. Sedangkan di kota besar yang lalu lintasnya padat, waktu segitu justru sering dianggap dekat bahkan menguntungkan. Jadi, ini bukan soal siapa yang benar atau salah, tapi bagaimana lingkungan membentuk persepsi kita tentang jauh dan dekat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jakarta: Jalan lebih banyak, waktu lebih panjang, beda dengan Semarang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau di Semarang, pilihan jalan dari titik A ke titik B biasanya bisa dihitung dengan jari, di Jakarta justru seperti memilih menu di warteg\u2014banyak pilihan, tapi ujung-ujungnya rasanya sama saja: tetap lama. Bedanya, di Jakarta kita bisa punya ilusi kendali. Mau lewat jalan besar? Macet. Mau lewat gang kecil? Macetnya lebih kecil, tapi deg-degan ketemu mobil dari arah berlawanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyaknya jalan di Jakarta membuat orang terbiasa memikirkan rute alternatif, bahkan sebelum berangkat. Ada sensasi \u201cgaming\u201d tersendiri saat mencari jalan tercepat lewat Google Maps, lengkap dengan strategi menghindari titik merah. Perjalanan 30 menit di Jakarta sering kali terasa \u201cdekat\u201d bukan karena jaraknya pendek, tapi karena itu sudah standar minimum dari sebuah perjalanan di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, persepsi 30 menit di Jakarta jadi beda kelas. Di Semarang, waktu segitu sudah cukup untuk menempuh perjalanan lintas kecamatan. Di Jakarta, 30 menit itu baru cukup untuk keluar dari kawasan tempat tinggal. Jadi wajar kalau teman-teman di Semarang menganggap 30 menit itu \u201cjauh,\u201d sementara warga Jakarta menganggapnya \u201cbaru mulai.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Macet: Teman sehari-hari warga Jakarta<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada satu hal yang membuat orang Jakarta dan sekitarnya punya standar \u201cdekat\u201d yang berbeda, jawabannya jelas: macet. Bukan macet biasa, tapi macet yang bisa membuat perjalanan lima kilometer memakan waktu satu jam penuh. Saking terbiasanya, orang Jakarta sampai bisa menebak durasi macet di jam tertentu, lengkap dengan titik-titik \u201crawan penumpukan\u201d seperti tukang parkir hafal slot kosong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Macet ini membuat persepsi waktu jadi melar. Perjalanan 30 menit di Jakarta itu ibarat \u201cbonus waktu\u201d karena biasanya butuh lebih lama. Jadi kalau ada rute yang cuma setengah jam, itu langsung dianggap rejeki nomplok. Wajar kalau mereka nggak keberatan berangkat sejauh itu, karena di standar mereka, itu masih kategori ringan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara di Semarang, macet yang bikin orang stres jarang terjadi. Kalau pun ada, biasanya hanya di jam sibuk dan itu pun tidak separah di Jakarta. Akibatnya, 30 menit berkendara di Semarang benar-benar berarti jarak yang lumayan jauh, bukan efek \u201ckecepatan siput\u201d karena lalu lintas. Dan di situlah letak perbedaan mindset: di Jakarta, waktu perjalanan sudah \u201cdi-mark up\u201d oleh macet; di Semarang, waktu perjalanan adalah waktu sebenarnya di jalan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mentalitas waktu: \u2018sedia payung\u2019 sebelum berangkat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan lain yang bikin standar \u201cjauh\u201d dan \u201cdekat\u201d di dua kota ini semakin kontras adalah cara warganya mempersiapkan perjalanan. Orang Jakarta sudah terbiasa menambahkan \u201cbiaya waktu\u201d dalam setiap agenda. Kalau janji ketemu jam tujuh malam, mereka bisa berangkat jam lima sore hanya untuk mengantisipasi macet, lampu merah yang kelewat lama, atau kejutan lain di jalan. Dalam pikiran mereka, berangkat terlalu cepat lebih aman ketimbang terjebak macet sambil panik lihat jam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepengalaman saya, di Semarang, strategi itu terdengar seperti <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Paranoia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">paranoia.<\/a> Di sini, orang bisa berangkat setengah jam sebelum janji dan tetap sampai tepat waktu\u2014bahkan kadang terlalu cepat sampai, lalu bingung mau ngapain sambil nunggu. Spontanitas lebih memungkinkan karena lalu lintas relatif ramah dan rutenya tidak sekompleks Jakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalau dipikir-pikir, perbedaan persepsi soal \u201c30 menit\u201d sebenarnya bukan sekadar soal jarak dan jalan, tapi soal mentalitas hidup. Jakarta mengajarkan warganya untuk selalu siap dengan skenario terburuk di jalan, sedangkan Semarang membuat warganya terbiasa menikmati kecepatan perjalanan. Mungkin itu sebabnya, bagi orang Semarang, 30 menit terasa seperti perjalanan jauh, sementara bagi orang Jakarta, itu hanyalah pemanasan.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Raihan Muhammad<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-kira-jakarta-lebih-panas-ternyata-semarang-masih-lebih-panas\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Belasan Tahun Tinggal di Semarang, Saya Kira Jakarta Lebih Panas Udaranya, Ternyata Semarang Masih Lebih Panas!<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagi orang Semarang, perjalanan 30 menit itu lama. Tapi, buat orang Jakarta, itu sepele dan dekat. Pertanyannya, kenapa?<\/p>\n","protected":false},"author":2215,"featured_media":325378,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[529,29500,2883,4652],"class_list":["post-352736","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jakarta","tag-jalan-di-semarang","tag-kemacetan-jakarta","tag-semarang"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/352736","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2215"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=352736"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/352736\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/325378"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=352736"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=352736"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=352736"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}