{"id":350457,"date":"2025-08-03T10:39:43","date_gmt":"2025-08-03T03:39:43","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=350457"},"modified":"2025-08-06T10:18:31","modified_gmt":"2025-08-06T03:18:31","slug":"derita-lulusan-s2-jogja-dikasihani-ditolak-puluhan-sekolah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/derita-lulusan-s2-jogja-dikasihani-ditolak-puluhan-sekolah\/","title":{"rendered":"Lulusan S2 Kesulitan Cari Kerja di Jogja: Ditolak Puluhan Sekolah karena NU dan Tidak Punya KTA Muhammadiyah Sampai Nggak Tega Ngasih Gaji Kecil"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Februari 2025, saya resmi menyandang status lulusan S2 dari salah satu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-sih-sekolah-negeri-terobsesi-dengan-kampus-negeri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kampus negeri<\/a> di Jogja. Awalnya saya memandang punya gelar magister itu nggak bakal merana. Maklum, dulu saya masih percaya dengan nasihat para orang tua yang bilang gini: \u201cSekolah yang tinggi, biar sukses.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, saya nggak percaya lagi sama kalimat bijak itu. Bahkan saya \u201cmurtad\u201d dari kalimat yang nggak terbukti. Jujur saja, saya kesal percaya sama kalimat di atas. Saya yakin, kalimat tersebut berasal dari cara pandang hidup beberapa tahun silam, saat mereka masih muda, dan tak lagi cocok dikatakan sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin, orang zaman dulu yang sekolahnya tinggi bisa dengan mudah mendapat pekerjaan yang baik, enak, dan bergaji besar. Sebab, dulu sarjana begitu langka, apalagi magister dan doktor.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di satu desa, mungkin hanya ada 1 atau 2 orang saja yang bisa menyandang status lulusan S2. Sekarang? Sebaliknya. Sarjana itu hal biasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyaknya lulusan S2, salah satunya di Jogja, berbanding terbalik dengan lowongan pekerjaan yang ada. Yang ada hanya malah rasa bingung. Mau melamar dosen kok susah. Melamar guru, ya, kok malah dikasihani. Ya, seperti yang saya alami ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mencari kerja di Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah resmi menyandang status lulusan S2, saya memutuskan untuk tetap tinggal di Jogja karena beberapa alasan. Salah satu alasannya adalah karena tak ada pekerjaan yang layak bagi lulusan S2 di kampung saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya harus jujur tentang ini. Apalagi saya tak sendiri karena beberapa teman juga enggan pulang dengan alasan yang sama. Walhasil, kami sama-sama mencari kerja di Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat itu, saya belum menemukan lowongan kerja untuk jadi dosen. Makanya, saya memutuskan melamar jadi guru di beberapa sekolah d Jogja. Mulai dari tingkat SD sampai SMA.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak menghitung jumlah kiriman lamaran karena saking seringnya mengirim. Beberapa lamaran membuahkan hasil dan saya sempat sampai di tahap wawancara. Namun, semua mentok sampai di tahap itu saja. Tidak ada yang menjadi berkah bagi saya.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/derita-lulusan-s2-jogja-dikasihani-ditolak-puluhan-sekolah\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman: Lulusan S2 ditolak sekolah Muhammadiyah karena NU&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Lulusan S2 ditolak sekolah Muhammadiyah karena NU<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sekian wawancara yang saya Jalani, ada sekian alasan yang saya kira membuat mereka menolaknya. Jika hanya karena kurang cocok, entah karena tidak linier dengan jurusan atau memang kemampuan tidak memadai, saya bisa memaklumi. Tapi, alasan karena beda aliran, tentu saja itu bikin saya patah hati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahan dulu, biar saya jelaskan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, banyak lembaga pendidikan yang berbasis <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/7-kampus-muhammadiyah-terbaik-di-jawa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Muhammadiyah<\/a> di Jogja mensyaratkan punya KTA Muhammadiyah bagi pendaftar. Saya, sebagai seorang NU, pasti tidak akan mengajukan lamaran di lembaga tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, saya menemukan beberapa lembaga yang tidak memasukkan KTA sebagai syarat. Saya kira mereka \u201cmungkin\u201d lebih terbuka. Namun, dugaan saya salah. Mereka tetap saja tanya apakah saya Muhammadiyah atau tidak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, dan ini menambah perih patah hati saya. Ketika membaca CV saya, mereka seharusnya tahu bahwa saya dari Madura. Sebagian besar warga Madura, pasti NU. Apakah mungkin mereka nggak tahu anekdot lucu: \u201c<a href=\"https:\/\/jatim.nu.or.id\/pustaka\/memahami--jenis-kelamin--agama-orang-madura-2K9Wi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">NU adalah agamanya orang Madura<\/a>\u201d?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, sudah begitu, mereka tetap menerima lamaran saya dan mengundang saya ke sesi wawancara. Eh, saat wawancara mereka nanya saya ormas mana. Tahu gitu kan saya nggak perlu capek ikut tes tulis dan microteaching.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dikasihani karena nggak tega menggaji lulusan S2 dengan gaji kecil<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan yang ini membuat saya tambah bingung. Entah mau respect sama kepala sekolahnya atau malah kasihan sama diri sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, suatu kali seorang staf sekolah mengabari saya. Isinya adalah penolakan. Alasannya adalah mereka kasihan kepada saya, seorang lulusan S2, apabila menerima gaji yang terlalu kecil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya saya mau sedih. Tapi kok alasan itu tampak seperti tidak ingin merendahkan lulusan S2 yang seharusnya dapat gaji layak di Jogja. Mau bangga, tapi saya sudah mewanti-wanti tidak masalah dengan gaji kecil itu saat wawancara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, ya sudah, mungkin itu adalah bagian dari jalan terjal kehidupan yang harus saya lewati dengan tabah dan hati-hati. Saya tetap bersyukur masih bisa bertahan dengan menjadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/guru-buka-les-privat-pilih-kasihnya-terang-terangan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">guru privat<\/a> di Jogja. Setidaknya saya masih bisa bertahan di tanah rantau tanpa bantuan orang tua. Itu adalah suatu kebanggaan tersendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada 1 hal yang saya tahu dari opini beberapa teman, yang sampai hari ini saya setengah percaya setengah tidak. Katanya gini:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMau pintar dan tinggi ijazahmu, bakal kalah sama yang punya orang dalam.\u201d Meskipun saya tahu bahwa sekelas wapres dibantu bapaknya, saya tetap tidak sepenuhnya percaya dalam pendidikan ada tradisi semacam itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin saya terlalu idealis tentang pendidikan. Dan kalian bisa memarahi saya tentang itu!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Abd. Muhaimin<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/lulusan-s2-ugm-kesulitan-bertahan-hidup-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Malangnya Lulusan S2 UGM yang Kesulitan Bertahan Hidup di Jogja<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lulusan S2 di Jogja belum tentu mudah dapat kerja. Saya, sudah ditolak oleh puluhan sekolah. Salah satunya karena saya NU, bukan Muhammadiyah.<\/p>\n","protected":false},"author":2079,"featured_media":351589,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[4707,29336,115,20613,1713,29337,29335,25213,525,2801],"class_list":["post-350457","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-gaji-guru","tag-guru-sma","tag-jogja","tag-kampus-islam","tag-kampus-negeri","tag-lowongan-dosen","tag-lowongan-kerja-di-jogja","tag-lulusan-s2","tag-muhammadiyah","tag-nu"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/350457","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2079"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=350457"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/350457\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/351589"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=350457"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=350457"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=350457"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}