{"id":352324,"date":"2025-08-13T08:08:07","date_gmt":"2025-08-13T01:08:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=352324"},"modified":"2025-08-12T17:55:50","modified_gmt":"2025-08-12T10:55:50","slug":"dosa-penjual-bakwan-kawi-malang-yang-jarang-disadari-pembeli","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dosa-penjual-bakwan-kawi-malang-yang-jarang-disadari-pembeli\/","title":{"rendered":"4 Dosa Penjual Bakwan Kawi Malang yang Jarang Disadari Banyak Pembeli"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika mendengar nama bakwan Kawi Malang, ada satu bayangan yang terlintas di kepala. Sebuah camilan berupa gorengan yang terbuat dari campuran tepung dicampur berbagai macam sayuran. Saya nggak kepikiran jenis makanan lain. Namanya bakwan ya mirip bala-bala atau weci (heci) gitulah atau semacam <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bakwan-superindo-bakwan-terenak-yang-pernah-saya-makan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bakwan jagung<\/a> (dadar jagung) gitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata saya keliru. Di luar Malang, makanan ini ternyata makanan serupa bakso Malang yang isiannya macam-macam. Mulai dari pentol, tahu bakso, pangsit goreng, dan bakso goreng, hingga tetelan yang disiram kuah kaldu.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa, sebagai orang Malang, saya agak kaget dan sedikit nggak terima ketika tahu bakwan Kawi di daerah lain itu berupa bakso, bukan gorengan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman itu saya jumpai beberapa tahun lalu. Pada saat itu saya pertama kali menjajal Bakwan Kawi Malang Nathan di dekat rumah saudara saya di Jogja. Betapa kaget ketika mendapati semangkok berisi bakso, bukan bakwan. Makanya saya ada perasaan aneh ketika menyantapnya. Dan, buat saya sebagai orang Malang, saya merasa ada beberapa \u201cdosa\u201d yang dilakukan oleh para penjual bakwan Kawi Malang.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Menyebut bakso dengan sebutan bakwan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBakwan Kawi Malang itu ya sebenarnya bakso Malang, cuma kalau di luar Malang namanya beda aja.\u201d Iya, terus ngapain nggak disebut bakso Malang aja, sih? Maksudnya, ngapain harus sampai ganti nama, dan harus bikin bingung orang Malang seperti saya?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa karena harganya lebih murah? Apa karena isiannya lebih macam-macam? Atau karena kuahnya lebih bening? Nggak apa-apa, sebut aja bakso Malang nggak apa-apa kok.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Bilangnya bakwan Kawi khas Malang, tapi alasannya nggak kuat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari riset kecil-kecilan yang saya lakukan, banyak penjual bakwan Kawi yang mengatakan bahwa makanan ini asalnya dari Malang. Sayangnya, kesalahpahaman ini terlanjur dipercaya banyak orang, terutama orang-orang dari luar Malang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi orang asli Malang seperti saya, kata-kata itu jelas kurang tepat. Sebab, di Kota Bunga nggak ada yang namanya Bakwan Kawi. Seperti yang saya bilang di atas, bakwan ya gorengan mirip bala-bala, atau dadar jagung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa, nyambung dengan poin pertama, silakan saja sebut bakwan Kawi itu dari Malang. Dengan satu syarat, nama bakwan Kawi\u00a0 harus diganti dengan bakso. Itu baru benar.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Tidak menyediakan lontong<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cukup soal nama dan identitas, sekarang kita masuk ke elemen intinya, yaitu makanannya. Kalau kalian perhatikan, hampir semua penjual bakwan Kawi itu tidak menyediakan lontong sebagai pilihan karbohidrat. Padahal, lontong ini penting banget, apalagi dalam konteks semesta bakso Malang di mana bakwan Kawi berada di dalamnya. Kalian dapat dengan mudah menemukan lontong ketika makan bakso.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengapa lontong itu penting, ya karena bisa lebih kenyang. Apalagi harga seporsi makanan ini cenderung murah-meriah. Katakanlah seporsi makanan ini dipatok harga Rp12.000, plus lontong Rp3.000 dengan modal Rp15.000 saja kita bisa makan enak dan kenyang banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya nggak apa-apa juga sih, toh bagi orang luar Kota Bunga, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/kuliner\/sulit-menemukan-bakso-pakai-lontong-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bakso dan lontong<\/a> memang paduan yang masih asing. Tapi, percayalah, bakso (Bakwan Kawi) dan lontong itu paduan yang sempurna banget. Kalau nggak percaya, silakan coba sendiri.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Bakwan Kawi Malang tidak seharusnya memberikan pilihan saus sambal botolan\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika saya makan bakwan Kawi beberapa tahun lalu, rasanya memang enak, dan agak mirip dengan bakso Malang. Tapi, ada satu hal yang mengganjal. Iya, adanya saus sambal botolan di meja. Ini buat saya ganggu banget sebab <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saus-sambal-red-flag\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">saus sambal<\/a> botolan (mau apapun mereknya) nggak seharusnya ada di meja makanan yang nyatanya adalah bakso Malang di daerah aslinya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Panganan yang satu ini cocoknya dengan sambal, kecap, dan saus tomat saja. Nggak perlu saus sambal botolan. Saus sambal botolan itu merusak rasa, jadi nggak enak. Makanya, buat penjual Bakwan Kawi di manapun kalian berada, <a href=\"https:\/\/hellosehat.com\/nutrisi\/tips-makan-sehat\/merek-saus-sambal-yang-aman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">saus sambal botolan<\/a> dari berbagai merek itu mending disingkirkan saja ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah setidaknya 4 dosa penjual bakwan kawi yang kadang nggak disadari banyak orang. Sebenarnya ini dosa-dosa kecil aja, sih, dosa yang imbasnya nggak gimana-gimana. Cuma ya balik lagi, yang namanya dosa ya tetap dosa, nggak peduli sekecil apapun, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Iqbal AR<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bakmi-pak-pele-dihindari-warlok-jogja-karena-beberapa-alasan\/\"><b>4 Alasan Orang Jogja Malas Kulineran Bakmi Jawa Pak Pele yang Jadi Favorit Wisatawan.<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketika mendengar nama bakwan Kawi Malang, ada satu bayangan yang terlintas di kepala. Sebuah camilan berupa gorengan yang terbuat dari campuran tepung dicampur berbagai macam sayuran. Saya nggak kepikiran jenis makanan lain. Namanya bakwan ya mirip bala-bala atau weci (heci) gitulah atau semacam bakwan jagung (dadar jagung) gitu. Ternyata saya keliru. Di luar Malang, makanan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":75,"featured_media":352329,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[936,13853,10482,29435,29434,985],"class_list":["post-352324","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-bakso","tag-bakso-malang","tag-bakwan","tag-bakwan-kawi","tag-bakwan-kawi-malang","tag-malang"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/352324","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/75"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=352324"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/352324\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/352329"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=352324"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=352324"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=352324"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}