{"id":35172,"date":"2020-04-10T11:00:20","date_gmt":"2020-04-10T04:00:20","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=35172"},"modified":"2020-04-09T21:05:02","modified_gmt":"2020-04-09T14:05:02","slug":"kiat-biar-tampak-mbois-walau-gagal-snmptn","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kiat-biar-tampak-mbois-walau-gagal-snmptn\/","title":{"rendered":"Kiat biar Tampak Mbois\u00a0Walau Gagal SNMPTN"},"content":{"rendered":"<p>Tangkapan layar, \u201cSelamat, Anda dinyatakan Lulus SNMPTN\u2026 dst, dst\u201d memenuhi laman media sosial saya dalam beberapa jam terakhir. Selayaknya ajang persaingan yang besar dan ketat lainnya, tentu banyak juga ungkapan kesedihan atas kegagalan.<\/p>\n<p>Menariknya, saya melihat bahwa format ungkapan kesedihan makin ke sini makin canggih saja. Padahal untuk tahun ini, siswa yang lulus seleksi tidak hanya dinyatakan lulus masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tapi juga jadi duta pencegahan corona. Bisa dibayangkan ya, betapa sedihnya mereka yang sekali seleksi langsung terasa gagal dua kali.<\/p>\n<p>Walaupun begitu, orang-orang ini bisa mengeluhkan kegagalannya dengan tetap terlihat <em>mbois<\/em> dan mengagumkan. Setidaknya ada empat <em>template<\/em> yang sering muncul dan membuat saya menyesal mengapa dulu saat mengalami kegagalan, saya tidak kepikiran menggunakan\u00a0<em>template<\/em> tersebut.<\/p>\n<p>Alih-alih mengucap, \u201c<em>Yo wis<\/em> nggak apa-apa,\u201d dalam hati kemudian menangis sepanjang hari, banyak orang yang lebih suka membagikan cerita kegagalannya kepada netizen yang haus melihat penderitaan. Berikut beberapa <em>template<\/em> yang saya bilang tadi.<\/p>\n<h4>#1 Memperlihatkan Nilai Rapor dan Piagam Penghargaan<\/h4>\n<p>Seharusnya ini kamu lakukan di laman yang disediakan tim penyelenggara SNMPTN sih, tapi karena sudah pernah dan malah gagal, nggak ada salahnya juga diunggah ke media sosial. Awalnya saya juga heran kok bisa nemu trik yang begini simpel dan menakjubkan?<\/p>\n<p>Tanpa kebanyakan fafifu, mata para netizen akan terbuka dan melihat betapa<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-hal-yang-langsung-hilang-pas-kkn-ugm-diubah-jadi-kuliah-kerja-maya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> meruginya PTN yang tidak menerima dirimu.<\/a> Nilai rata-rata bagus bahkan naik setiap semester, kamu juga berprestasi, lalu mengapa mesti gagal juga?<\/p>\n<p>Emang dasar kebanyakan kriteria sih SNMPTN-nya, harusnya kan bermodalkan itu saja kamu sudah bisa diterima. Nggak perlu mempertimbangkan kesesuaian jurusan, peluang masuk, apalagi pesaing yang lebih hebat dari kamu. Pokoknya dengan nilai tinggi dan piagam penghargaan itu sudah sangat cukup untuk kamu diterima, ya, kan?<\/p>\n<p>Sabar ya! Udah, itu nilai dan piagam cepet diunggah aja biar netizen yang menilai betapa <em>mbois<\/em>\u00a0dirimu yang nggak lulus SNMPTN itu. Dan jangan lupa, tetap semangat untuk seleksi berikutnya!<\/p>\n<h4>#2 Pengalamanku Gagal 99++ Kali \u2013A THREAD\u2013<\/h4>\n<p>Ya, membuat <em>thread\u00a0<\/em>atau utas di Twitter merupakan cara primadona untuk menaikkan <em>engagement.<\/em> Aduh maksud saya, kadar <em>mbois<\/em>\u00a0pada diri yang gagal ini. Hal pertama yang perlu kamu lakukan yaitu, mengungkapkan kegagalanmu saat tidak lolos SNMPTN. Selanjutnya, keluarkan cerita kegagalan lain di masa lalu.<\/p>\n<p>Mulai dari kegagalan kecil hingga besar. Kegagalan meraih cita-cita, perjuangan hidupmu yang mungkin keras dan menguras air mata walau akhirnya gagal, juga perlu kamu sertakan. Pokoknya, semakin gagal kamu, akan semakin dekat dengan level <em>mbois<\/em> seseorang yang tak pernah lelah dan pantang menyerah.