{"id":352038,"date":"2025-08-09T08:20:43","date_gmt":"2025-08-09T01:20:43","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=352038"},"modified":"2025-08-10T07:26:56","modified_gmt":"2025-08-10T00:26:56","slug":"solo-cuma-ramah-ke-wisatawan-tapi-tidak-ke-warga-lokal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/solo-cuma-ramah-ke-wisatawan-tapi-tidak-ke-warga-lokal\/","title":{"rendered":"Solo, Kota yang Hanya Ramah ke Wisatawan, tapi Tidak ke Warga Lokal\u00a0"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solo sering disebut-sebut sebagai tempat tinggal ideal. Kotanya terkenal nyaman dan cocok untuk slow living. Biaya hidup di sana dianggap murah dan daerahnya\u00a0 tidak sepadat kota-kota besar. Sementara dari sisi fasilitas, kota ini punya fasilitas yang lengkao mulai dari kesehatan hingga pendidikan semua ada.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak heran,\u00a0 Survei IAP (Ikatan Ahli Perencana) mencatat, Solo pernah duduk manis di posisi teratas sebagai kota layak huni. Bahkan mengalahkan, Yogyakarta. Solo juga pernah didapuk jadi <a href=\"https:\/\/databoks.katadata.co.id\/demografi\/statistik\/dc84e3c8b0b6c89\/inilah-kota-paling-toleran-di-indonesia-pada-2022-versi-setara-institute-singkawang-teratas\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kota paling toleran<\/a> versi SETARA Institute pada 2022. Kota yang terkenal akan nasi liwet ini berada di peringkat ketiga. Sudah gitu, Solo masuk nominasi Kota Layak Anak, Kota Cerdas, sampe Kota Budaya. Lengkap kan?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekilas, Solo terdengar seperti kota yang sempurna. Namun, itu dari sudut pandang orang luar Solo atau mungkin wisatawan. Sebagai orang asli daerah ini, Saya tahu betul lika-liku hidup di Kota Batik ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Solo yang hanya ramah bagi wisatawan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi turis atau pendatang yang hanya 1 atau 2 minggu mampir, Solo memang kota yang sempurna. Kalian bisa ngopi-ngopi lucu di kafe estetik, mencicipi kuliner enak, hingga menikmati budaya setempat yang begitu unik. Semua itu bisa diperoleh dengan harga yang terjangkau, setidaknya terjangkau bagi mereka yang sehari-hari digaji standar ibukota.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, lain cerita kalau kamu orang asli Solo, kerja di Solo, dan digaji berdasar standar setempat. Jangankan ngopi-ngopi lucu di kafe, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja ngos-ngosan. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kota-solo-memang-nyaman-tapi-umk-nya-memprihatinkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Upah pekerja<\/a> kota ini tidak melejit seperti biaya hidupnya, apalagi untuk membiayai gaya hidup yang ala-ala.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai gambaran, UMR (atau UMK) Solo 2025 ditetapkan sebesar Rp2.416.560. Cuma naik 6,5% dari tahun lalu. Angka itu sangat mepet untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Namun, untuk hal-hal lain di luar kebutuhan hidup, saya rasa akan sulit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan saja, harga minuman di kafe kekinian biasanya berkisar antara Rp\u202f18.000\u201326.000. Bahkan, ada juga yang mencapai Rp30.000-Rp45.000. Sekali nongkrong bisa ngabisin sepertiga gaji harian.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal lain yang bikin lebih nyesek adalah banyak <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/membongkar-alasan-barista-jogja-diupah-begitu-rendah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">barista coffee shop<\/a> yang digaji di bawah UMR. Bahkan, ada yang nggak sampai Rp2 juta. Ada juga yang digaji harian tanpa BPJS, tanpa kontrak, pokoknya tanpa arah dan jaminan yang jelas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu baru satu persoalan. Padahal di kota ini banyak persoalan-persoalan baru yang bikin saya merasa kalau Solo berubah terlalu cepat. Kota yang dahulu terasa sederhana ini tiba-tiba berubah dengan gaya hidup pendatang, bukan penghuninya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/solo-cuma-ramah-ke-wisatawan-tapi-tidak-ke-warga-lokal\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Warlok boleh bangga, tapi jangan buta&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Warlok boleh bangga, tapi jangan buta<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan hanya soal upah, lapangan pekerjaan di Solo jadi rebutan. Bahkan, menurut saya lapangan pekerjaannya lebih sedikit daripada jumlah pencarinya. Asal tahu saja, Solo adalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kota-solo-sebaik-baiknya-kota-untuk-menetap\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kota idaman<\/a> bagi orang-orang di sekitarnya seperti Sukoharjo, Klaten, Karanganyar, Boyolali, semuanya datang ke Solo buat cari penghidupan. Sayangnya, lapangan kerjanya nggak bertambah secepat pertumbuhan coffee shop-nya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, ada banyak kasus di mana lulusan S1 kerja di toko atau jadi admin dengan gaji di bawah UMR. Itu bukan sekedar urban legend, tapi realita yang sering dianggap \u201cwajar\u201d oleh pasar kerja lokal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harus diakui bahwa Solo memang punya atmosfer yang tenang. Nggak sepadat dan seruwet Jakarta. Tapi, itu bukan berarti kehidupan di sini otomatis mudah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak sedang bilang Solo jelek. Sama sekali bukan. Solo adalah kota dengan kekayaan budaya luar biasa, masyarakat yang ramah, dan sejarah yang hidup dalam keseharian. Tapi cinta itu nggak harus buta, apalagi romantisasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita boleh bangga sama Solo, tapi juga harus jujur ada masalah ketimpangan antara citra dan realita. Slow living di Solo memang nyata, tapi saat ini masih lebih realistis buat turis yang datang, bukan buat warga yang hidup sehari-hari di tengah tuntutan ekonomi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Arrauna Bening Aji Kus Indriani<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-anak-baik-baik-yang-tinggal-di-kos-lv-jogja\/\"><b><i>Pengalaman Saya sebagai \u201cAnak Baik-baik\u201d Tinggal di Kos LV Jogja yang Penuh Drama<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Solo tampak sempurna bagi wisatawan atau pendatang, tapi orang lokal tahu bagaimana kota ini diromantisasi dan jadi kurang ramah bagi warlok. <\/p>\n","protected":false},"author":3056,"featured_media":352060,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[14262,29401,2284,3609,10732,9830,29400],"class_list":["post-352038","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kota-solo","tag-pariwisata-solo","tag-solo","tag-surakarta","tag-wisata-solo","tag-wisatawan","tag-wisatawan-solo"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/352038","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3056"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=352038"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/352038\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/352060"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=352038"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=352038"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=352038"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}