{"id":35145,"date":"2020-04-10T08:00:32","date_gmt":"2020-04-10T01:00:32","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=35145"},"modified":"2020-04-09T20:01:35","modified_gmt":"2020-04-09T13:01:35","slug":"mengenal-bahasa-medan-sehari-hari-biar-kamu-nggak-ngerasa-digas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengenal-bahasa-medan-sehari-hari-biar-kamu-nggak-ngerasa-digas\/","title":{"rendered":"Mengenal Bahasa Medan Sehari-hari biar Kamu Nggak Ngerasa Digas"},"content":{"rendered":"<p>Horasss! Siapa di sini yang pernah ke Medan atau mau pergi ke Medan?<\/p>\n<p>Kalau kamu memang pernah ke Medan, berhubungan dengan orang Medan, atau hendak pergi menyusuri lintas jalan menuju kota Medan, coba-cobalah baca tulisan ini supaya bisa ngerti dengan bahasa orang Medan.<\/p>\n<p>Bahasa orang Medan umumnya memang bahasa Indonesia, tetapi memiliki ciri khas. Meskipun, orang yang menempati Medan ini nggak <em>full<\/em> menganut suku Batak, tetapi tetap saja suku apa pun yang kerap menjadi penduduk asli Medan pasti sudah khatam dengan bahasa serta logatnya.<\/p>\n<p>Sampai beberapa waktu pernah saya mendapati teman di luar daerah Medan, khususnya yang tinggal di daerah Jawa. Mereka merasa bahwa bahasa Medan ini sedikit ngegas dan cukup aneh. Kata-katanya sulit dimengerti dengan gaya bahasa yang terkadang cukup menusuk. Memang, nggak heran rata-rata orang Medan itu bahasanya ngegas, keras, tetapi nggak usah takut karena hatinya baik seperti saya. Hehehe&#8230;.<\/p>\n<p>Jadi, agar kamu nggak merasa digas dan mati gaya, coba deh pelajari makna kata-kata umum yang sering dipakai oleh orang Medan berikut ini,<\/p>\n<h4>Satu: Ko<\/h4>\n<p>Bagi orang luar daerah yang sudah pernah mendengar kata ini, selamat kamu berarti pernah sakit hati. Ya, bukan hanya kalian, saya yang juga orang Medan tulen dari lahir ngerasa kalau kata ini cukup <em>nyes<\/em> menusuk. Padahal alasannya singkat, orang Medan males ngomong panjang-panjang dan menyingkatkan kata <em>kau<\/em> jadi <em>ko<\/em>. Iya, kata <em>ko<\/em> itu berarti <em>kau<\/em> dalam bahasa Medan.<\/p>\n<p>Kata <em>ko<\/em> ini terkesan ngegas bukan karena tulisannya yang singkat, tetapi logat penyampaiannya yang cukup ngegas. \u201cMasak apa ko?\u201d, \u201cMau ko apa?\u201d, \u201cKo bilang tadi mau pigi?\u201d Ngegas beneran, tapi ya kalau dibaca aja nggak akan terasa gasnya.<\/p>\n<h4>Dua: Mingger<\/h4>\n<p>Kata yang paling <em>legend <\/em>di Medan khususnya bagi para <em>travellers<\/em>. Kalau memang kamu mau ke Medan dan memutuskan untuk naik angkot, cobalah untuk <a href=\"https:\/\/tirto.id\/nasib-sopir-angkot-di-antara-bisingnya-modernisasi-ibu-kota-c6ED\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">memberhentikan angkot<\/a> dengan kata, \u201cMingger, Bang\u201d. Jangan dengan kata, \u201cKiri, Bang\u201d. Soalnya nggak semua supir angkot ngerti dengan kata, \u201cKiri, Bang\u201d. Bukan hanya supir angkot, para penumpangnya juga jarang ngerti dan malah bertanya-tanya.<\/p>\n<h4>Tiga: Tengok<\/h4>\n<p>Kalau kata <em>tengok,<\/em> mungkin beberapa temen-temen luar daerah udah pada tahu, ya. Kata <em>tengok<\/em> memiliki arti lihat atau melihat. Jadi, kalau misalnya seseorang bilang, \u201cTengoklah foto pacar kau,\u201d yaudah kasihkan aja ya teman, karena kalau nggak kamu kasih bisa-bisa gelut nantinya.