{"id":352086,"date":"2025-08-09T15:05:28","date_gmt":"2025-08-09T08:05:28","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=352086"},"modified":"2025-08-09T15:05:28","modified_gmt":"2025-08-09T08:05:28","slug":"naik-kereta-dhoho-penataran-punggung-tersiksa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/naik-kereta-dhoho-penataran-punggung-tersiksa\/","title":{"rendered":"Naik Kereta Dhoho Penataran dari Surabaya ke Kediri: Mata Dimanjakan, tapi Punggung Tersiksa"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat naik Kereta Dhoho Penataran dari Surabaya ke Kediri, saya merasa ini bukan cuma perkara bepergian murah meriah. Ini adalah perjalanan spiritual, fisik, dan mental. Dengan harga tiket hanya Rp15 ribu, kamu tak cuma berpindah kota, tapi juga masuk ke ruang kontemplasi panjang \u2014 sambil duduk tegak dan berusaha tak saling menatap dengan orang asing di depanmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menyebut ini sebagai seni bertahan hidup. Karena kalau kamu nggak punya mental baja, punggung fleksibel, dan pikiran yang bisa diajak kompromi, bisa jadi kamu turun di Stasiun Kediri bukan dengan senyum, tapi dengan pinggang keram dan muka muram.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kursi 90 derajat dan tatapan orang asing di Kereta Dhoho Penataran<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gerbong Kereta Dhoho Penataran punya formasi duduk yang agak&#8230; antik. Bangkunya saling berhadapan, tanpa sandaran kepala, dan didesain dengan kemiringan nyaris nol derajat. Tegak lurus. Posisi ideal untuk orang yang ingin menjalani hidup secara disiplin, atau yang punya impian jadi patung selamat datang di perempatan kota.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisinya makin menarik karena kamu akan duduk tepat di hadapan orang asing. Saling bertatapan, saling tebak usia, saling jaga jarak mata. Kalau kamu duduk berhadapan dengan ibu-ibu, biasanya aman, beliau akan mengobrol dengan tenang, sambil buka kerupuk dari plastik kresek. Tapi kalau duduknya sama sesama anak muda, kamu harus pintar mengelola mata: tatap terlalu lama, nanti dikira modus. Tatap sebentar-sebentar, dikira nggak sopan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang mengisi waktu dengan menunduk, pura-pura baca WhatsApp yang nggak dibalas, atau menatap jendela yang kadang lebih menawarkan bayangan wajah sendiri ketimbang pemandangan.<\/span><\/p>\n<h2><b>AC split: siapa cepat, dia beku<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu berharap kenyamanan dari pendingin udara, maaf, kamu salah kereta. Kereta Dhoho Penataran memang sudah dilengkapi AC, tapi jenisnya split, menempel di sisi atas gerbong. Iya, kayak AC di ruang tamu rumah kos. Akibatnya, hembusan udara dingin cuma terasa di sekitar AC itu saja. Yang duduk tepat di bawahnya bisa menggigil, yang jauh darinya malah berkeringat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yang waktu itu duduk pas di bawah AC-nya. Luar biasa. Rasanya kayak ditinggal mantan: dingin, menusuk, dan tak bisa dihindari. Tapi ketika saya pindah ke kursi lain karena kedinginan, saya justru disambut hawa tropis. Di satu gerbong yang sama, saya bisa merasakan dua musim: dingin seperti hati gebetan, dan panas seperti isi kolom komentar berita politik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari konsep ini saya diajarkan bahwa keadilan kadang hanya mitos. Bahkan di ruang publik ber-AC, ketimpangan itu nyata adanya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ketika kereta ngalah: filosofi menepi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena ini kereta lokal menghubungkan beberapa daerah di Jatim, Kereta Dhoho Penataran punya satu prinsip hidup: kalau ada yang lebih penting lewat, ya ngalah dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap kali papasan dengan kereta jarak jauh atau kereta ekspres, Dhoho harus minggir. Kadang cuma 5 menit, kadang bisa 20 menit. Dan paling lama saya berhenti di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Stasiun_Kertosono\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Stasiun Kertosono<\/a> selama setengah jam. Tanpa drama. Hanya diam dalam sunyi, seperti menunggu takdir datang atau sinyal dari semesta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sempat berpikir, mungkin masinisnya juga sedang merenung. Atau mungkin keretanya memang butuh waktu sendiri. Dalam keheningan itu, saya sempat menghitung usia, menyesali keputusan hidup, dan mencoba mengingat password email yang sudah lupa dua tahun soalnya mau beli pecel di Kertosono nggak ada uang je.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini bukan kereta cepat. Ini kereta sabar. Cocok untuk orang-orang yang hatinya tidak terburu-buru, atau yang dompetnya cukup pas untuk beli tiket 15 ribu dan dua gorengan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Rp15 ribu untuk semua ini? Worth it, kalau kamu nggak buru-buru<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi sejujurnya, saya nggak bisa benci kereta ini. Meski jalannya lambat, kursinya kaku, dan suhu udaranya seperti permainan keberuntungan, Dhoho Penataran tetaplah moda transportasi paling masuk akal bagi banyak orang. Tentu saja jika dibanding bus yang jalannya memang cepat, tapi bisa juga cepat menghadap Tuhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan harga tiket segitu, saya bisa berpindah dari Surabaya ke Kediri tanpa harus ribet rebutan di terminal, tanpa pusing mikirin bensin, dan bisa tidur meskipun tidak nyenyak. Bagi para pekerja, mahasiswa, atau orang yang cuma ingin pulang, kereta ini jadi penyelamat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kereta Dhoho Penataran memang lambat, tapi setidaknya sampai<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan di balik segala absurditasnya, naik Dhoho juga mengajari kita satu hal penting: kadang, yang murah itu bukan tanpa harga. Tapi justru menguji seberapa jauh kita bisa bertahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu pernah naik kereta ini, mungkin kamu juga tahu: ini bukan sekadar alat transportasi. Ini adalah ujian sabar yang menyamar sebagai perjalanan antarkota. Dan kalau kamu berhasil melewatinya tanpa marah-marah, berarti kamu sudah siap menghadapi hidup di Indonesia dengan kepala dingin (meski AC-nya nggak nyampe ke kamu).<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Budi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/derita-naik-kereta-api-dhoho-penataran\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 Penderitaan yang Saya Rasakan Saat Naik Kereta Api Dhoho Penataran<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saat naik Kereta Dhoho Penataran dari Surabaya ke Kediri, saya merasa ini bukan cuma perkara bepergian murah meriah. Ini adalah perjalanan spiritual, fisik, dan mental.<\/p>\n","protected":false},"author":1041,"featured_media":352136,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12903],"tags":[19007,6470,29414,17870,29415,405],"class_list":["post-352086","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-otomotif","tag-dhoho-penataran","tag-kediri","tag-kereta-api-dhoho-penataran","tag-kereta-ekonomi","tag-kereta-surabaya-kediri","tag-surabaya"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/352086","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1041"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=352086"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/352086\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/352136"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=352086"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=352086"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=352086"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}