<\/p>\n<p>Dengan begitu, selamat! Walaupun gagal, kamu justru akan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/film-joker-ditujukan-untuk-orang-orang-yang-minim-simpati\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">mendapat simpati<\/a> melalui komentar yang bernada menyemangatimu. Pastikan kamu sudah siap terharu karena komentar itu akan terdengar seperti kawan seperjalanan yang bersedia bahu-membahu saling memberi pertolongan. Padahal, mereka mengetik komentar, me-retweet, atau menyukainya sambil bersyukur karena ternyata ada orang yang sama atau lebih gagal dari dirinya.<\/p>\n<h4>#3 Kampanye, \u201cJangan Merendahkan Orang yang Gagal\u201d<\/h4>\n<p>Selain keluhan kegagalan dan syukuran keberhasilan, imbauan untuk tidak merendahkan orang yang gagal SNMPTN juga berlalu-lalang. Apa pun hasilnya, orang-orang gagal itu sudah berusaha sekuat tenaga dan pantas diberikan apresiasi juga!<\/p>\n<p>Ungkapan untuk mengapresiasi tersebut biasanya diikuti dengan kalimat, \u201cLulus SNMPTN juga belum jelas masa depannya.\u201d Kalimat tersebut lumayan terdengar menentramkan, kan? Lulus nggak lulus itu sama saja derajatnya di hadapan Tuhan. \u00a0Akan tetapi, wahai para calon mahasiswa, memangnya siapa yang tahu akan bagaimana masa depan nantinya???<\/p>\n<p>Ya nggak peduli, yang penting lulus SNMPTN itu juga belum jelas masa depannya. Yang penting nggak merendahkan orang yang gagal, tapi bolehlah merendahkan orang yang berhasil lulus. Masa udah gagal, direndahin, dan nggak boleh ngerendahin balik? Toh, ini semua dilakukan demi tampak <em>mbois<\/em> dan menjujung tinggi solidaritas orang gagal.<\/p>\n<h4>#4 Belum Ngerasain Kehidupan Kampus, sih!<\/h4>\n<p>Nah, ini nih kalimat andalan <a href=\"https:\/\/tirto.id\/koboy-kampus-ketika-mahasiswa-apolitis-menolak-negara-eftc\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">koboi kampus<\/a> yang sudah ditempa banyak kasus. Biasanya, mereka akan bercerita tentang perjuangan menuju bangku kuliah. Perjuangan yang dimaksud ya tentu saja kegagalan demi kegagalan yang mereka alami untuk menjadi seorang mahasiswa. Sayangnya, kenyataan kehidupan kampus tak seindah harapan mereka.<\/p>\n<p>Hal itu membuat mereka terkesan seperti kuliah segan, DO tak mau. Jika memang begitu adanya, mengapa mereka tidak menulis surat pengunduran diri sebagai mahasiswa saja daripada nulis komentar buat ngrecokin calon mahasiswa baru begitu? Ya, karena demi menjaga eksistensi sebagai mahasiswa yang pernah gagal dan masih sering gagal agar tetap bisa tampak <em>mbois<\/em> dan berpengalaman di mata adik-adik baru.<\/p>\n<p>Oke, itu tadi <em>template<\/em> yang bisa kamu gunakan saat mengalami kegagalan. Selain itu, alangkah lebih baik jika kita mengingat kembali pepatah terkenal itu bahwa kegagalan merupakan kesuksesan yang gagal alias&#8230; sudahlah terima saja dan tetap <em>stay mbois,<\/em> ya!<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasib-anak-snmptn-yang-dibilang-keberuntungan-semata\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Nasib Anak SNMPTN yang Dibilang Keberuntungan Semata<\/a><\/strong> <strong>tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aniksetya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Anik Setiyaningrum<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hal pertama yang perlu kamu lakukan adalah mengungkapkan kegagalanmu saat tidak lolos SNMPTN dan menjadikannya sebuah THREAD!<\/p>\n","protected":false},"author":25,"featured_media":35436,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[6079,6080,4461],"class_list":["post-35172","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-kegagalan","tag-seleksi","tag-snmptn"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35172","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/25"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=35172"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35172\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35436"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=35172"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=35172"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=35172"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}