{"id":351946,"date":"2025-08-08T13:40:49","date_gmt":"2025-08-08T06:40:49","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=351946"},"modified":"2025-08-08T13:42:50","modified_gmt":"2025-08-08T06:42:50","slug":"jurusan-ilmu-politik-jadi-gelandangan-tanpa-modal-dan-ordal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-ilmu-politik-jadi-gelandangan-tanpa-modal-dan-ordal\/","title":{"rendered":"Susah-susah Kuliah Jurusan Ilmu Politik, Lulus Tetap Jadi \u201cGelandangan\u201d kalau Tidak Punya Modal dan Ordal"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jurusan Ilmu Politik berhasil mengambil hati saya ketika masih duduk di bangku SMA. Tidak lain karena masa pemilihan umum (pemilu) yang menghadirkan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/politik\/panelis-debat-capres-2024\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">politisi dan calon pemimpin berdebat<\/a>. Dalam bayangan saya dahulu yang masih naif, saya pikir mereka semua belajar ilmu politik sebelum terjun ke dunia politik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memori itu yang membuat saya akhirnya nyebur ke jurusan Ilmu Politik ketika kuliah. Jangan ditanya bagaimana rasanya. Pokoknya saya merasa orang paling keren saat diterima di jurusan ini. Bak masuk dunia baru dengan masa depan gemilang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, itu semua semu. Yang gemilang hanyalah sambutan dosen saat ospek dan pamflet pendaftaran kampus. Sisanya? Akan saya ceritakan di tulisan ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah benar-benar nyebur, saya baru menyadari, lulusan jurusan Ilmu Politik justru lebih banyak yang \u201cmlipir\u201d dari <a href=\"https:\/\/www.kompas.id\/artikel\/dengung-toksik-panggung-politik\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">panggung politik<\/a>. Bukan karena kalah pintar, mereka minggir karena kalah modal dan ordal (orang dalam) alias koneksi. Mereka yang tidak punya dua hal itu bak jadi \u201cgelandangan\u201d di jurusannya sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak yang jago menganalisa akhirnya memilih bekerja di balik layar, bukan di balik meja parlemen.\u00a0 Yang bertahan di tengah gelanggang politik biasanya mereka yang punya banyak \u201cpintu belakang\u201d. Sementara yang cemerlang, tapi nggak punya modal dan ordal berakhir jadi penonton saja, seperti banyak orang biasa lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Lulusan ilmu politik mau jadi apa?\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah mengerti seluk-beluk jurusan Ilmu Politik, saya jadi bertanya-tanya, lulusan ilmu politik mau jadi apa ya? Pertanyaan ini terus bergemuruh di kepala karena tahu diri ini kurang jaringan dan kurang modal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka yang duduk di jabatan strategis tidak berasal dari jurusan Ilmu Politik. Sementara yang benar-benar mengerti ilmu politik justru bekerja di balik layar. Malah ada yang banting stir jadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/kuliner\/tekosu-kedai-kopi-sleman-menampung-mimpi-banyak-orang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">jualan kopi<\/a> hingga kerja di bank. Kenyataan di lapangan memang pahit. Hanya segelintir lowongan pekerjaan yang benar-benar membutuhkan lulusan Ilmu Politik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang saya merasa, ilmu politik yang luas serasa tidak ada gunanya. Saya belajar teori kekuasaan hingga praktiknya di lapangan. Hanya saja, semua ilmu itu terasa sia-sia kalau tidak punya modal dan ordal. Saya hanya bisa jadi penonton.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan saja, selain relasi, duit juga jadi kunci. Dunia politik bukan cuma soal wacana dan ide. Tapi juga soal logistik dan gengsi. Mau ikut pemilu, harus siap ongkosnya. Dari cetak <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/baliho-di-jogja-angkuh-mengotori-pandangan-ketika-alam-sudah-murka\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">baliho<\/a> sampai traktir relawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, buat jadi staf pun kadang perlu &#8220;uang jalan&#8221;. Kalau nggak ya harus siap kerja sukarela. Dan sayangnya, nggak semua lulusan punya kesempatan begitu. Banyak yang akhirnya mundur pelan-pelan. Bukan karena bodoh, tapi karena nggak mampu bersaing secara modal.<\/span><\/p>\n<h2><b>Saatnya bikin panggung sendiri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dahulu, mungkin orang-orang memang masuk ilmu politik karena semangat perubahan. Mau jadi agen perubahan, katanya. Tapi,makin ke sini, idealisme makin tergerus. Yang dipilih bukan yang paling ngerti, tapi yang paling dikenal. Yang dikenal biasanya punya duit atau koneksi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya banyak yang apatis dan menyerah. Mereka merasa tak ada ruang buat berjuang. Ilmu yang dipelajari bertahun-tahun justru dianggurkan. Akhirnya ya jadi &#8220;gelandangan politik&#8221;. Dengan getir, mereka bilang, &#8220;Kami kuliah buat jadi penonton.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, menyerah bukan satu-satunya pilihan. Kalau panggungnya sempit, ya bikin sendiri. Bikin media, bikin komunitas, atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/generasi-muda-tak-peduli-dengan-pemilu-2024\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">edukasi politik<\/a>. Dunia digital bisa jadi arena baru. Tempat idealisme bisa tetap menyala, walau tanpa modal besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak lulusan yang akhirnya bikin konten. Edukasi politik di TikTok dan Instagram. Gajinya mungkin nggak besar, tapi dampaknya nyata. Setidaknya nggak diam dan putus asa. Karena ilmu politik bukan sekadar gelar, tapi panduan menghadapi zaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ramanda Bima Prayuda<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-tempat-nostalgia-di-ugm-yang-bikin-alumni-kangen\/\"><b><i>5 Tempat Nostalgia di UGM yang Bikin Alumni seperti Saya Pengin Balik Jadi Mahasiswa<\/i><\/b><b>.<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jurusan Ilmu Politik perlu modal dan ordal, tanpa itu lulusannya cuma jadi orang-orang di balik panggung dan banting setir ke kerjaan lain.<\/p>\n","protected":false},"author":3035,"featured_media":352030,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[29389,10043,6896,29390,29391],"class_list":["post-351946","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-fisipol","tag-ilmu-politik","tag-jurusan-ilmu-politik","tag-jurusan-politik","tag-lulusan-ilmu-politik"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/351946","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3035"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=351946"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/351946\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/352030"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=351946"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=351946"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=351946"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}