{"id":35193,"date":"2020-04-09T14:06:24","date_gmt":"2020-04-09T07:06:24","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=35193"},"modified":"2025-11-24T16:25:49","modified_gmt":"2025-11-24T09:25:49","slug":"lupakan-viennetta-jajanan-jaman-dulu-juga-tentang-es-mony-dan-6-es-lainnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lupakan-viennetta-jajanan-jaman-dulu-juga-tentang-es-mony-dan-6-es-lainnya\/","title":{"rendered":"Lupakan Viennetta, Jajanan Jaman Dulu Juga tentang Es Mony dan 6 Es Lainnya"},"content":{"rendered":"<p>Harga Vienneta di masa lalu yang bikin galau menyebabkan mengungkit pengalaman traumatis dalam hubungan orang tua dan anak yang pasang surut. Mirip pertikaian orang tua sekarang yang anaknya guling-guling di depan kasir minimarket gara-gara Kinder Joy. Setiap era memang punya cobaan kapitalisme yang sama, produknya aja yang beda-beda.<\/p>\n<p>Tapi kenangan soal es bagi anak kelahiran &#8217;80-an dan &#8217;90-an bukan cuma berpusar pada es krim Viennetta. Sebagai <em>tribute<\/em> untuk segala macam inovasi es yang pernah populer, saya menyusun daftar ini.<\/p>\n<h2><strong>Jajanan jaman dulu #1 Es Mony<\/strong><\/h2>\n<p>Bungkusnya karton berbentuk segitiga, rasanya juga ada tiga, stroberi, jeruk, dan anggur. Es Mony yang tidak dibekukan punya rasa mirip sirup biasa, tapi ada teksturnya. Hakikat Es Mony ini adalah dibekukan di <em>freezer<\/em> dulu, dan hasilnya jauh-jauh lebih enak. Kalau beli di warung kelontong yang punya pendingin, es ini bisa dinikmati kapan saja. Es Mony adalah agen perdamaian saat anak rewel sementara tukang es keliling belum kelihatan.<\/p>\n<h2><strong>Jajanan jaman dulu #2 <\/strong><strong>Es Kado<\/strong><\/h2>\n<p>Do mika do es ka es kado&#8230; pernah dengar? Itu penggalan lagu tentang es satu ini. Es kado terbuat dari campuran santan dan perisa yang dbekukan, lalu ditusuk lidi atau stik es krim, serta dibungkus kertas kado warna-warni. Es ini punya banyak rasa tergantung kreativitas penjualnya, antara lain cokelat, vanila, stroberi, durian, dll. Pertimbangan saat beli biasanya karena motif kertas kado, bukan rasanya, hahaha.<\/p>\n<h2><strong>Jajanan jaman dulu #3 <\/strong><strong>Es Wawan<\/strong><\/h2>\n<p>Disebut es Wawan karena nama ini tercetak di plastik pembungkusnya. Entahlah apa memang buatan Mas Wawan atau sekadar merek. Bentuknya unik, panjang sekitar 20-an sentimeter, bisa beli satuan atau separo dengan cara dipotong di bagian tengah. Favorit saya hanya yang ungu rasa anggur dan cokelat. Kalau dua itu nggak ada, mending cari es lain.<\/p>\n<h2><strong>Jajanan jaman dulu #4 <\/strong><strong>Es Dungdung<\/strong><\/h2>\n<p>Bisa dungdung, bisa tungtung. Namanya diambil dari suara yang keluar dari gong mini yang dipukul penjual saat berkeliling. Es ini dibuat dengan campuran santan dan perisa vanila, cokelat, atau stroberi. Biasanya penjual hanya bawa satu rasa saja biar nggak repot. Disajikan dengan <em>cone<\/em> atau roti. Jauh sebelum merek es krim terkenal membuat es krim <em>sandwich, <\/em>es dungdung sudah sukses melakukannya. Roti tawarnya jadul buatan industri rumahan yang sudah pasti tak seempuk Sari Roti. Kalau bosan dengan es ini, bisa beli es doger dan es podeng yang mirip.<\/p>\n<h2><strong>Jajanan jaman dulu #5 <\/strong><strong>Es Goyang<\/strong><\/h2>\n<p>Selain rasanya yang enak mirip es potong dan es dungdung, yang menarik dari es ini adalah proses pembuatannya. Dibuat dengan cara menggoyang-goyangkan gerobak. Adonan es dimasukan ke wadah alumunium yang tersusun rapi kemudian penjualnya akan menggoyangkan gerobaknya selama beberapa menit. Setelah beku dicelupkan ke cokelat cair. Es ini membawa pengalaman yang menyenangkan bagi seorang anak kecil.<\/p>\n<h2><strong>Jajanan jaman dulu #6 <\/strong><strong>Es Potong<\/strong><\/h2>\n<p>Bentuknya panjang sekitar 50 sentimeter dengan merek Unyil. Jika ada yang beli, baru dipotong kemudian ditusuk dengan lidi. Es potong dibuat dengan campuran tepung hunkwe, santan, dan aneka rasa. Paling sering ketemu sih rasa cokelat, kacang hijau, ketan hitam, durian, dan alpukat. Sampai sekarang masih ada penjual es potong berkeliling di perumahan dan sering ditemui di depan SD.<\/p>\n<h2><strong>Jajanan jaman dulu #7 <\/strong><strong>Es Gabus<\/strong><\/h2>\n<p>Warnanya bermacam-macam dengan rasa yang manis gurih bertekstur empuk seperti gabus atau spons. Menjadi pilihan saya ketika cuaca panas sekaligus perut lapar. Terbuat dari tepung hunkwe dan santan yang diberi pewarna atau rasa seperti cokelat dan pandan. Adonan tepung, santan, pemanis, dan perasa ini dituang ke loyang cetakan. Setelah dingin bisa dipotong-potong dan dibekukan. Mudah sekali cara buatnya, kamu bisa praktek sendiri. Tiap ketemu para es pelipur lara ini saya langsung beli tanpa pikir dua kali. Kangen rasa sekaligus nostalgia. Tak peduli meski sekarang usia bertambah membuat tubuh merapuh; makan es secuil ikutan jajan adek-adek SD saja suara langsung menghilang kena radang tenggorokan. Ish!<\/p>\n<p>Jadi, apa es legendaris di tempatmu?<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-lelaki-harus-nonton-sinetron-dunia-terbalik-dan-belajar-dari-bapak-bapak-ciraos\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Alasan Lelaki Harus Nonton Sinetron Dunia Terbalik dan Belajar dari Bapak-Bapak Ciraos<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aminah-sri-prabasari\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Aminah Sri Prabasari<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Enakan mana, Es Mony beku atau cair?<\/p>\n","protected":false},"author":582,"featured_media":35326,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6063,6064,6028,3472,496,5961],"class_list":["post-35193","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-es","tag-es-mony","tag-jajanan","tag-jaman-dulu","tag-masa-kecil","tag-viennetta"],"modified_by":"Anggi Thoat Ariyanto","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35193","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/582"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=35193"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35193\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35326"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=35193"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=35193"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=35193"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}