<\/p>\n<h4>Empat: Berserak<\/h4>\n<p>Kalau arti <em>berserakan<\/em> dalam bahasa Indonesia adalah suatu benda yang terurai-urai dan tak beraturan, tetapi kalau di Medan artinya kecelakaan. Jadi, kalau misalnya di jalanan Medan ada yang bilang, \u201cWoy ada yang berserak,\u201d berarti ada yang kecelakaan, bukan ada benda yang diserakkan ya, Teman.<\/p>\n<h4>Lima: Kereta<\/h4>\n<p>Kata ini bisa cukup membingungkan bagi yang belum paham. Bagi kamu yang tinggal di luar daerah Sumatera Utara atau pulau Sumatera, pasti sering menganggap sebutan <em>kereta<\/em> itu seperti kereta api, kereta kuda, dan jenis kereta lainnya. Nah, <em>welcome to Medan<\/em>, sebutan <em>kereta<\/em> itu artinya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/memangnya-ada-stiker-miskin-kalau-pakai-hp-xiaomi-dan-sepeda-motor-beat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>sepeda motor.<\/em><\/a><\/p>\n<p>Sepeda motor disebut kereta oleh orang Medan dan terkadang turut membingungkan bagi para wisatawan atau orang-orang luar daerah yang singgah ke sini. Beberapa malah mengira, \u201cWah gila nih anak, masa naik kereta ke kantor. Apa muat tuh kereta di parkiran?\u201d Ya kereta yang dimaksud adalah sepeda motor, bukan kereta api, kereta kuda, kereta kencana, dan jenis kereta-kereta lainnya.<\/p>\n<h4>Enam: Sikit<\/h4>\n<p>Kata yang harus kalian pahami selanjutnya adalah <em>sikit<\/em> yang berarti <em>sedikit<\/em>. Orang Medan sangat jarang mengatakan jumlah yang sedikit dengan, &#8220;Sedikit banget ya, Mbak.\u201d Namun, diganti dengan kata, \u201cSikit kali ya, Kak.\u201d<\/p>\n<h4>Tujuh: Sebutan untuk Kakak Laki-Laki Adalah Abang<\/h4>\n<p>Kalau di luar daerah masih ada yang memberi sebutan kakak laki-lakinya dengan<em> kakak<\/em>, maka di Medan sebutan tersebut diganti dengan <em>abang<\/em>. Soalnya, sejauh ini saya masih sangat jarang mendapati orang Medan yang manggil kakak laki-lakinya dengan sebutan <em>kakak<\/em> atau <em>kak, <\/em>tetapi <em>abang<\/em> atau malah pakai namanya langsung.<\/p>\n<h4>Delapan: Pajak dan Pasar<\/h4>\n<p><em>Pajak<\/em> di Medan memiliki arti yang beda dengan <em>pajak<\/em> sebagai iuran wajib dibayarkan. <em>Pajak<\/em> di Medan adalah sebutan dari pasar yang menjual kebutuhan pokok makan. Jadi, kalau kalian ke Medan dan mau nanya petunjuk arah pasar, jangan tanya dengan sebutan <em>pasar<\/em>\u201d tetapi <em>pajak<\/em>.<\/p>\n<p>Kalau kalian tanya arah pasar dengan kalimat begini, \u201cBu, di sini <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dear-mas-kevin-benarkah-toko-buku-bisa-ciptakan-pasar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">pasar<\/a> di mana, ya?\u201d Sang ibu yang tidak terlalu paham tersebut akan menyuruh kamu untuk pergi ke jalan raya. Lah kok gitu? Ya iya, soalnya <em>pasar<\/em> di Medan artinya <em>jalan raya.<\/em><\/p>\n<h4>Sembilan: We<\/h4>\n<p>Sebutan yang cukup membingungkan tetapi sebenarnya bermakna baik. <em>We<\/em> dalam bahasa Medan artinya, <em>hai kawan-kawan<\/em>. Kalau kalian merasa bergabung di grup mayoritas Medan dan melihat salah satu anggota grup tersebut memulai percakapan dengan kata <em>we,<\/em>\u00a0maka jangan pikir beliau <em>typo<\/em> atau kebule-bulean, ya. Namun, kata tersebut artinya sapaan buat kalian semua.