{"id":350617,"date":"2025-08-04T09:44:39","date_gmt":"2025-08-04T02:44:39","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=350617"},"modified":"2025-08-17T15:54:36","modified_gmt":"2025-08-17T08:54:36","slug":"matcha-rasanya-seperti-rumput-dan-saya-terpaksa-menyukainya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/matcha-rasanya-seperti-rumput-dan-saya-terpaksa-menyukainya\/","title":{"rendered":"Demi Pacar, Saya Rela Menyukai Minuman Matcha yang Selama Ini Dibenci karena Rasanya Mirip Rumput"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Minuman berbahan dasar matcha sedang naik daun beberapa waktu belakangan. Saking diminati, negara asalnya, Jepang, diberitakan <a href=\"https:\/\/www.cnbcindonesia.com\/lifestyle\/20250410140856-33-624902\/jepang-alami-kelangkaan-matcha-ini-biang-keroknya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sempat mengalami <\/a><\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kelangkaan matcha<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Produksi matcha memang meningkat, tapi itu tidak bisa mengimbangi permintaannya yang naik jauh lebih tinggi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngomong-ngomong soal matcha, saya jadi teringat pengalaman konyol. Pengalaman konyol yang saya kira bisa dibilang romantis juga.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, ada banyak cara <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/kesehatan\/agar-makin-nyaman-libatkan-love-language-dalam-hubungan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">menunjukkan rasa sayang<\/a> pada pasangan atau pacar. Tidak perlu gesture yang hebat seperti berkorban atau memberi hadiah mahal. Bagi saya, gesture sederhana seperti mencoba menyukai apa yang digemari pasangan tidak kalah romantis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah yang saya lakukan dahulu. Bertahun-tahun saya mencoba menyukai matcha yang sangat disukai pacar saya. \u201cKamu harus coba, ini enak banget, serius deh,\u201d begitu katanya berkali-kali meyakinkan. Saya tegaskan, berkali-kali!<\/span><\/p>\n<h2><b>Mencoba berbagai macam matcha padahal nggak menyukainya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konon katanya, minuman yang berasal dari Jepang ini penuh <a href=\"https:\/\/hellosehat.com\/nutrisi\/fakta-gizi\/kandungan-gizi-matcha-adalah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">khasiat<\/a>. Matcha bisa menenangkan jiwa, punya antioksidan tinggi, dan bikin awet muda. Hal lain yang coba ditanamkan pacar pada saya, minuman ini cocok untuk orang-orang yang punya selera tinggi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, semua keunggulan yang disebutkan itu rasanya tidak menarik lagi ketika saya menyesap segelas matcha. Rasa pahitnya sulit saya toleransi. Bukan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/americano-cocok-untuk-orang-yang-pertama-kali-ke-coffee-shop\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pahit seperti kopi<\/a> yang elegan. Tapi, rasa pahit yang lebih mirip pada penyesalan. Pahit seperti waktu kamu sudah bayar mahal, tapi ternyata rasanya kayak air rebusan rumput dicampur sabun batangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jelas testimoni itu tidak saya sampaikan secara terang-terangan ke pacar saya. Setiap disuguhi matcha, saya hanya pasrah minum sambil tersenyum dan mengatakan, \u201cUnik ya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pasangan saya tersenyum puas. Katanya, saya sudah naik level. \u201cMatcha itu bukan soal rasa, tapi soal experience,\u201d begitu katanya. Saya mengangguk, meski dalam hati berpikir,&#8221; sejak kapan minum minuman jadi sekompleks baca puisi Todung Mulya Lubis?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gara-gara itu, setiap kali kami ke kafe, dia selalu memesankan matcha buat saya. Kadang matcha latte, matcha float, kadang matcha frappe. Mulai dari yang disajikan panas, dingin, hingga beku. Semua pernah saya coba.\u00a0 Walau sudah mencicipi banyak olahan matcha, rasanya tetap sama di lidah saya. Rasanya seperti minum rumput yang dihancurkan dengan penuh dendam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, karena saya adalah pasangan yang baik dan tidak ingin membuatnya kecewa, saya terus berpura-pura menikmatinya. Bahkan, suatu hari bilang, \u201cWah, ini matcha-nya lebih creamy ya.