{"id":350374,"date":"2025-08-02T14:44:38","date_gmt":"2025-08-02T07:44:38","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=350374"},"modified":"2025-08-03T06:14:02","modified_gmt":"2025-08-02T23:14:02","slug":"4-alasan-anak-muda-ogah-menetap-di-magelang-yang-nyaman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alasan-anak-muda-ogah-menetap-di-magelang-yang-nyaman\/","title":{"rendered":"4 Alasan Anak Muda Ogah Menetap di Magelang yang Katanya Nyaman"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Magelang sebenarnya daerah yang menyenangkan. Salah satu kabupaten di Jawa Tengah ini dikelilingi oleh gunung-gunung megah. Itu mengapa panorama di sana begitu indah. Udaranya pun cenderung sejuk.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang berlomba-lomba pindah ke Magelang. Terutama <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-hal-mewah-bagi-orang-kota-yang-sebenarnya-biasa-saja-bagi-orang-desa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">orang-orang kota<\/a> yang sudah lelah dengan hiruk pikuk perkotaan. Sebaliknya, warga lokal Magelang, khususnya anak mudanya, malah memilih merantau ke daerah lain karena berbagai alasan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Magelang daerah yang nyaman, tapi kesempatan kerja terbatas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Magelang sebenarnya daerah yang nyaman. Terlalu nyaman malah. Semuanya berjalan lambat. Itu mengapa daerah ini lebih pas untuk mereka yang ingin menghabiskan masa tua. Bukan untuk anak muda penuh gairah yang haus akan peluang. Bagi anak muda, Magelang terlalu lambat sehingga terasa \u201ctertinggal\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak banyak pilihan pekerjaan di Magelang. Paling-paling kerja sebagai PNS di instansi pemerintahan atau kerja di pabrik. Nyaris tak terlihat Industri kreatif yang bergerak, tidak banyak hal menarik yang bisa ditemukan di Magelang.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alasan-anak-muda-ogah-menetap-di-magelang-yang-nyaman\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Gaji UMK nggak sesuai realita di dunia kerja&#8230;<\/strong><\/em><\/a><br \/>\n<!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>#2 Gaji UMK yang nggak sesuai realita di dunia kerja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kira apa yang menjadi alasan mengapa banyak generasi muda pilih merantau ke kabupaten tak lain adalah soal gaji karyawan. Kalau dari data yang tercatat sih, UMK Magelang tembus Rp2,46 juta. Nyatanya gaji UMK tak sesuai realita di dunia kerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang apa-apa minimal harus punya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ijazah-sarjana-nggak-laku-di-dunia-kerja-lebih-laku-ijazah-sma\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ijazah SMA<\/a>, yang penting kelihatan berpendidikan, soal skill jadi urusan belakangan. Bahkan, sudah punya ijazah pun masih sulit menjangkau gaji UMK. Lalu lulusan SD, SMP, nggak kepakai. Terdengar kejam, tapi ini realita jaman sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tempat saya, anak muda kebanyakan memilih untuk merantau. Sekadar untuk menjadi sales kerajinan kuningan di pulau seberang atau paling tidak menjadi pekerja bangunan. Setidaknya ini lebih menjanjikan ketimbang jadi kasir yang gajinya cuma sejutaan per bulan.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Tidak ada universitas mentereng di Magelang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pilihan Pendidikan setingkat SD dan SMA di Magelang ada banyak dan berkualitas. Bahkan, beberapa sekolah menjadi langganan prestasi hingga tingkat provinsi. Namun, itu semua berbeda dengan perguruan tingginya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi setelah lulus? Mereka memiliki melanjutkan kuliah ke universitas-universitas yang setidaknya lebih menjanjikan pengalaman, entah di Jogja, Semarang atau kota besar lainnya. Inilah gerbang awal anak muda Magelang hengkang ke daerah lain. Kebanyakan dari mereka kuliah di tempat lain, mendapat pekerjaan di sana, lalu tidak pernah kembali.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang sih sekarang ini ada <a href=\"https:\/\/untidar.ac.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Universitas Tidar (Untidar)<\/a> di Magelang. Namun, sulit dimungkiri pamornya masih kalah dengan perguruan tinggi lain di daerah tetangga.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Banyak tekanan sosial di kampung halaman\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah selanjutnya yang bikin anak muda lebih betah merantau adalah tekanan sosial di kampung halaman. Ya, bagaimanapun yang namanya desa kadang banyak basa-basi yang memang basi plus bikin sakit hati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan-pertanyaan itu seolah nggak ada habisnya, mulai dari kapan wisuda, kerja di mana, dan yang paling bom-nya ya, calonnya udah ada? Mungkin niatnya sekedar basa-basi, tapi bagi kami, anak muda, pertanyaan-pertanyaan seperti itu bisa jadi trauma.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cuplikan seberapa besar tekanan sosial di kampung dapat dengan mudah dilihat ketika Lebaran. Bukan cuma silaturahmi, Lebaran kini lebih cocok disebut ajang evaluasi hidup tahunan. Tiap pulang ada saja yang dibandingkan. Apalagi yang kerjanya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wfh-itu-menyenangkan-tapi-tidak-untuk-warga-kabupaten\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">WFH<\/a>, meski gaji dolar bakal tetap kalah sama ASN yang berseragam. bayangkan tekanan semacam itu harus dihadapi setiap hari. Ya nggak heran banyak anak muda memilih cabut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang asli Magelang, saya nggak mau menyalahkan mereka, para anak muda. Saya bisa memahami keputusan mereka hengkang dari Kota Sejuta Bunga ini. Namun, jujur saja, ada sedikit perasaan khawatir kalau mayoritas anak muda Magelang memilih merantau ke daerah lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Nikmaturrahmaniya<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-gelap-magelang-yang-tidak-disadari-banyak-orang\/\"><b><i>Sisi Gelap Magelang yang Tidak Disadari Banyak Orang<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyak orang ingin tinggal di Magelang karena nyaman. Namun, anak muda lokal Magelang banyak yang memutuskan merantau karena beberapa alasan. <\/p>\n","protected":false},"author":2764,"featured_media":350436,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[8599,29331],"class_list":["post-350374","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-magelang","tag-warga-magelang"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/350374","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2764"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=350374"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/350374\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/350436"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=350374"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=350374"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=350374"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}