{"id":352276,"date":"2025-08-11T11:04:37","date_gmt":"2025-08-11T04:04:37","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=352276"},"modified":"2025-08-11T11:04:37","modified_gmt":"2025-08-11T04:04:37","slug":"keresahan-guru-ngaji-dituntut-sempurna-padahal-manusia-biasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/keresahan-guru-ngaji-dituntut-sempurna-padahal-manusia-biasa\/","title":{"rendered":"Keresahan Guru Ngaji: Profesi yang Menuntut Kesempurnaan padahal Kami Ini Manusia Biasa"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Agaknya, guru ngaji lebih pas disebut sebagai relawan ketimbang pekerja profesional.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">No debat. Guru ngaji adalah profesi mulia. Saking mulianya, sampai-sampai tak banyak generasi muda yang sanggup, apalagi mau menjalaninya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, guru ngaji ada banyak macamnya. Kalau di masyarakat, biasa disebut kiai kampung. Tugas mereka jauh melampaui sekadar mengajarkan membaca dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dilema-perempuan-ketika-menentukan-target-khataman-alquran-di-bulan-ramadan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">memahami kitab suci<\/a>. Lebih dari itu, mereka hadir di setiap lini. Sebagai panutan, konselor kehidupan, hingga penyelesai konflik tingkat tinggi.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Tak digaji negara, tapi bertanggung jawab atas moral anak bangsa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bicara soal gaji guru di Indonesia, memang tak ada hulunya. Terlebih bagi guru ngaji kampung. Mereka tak punya pendapatan tetap. Besar-kecilnya penghasilan, tergantung keikhlasan masyarakat atau seberapa sering diundang acara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Acara maulid (hari-hari besar), nujuh bulanan, perkawinan, bahkan kematian seseorang, menjadi \u201cladang rezeki\u201d. Biasanya, para guru ngaji atau kiai kampung diundang untuk turut memimpin doa dan pengajian. Dan dari situlah mereka mendapatkan penghasilan. Atau yang biasa disebut \u201csalam tempel\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dibanding guru ngaji kampung, nasib (sedikit) lebih baik pernah saya alami ketika mengajar<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0di madrasah diniyah seperti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/buku-turutan-legendaris-dan-variasi-buku-belajar-huruf-hijaiyah-dari-masa-ke-masa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">TPA<\/a>. Per bulan, guru TPA masih diberi gaji sesuai dengan beban kinerja. Meskipun masih sangat jauh di bawah standar layak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, katanya, guru ngaji adalah ujung tombak pembentuk karakter generasi masa depan. Tapi nyatanya, penghargaan yang mereka terima sering tak sebanding dengan peran mereka. Jauh dari kata layak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka tak heran kalau generasi muda enggan melirik profesi ini. Pasalnya, siapa sih yang mau menggantungkan hidupnya pada jumlah orang yang meninggal? Masa iya mengharap pendapatan dari duka kematian?? Kan nggak\u2026.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hanya jadi selingan, bukan profesi utama<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jarang sekali saya menemukan orang yang hanya berprofesi sebagai guru ngaji. Kebanyakan, mereka punya pekerjaan utama lain. Misalnya saja, kakek saya. Profesi sungguhannya adalah petani. Kakek merangkap menjadi guru ngaji sebab semasa mudanya dia habiskan mendalami kitab suci dan <a href=\"https:\/\/kompaspedia.kompas.id\/baca\/paparan-topik\/guru-mengaji-menumbuhkan-literasi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ingin mengabdi<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di luar mengajar, kami harus mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Entah menjadi petani, pedagang, atau merangkap profesi lain. Akibatnya, waktu dan fokus mengajar terpecah. Seringnya, dinomorduakan jika waktunya bertabrakan dengan hal lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, dari sini terlihat jelas ada sebuah keresahan. Ada dilema yang tak pernah terucap dari lisan mulia mereka. Ingin totalitas dalam mengabdi, tapi realitanya menuntut mereka mencari penghasilan tambahan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Stigma negatif<\/b><strong> guru ngaji<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah tak punya gaji tetap, beban moral berat, ditambah pula segelintir oknum guru ngaji yang mencoreng nama baik profesi ini. Bukannya bangga karena berprofesi mulia, jatuhnya malah jadi malu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau nggak percaya, coba saja kalian ketik \u201cguru ngaji\u201d di pencarian Google. Pasti yang muncul di deretan teratas