\u201d Padahal saya tidak pernah tahu dimana letak creamy-nya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Bukan sekadar minuman<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para penggemar matcha itu militan. Itulah yang membuat saya kagum. Mereka bukan sekadar menyukai, mereka menyembah. Mereka akan bilang, \u201cKamu belum ketemu matcha yang authentic,\u201d atau \u201cCoba deh yang premium grade, bukan ceremonial.\u201d Saya tidak tahu apa bedanya. Semua tetap membuat lidah merasa seperti menjilat daun ketapang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah satu waktu, saya melihat matcha dicampur ke dalam segala hal: kue, es krim, croissant, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bakpia-kukus-tugu-jogja-tampil-beda-dengan-rasa-matcha\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bakpia<\/a>, bahkan nasi goreng. Di titik itu saya sadar, matcha bukan sekadar minuman. Ini adalah ideologi. Sebuah gerakan budaya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di media sosial, para pencinta minuman ini memamerkan foto gelas transparan lengkap dengan busa hijau di atasnya. Tidak ketinggalan caption bijak yang menyertai seperti, \u201cDon\u2019t hate what you don\u2019t understand.\u201d Saya hanya mengangguk pelan walau tidak pernah benar-benar setuju dengan quotes-quote yang dipilih.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Benar-benar menyukainya&#8230;<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mengerti bahwa rasa sayang kadang membuat kita melakukan hal-hal yang tidak disuka. Seperti ikut yoga walau tulang kita ngilu hingga nonton film Prancis tanpa subtitle. Tidak ketinggalan, menyeruput minuman hijau yang rasanya seperti campuran dendam, kesabaran, dan sedikit bau pot tanaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah dicekoki minuman satu ini, saya memang tidak kunjung menyukainya, tapi mulai bisa menebak level kepahitannya. Matcha yang pucat biasanya masih bisa ditoleransi lidah saya. Tapi, kalau hijaunya pekat, saya cuma bisa pasrah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau tidak menyukainya, saya tetap meminum minuman dengan warna hijau pekat iyu. Saya tidak ingin merusak image saya. Sebab, katanya ini minuman yang sophisticated. Minuman orang-orang dewasa yang sudah tercerahkan. Minuman yang lebih dari sekadar enak, tapi juga bermakna. Entahlah apa artinya itu semua.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya hanya tahu satu hal, tiap kali saya menyeruput minuman asal Jepang ini, saya tahu satu hal: saya menyukainya. Bukan minumannya tentu saja, tapi dia, si pemaksa matcha itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin, suatu hari, saya akan benar-benar menyukai matcha seperti saya menyukai dia. Mungkin saja. Tapi, hari ini? Detik ini? Belum. Daripada matcha, saya hanya ingin segelas es teh manis biasa. Yang rasanya jelas dan tidak menyembunyikan trauma rasa di balik label minuman sehat dan predikat-predikat lainya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Budi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-warlok-menghindari-jajan-di-es-puter-conglik-semarang\/\"><b><i>Alasan Orang Semarang seperti Saya Berpikir Dua Kali sebelum Jajan ke Es Puter Conglik yang Legendaris Itu<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Minuman matcha rasanya pahit. Bukan pahit elegan seperti kopi, tapi lebih seperti rumput. Dan, saya terpaksa meminumnya demi pacar. <\/p>\n","protected":false},"author":1041,"featured_media":350646,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[1213,29535,20808,29344,22089,29534,1738],"class_list":["post-350617","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-jepang","tag-khasiat-matcha","tag-matcha","tag-matcha-jepang","tag-matcha-latte","tag-minuman-jepang","tag-teh-hijau"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/350617","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1041"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=350617"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/350617\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/350646"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=350617"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=350617"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=350617"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}