<\/p>\n<h4>Sepuluh: Kemek<\/h4>\n<p>Bagi yang nggak mengerti kata tersebut memang menganggap kata ini negatif. Eits, sebelum kamu lanjut untuk berpikiran <em>suuzan<\/em>, kamu harus paham makna sebenarnya dari kata tersebut. <em>Kemek<\/em> dalam bahasa Medan artinya <em>traktir<\/em> atau <em>bayarin,<\/em> bukan kata negatif yang kalian pikirkan tersebut.<\/p>\n<p>Jadi, kalau misalnya temenmu yang berada di Medan bilang, &#8220;Kemek-kemek dong, kan udah jadian.\u201d Ya jangan langsung berniat memarahi orang tersebut, tapi coba tanya saja, \u201cMau dikemekin apa, Guys?\u201d<\/p>\n<h4>Sebelas: Cemana<\/h4>\n<p>Kata <em>cemana<\/em> dalam bahasa Medan memiliki arti <em>bagaimana<\/em>. Jadi, kalian jangan mudah menganggap tulisan orang Medan itu <em>typo<\/em> dengan mengasumsikan <em>cemana<\/em> menjadi <em>ke mana. <\/em>Padahal, sebenarnya kata <em>cemana<\/em> itu memang ada artinya sendiri.<\/p>\n<h4>Dua Belas: Kelen<\/h4>\n<p>Kata yang paling sering digunakan orang Medan yaitu <em>kelen<\/em> yang memiliki arti <em>kalian<\/em>. Sebagian orang di luar daerah mungkin sudah memahami kata ini karena penggunaannya yang sering dilakukan. Namun, bagi kamu yang belum tahu harus paham maknanya ya, jangan sampai tidak paham kalau ditanya dengan kalimat, \u201cKelen datang dari mana?\u201d<\/p>\n<p>Jadi, kata-kata itulah yang harus kamu pahami sebelum memutuskan untuk menuju ke Medan, baik sekadar berwisata atau memang mau hijrah. Sebetulnya, masih banyak kamus bahasa Medan lainnya. Untuk lebih jelasnya, coba deh kalian <em>follow<\/em> @alvin_mtd, beliau adalah selebgram Medan yang kontennya rata-rata berbahasa Medan.<\/p>\n<p><em>Jadi, cemana we? Uda ngerti kelen?<\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kamus-bahasa-makassar-sehari-hari-kenalan-sama-partikel-mi-ji-dan-ki\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kamus Bahasa Makassar Sehari-hari: Kenalan sama Partikel Mi, Ji, dan Ki<\/a><\/strong>\u00a0<strong>atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/Siti-Muslihah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Siti Muslihah<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Katanya, bahasa Medan ini sedikit ngegas dan cukup aneh. Kata-katanya sulit dimengerti dengan gaya bahasa yang terkadang cukup menusuk.<\/p>\n","protected":false},"author":74,"featured_media":35418,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2519,6078],"class_list":["post-35145","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bahasa-daerah","tag-bahasa-medan"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35145","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/74"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=35145"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35145\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35418"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=35145"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=35145"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=35145"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}