pencarian adalah semua hal yang menjijikan. Guru ngaji mesum, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/guru-ngaji-cabul-bikin-guru-ngaji-lain-dicurigai-dan-dibully\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cabul<\/a>, selingkuh, sampai \u201cguru ngaji hot\u201d. Sungguh membuat malu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur, ini salah satu yang membuat saya enggan mengaku sebagai guru ngaji di luar lingkup pesantren. Bukan karena saya pelaku atau segelintir oknum tersebut. Hal itu lantaran saya malu dan merasa terpojok. Takut sekali dicurigai. Sungguh saya tak pernah melakukan itu, tapi tetap saja saya kebagian malu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dituntut sempurna, padahal cuma manusia biasa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pandangan khalayak terhadap guru ngaji tak tanggung-tanggung. Di mata sebagian orang, mereka adalah orang suci. Hamba kesayangan Tuhan. Manusia sempurna, tanpa cacat, tanpa cela.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ekspektasi liar ini justru membuat kami menanggung beban dan tekanan besar. Gerak gerik mereka selalu disorot, hingga membuat langkah mereka terasa sempit. Salah ucap sedikit, langsung dicap salah. Mengambil keputusan pun penuh rasa takut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, belum lama ini, seorang guru ngaji dipidana oleh wali murid dan didenda Rp25 juta hanya karena mendidik dengan cara yang dianggap \u201cterlalu keras\u201d. Sungguh nasib.<\/span><\/p>\n<h2><b>Banyak teman jaga jarak\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ini, pernah saya alami sendiri. Saya merasa terisolasi dari lingkar pertemanan. Jalinan pertemanan yang saya rasakan tak lagi sama dan natural setiap saya pulang dari pondok pesantren. Ada hal yang berbeda. Terutama pada kawan-kawan lama saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat nongkrong, mereka menunjukkan gelagat tak leluasa. Bicaranya mendadak jadi santun. Tindak tanduknya mencerminkan kesahajaan yang tidak natural. Terlihat sangat dibuat-buat. Seolah takut bersikap bebas dan apa adanya. Entah karena ingin menghargai, atau karena khawatir saya akan menilai dan menghakimi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, seharusnya biasa saja. Akibatnya, saya kehilangan kedekatan sosial yang dulu terasa hangat dan natural. Bagaimana? Malang bukan? Sudahlah tak punya pendapatan tetap, harus mencari profesi tambahan, belum lagi dituntut sempurna, dan tak jarang malah dicurigai.<\/span><\/p>\n<h2><b>Harapan kedepannya untuk profesi guru ngaji<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teruntuk pemerintah, tentunya saya berharap guru ngaji ini diberi perhatian khusus. Diberi hak selayaknya guru sekolah pada umumnya, misalnya. Atau, dukungan dana yang layak, dapat pelatihan, hingga perlindungan hukum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teruntuk masyarakat, kami adalah manusia biasa pada umumnya. Bisa benar, bisa salah. Mereka makan, minum, juga bersosial. Jadi, berhentilah menganggap mereka malaikat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Juga untuk kalian, para segelintir oknum (yang termasuk dalam pencarian teratas Google), berhentilah melakukan hal bodoh dan memalukan. Beban kami sudah berat. Janganlah ditambah dengan perbuatan biadab kalian.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekian, terima kasih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ifana Dewi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/uneg-uneg-dari-guru-ngaji-privat-anak-kami-butuh-gaji-kami-cair\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Uneg-uneg dari Guru Ngaji Privat Anak, Kami Butuh Gaji Kami Cair<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagai guru ngaji, saya resah. Banyak yang menuntut kami selalu sempurna. Padahal, kami ini manusia biasa yang hanya ingin mengabdi.<\/p>\n","protected":false},"author":3044,"featured_media":352278,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[16864],"tags":[29425,29123,29122,29423,29424,29426],"class_list":["post-352276","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-profesi","tag-gaji-guru-ngaji","tag-guru-ngaji","tag-guru-ngaji-cabul","tag-guru-ngaji-hot","tag-profesi-guru-ngaji","tag-stigma-guru-ngaji"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/352276","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3044"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=352276"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/352276\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/352278"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=352276"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=352276"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=352276"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}