{"id":350710,"date":"2025-08-04T16:09:12","date_gmt":"2025-08-04T09:09:12","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=350710"},"modified":"2025-08-04T16:09:12","modified_gmt":"2025-08-04T09:09:12","slug":"kayutangan-malang-cantik-tapi-bikin-sesak-kayak-sikut-sikutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kayutangan-malang-cantik-tapi-bikin-sesak-kayak-sikut-sikutan\/","title":{"rendered":"Kayutangan Malang: Cantik, Romantis, tapi Lampunya Bikin Sesak Kayak Lagi Sikut-Sikutan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama kali jalan malam di Kayutangan Malang, rasanya seperti masuk dunia paralel. Jalanan terang, cantik, tapi kok lampu-lampunya kayak lagi rebutan eksis di Instagram? Saking banyaknya, trotoar yang lebar itu terasa sempit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu kuliah arsitektur tahun lalu, dosen menampilkan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menyeberang-jalan-di-kayutangan-malang-menantang-maut\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">foto jalan dengan lampu hias berdempetan<\/a>. Refleks otak saya langsung teriak, \u201cKayutangan!\u201d dan ternyata benar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalan di Kayutangan Malang itu unik. Malam-malam kita nggak cuma mikir arah jalan, tapi juga mikir kapan mata bisa istirahat dari dempetan tiang. Lampu-lampu yang sikut-sikutan bikin wisatawan yang mau foto jadi susah estetik. Hasilnya bukan foto romantis malam kota, tapi foto rame-rame lampu kayak antrian gerbong kereta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi parkirnya. Bisa muter 3 atau 4 kali dulu baru dapat tempat, itu pun di pinggir jalan yang sempit. Ditambah lampu yang terlalu banyak, suasana jadi ruwet kayak kabel listrik PLN sebelum dirapikan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Niat Pemkot Malang itu baik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah Kota Malang jelas punya niat baik. Lampu-lampu klasik hijau-kuning ini dipasang supaya Kayutangan Malang terlihat estetik ala Little Amsterdam. Di sana lengkap dengan pagar kanal dan jembatan bergaya Belanda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bonusnya, konsepnya juga <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kayutangan-heritage-malioboro-kw-yang-begitu-mahal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">adaptasi Malioboro<\/a> Yogyakarta. Jadi, trotoarnya lebar, kursi buat duduk santai, dan lampu antik sebagai pemanis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bedanya, Malioboro nggak bikin mata kita lelah dan jalanan tambah amburadul. Di Kayutangan Malang, lampu-lampunya terlalu rapat, bahkan katanya jaraknya nggak sesuai standar internasional.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin pemkot pengin suasana romantis kayak Paris. Tapi, hasilnya lebih mirip toko lampu jalan yang lagi diskon besar-besaran.<\/span><\/p>\n<h2><b>Masalah di Kayutangan Malang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anehnya, lampu-lampu ini juga nggak terlalu terang. Jadi kalau dipikir-pikir, fungsionalitasnya nggak maksimal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdiri di antara dua tiang saja rasanya kayak mau meluruskan shaf salat: shaf harap dirapatkan. Pedagang lokal sih santai saja, kata mereka, \u201cYang penting cantik.\u201d Tapi ya, LED remang-remang ini lebih cocok buat foto aesthetic ketimbang penerangan serius.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam standar internasional, misalnya CIE dan IES, lampu pedestrian setinggi 3 sampai 4 meter seharusnya dipasang dengan jarak 8 sampai 12 meter supaya cahayanya overlap lembut tanpa bikin silau. Nah, di Kayutangan Malang, jaraknya kadang nggak sampai 5 meter. Hasilnya? Bukannya romantis, tapi lebih mirip toko lampu jalan yang lagi pesta diskon.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fenomena lampu berdempetan di Kayutangan Malang ini sebenarnya <a href=\"https:\/\/travel.kompas.com\/read\/2023\/03\/14\/170500927\/5-aktivitas-wisata-di-kayutangan-malang-pada-malam-hari-jalan-jalan-sampai\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cerminan obsesi<\/a> banyak kota wisata di Indonesia. Ia pengin terlihat modern dan Instagrammable kayak Eropa, tapi lupa adaptasi konteks lokal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, identitas Malang sudah cukup kuat dengan nuansa heritage dan ademnya udara. Jadinya begini: cantik di foto, tapi bikin mata dan kepala ikut semrawut kalau kelamaan nongkrong.<\/span><\/p>\n<h2><b>Parkir di Kayutangan Malang bikin pusing<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, parkir di Kayutangan Malang juga bikin pusing. Entah kenapa di Tunjungan Surabaya dan Kayutangan Malang polanya sama saja. Trotoarnya sudah cantik, tapi lahan parkir terbatas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ke sini bawa satu keluarga, niat healing bisa berubah jadi ujian kesabaran. Rasanya mending naik ojek online, minta di-drop di tengah, lalu pasrah sama lampu-lampu yang nyorot kayak pengadilan mode malam hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, ya, harus diakui. Kayutangan Malang tetap cantik. Suasananya memang romantis, ditambah jajanan murah meriah yang bikin anak muda betah nongkrong sampai tengah malam. Cuma, lampu-lampunya perlu social distancing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau bisa ngomong, mungkin mereka juga minta jarak biar nggak terlalu intens tiap malam. Pada akhirnya, Kayutangan adalah contoh bagaimana kota bisa sibuk mempercantik diri demi kamera, tapi kadang lupa bikin nyaman untuk kita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ya sudahlah, yang penting kita masih bisa foto-foto estetik. Meski hasilnya kadang lebih rapet daripada shaf salat. Bedanya, kalau shaf salat bikin khusyuk, ini bikin mikir:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLampu, sonoan dikit kali!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Devina Maheswari Hidayat<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kayutangan-sumber-masalah-baru-bagi-warga-kota-malang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kayutangan Adalah Sumber Masalah Baru bagi Warga Kota Malang<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kayutangan Malang itu cantik dan menjadi magnet wisata. Namun, tiang lampu di sana malah jadi pengganggu dan bikin sesak.<\/p>\n","protected":false},"author":3053,"featured_media":350724,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[14534,22472,29358,10740,985,446,29357],"class_list":["post-350710","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kayutangan","tag-kayutangan-malang","tag-kayutangan-malioboro","tag-kota-malang","tag-malang","tag-malioboro","tag-trotoar-kayutangan-malang"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/350710","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3053"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=350710"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/350710\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/350724"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=350710"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=350710"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=350710"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}