{"id":350065,"date":"2025-07-30T14:47:31","date_gmt":"2025-07-30T07:47:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=350065"},"modified":"2025-07-30T14:47:31","modified_gmt":"2025-07-30T07:47:31","slug":"gudeg-solo-kalah-pamor-dari-gudeg-jogja-padahal-lebih-enak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gudeg-solo-kalah-pamor-dari-gudeg-jogja-padahal-lebih-enak\/","title":{"rendered":"Gudeg Solo Kalah Pamor dari Gudeg Jogja, padahal Rasanya Lebih Gurih dan Cocok di Lidah Banyak Orang"},"content":{"rendered":"<p>S<span style=\"font-weight: 400;\">aya yakin banyak dari pembaca baru mengetahui kalau Solo juga memiliki gudeg. Bukan gudeg Jogja yang dijual di Solo ya. Tapi, gudeg yang memang khas Solo.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan gudeg Jogja yang punya cita rasa manis, gudeg Solo cenderung lebih gurih. Mereka yang nggak suka manis pasti akan lebih menyukai gudeg dari Solo daripada dari Jogja. Sayangnya, pamor kuliner Solo satu ini terlanjur tenggelam dengan gudeg Jogja yang selama ini memang di-branding dengan sangat baik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau sama-sama bernama gudeg, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-kuliner-solo-yang-bikin-menyesal-berat-kalau-sampai-terlewat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kuliner Solo<\/a> yang satu ini tidak meniru gudeg Jogja. Kuliner ini sudah ada sejak lama dan punya karakter tersendiri. Berbeda dengan makanan Jogja yang didominasi rasa manis, kuliner Solo yang satu ini cenderung punya cita rasa gurih. Memang ada rasa manisnya, tapi tidak mendominasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa yang gurih dan tekstur yang lebih cair memang jadi ciri kuliner yang masuk dalam spektrum Jawa tengah. Itulah yang dituliskan\u00a0 Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr. Ir. Murdijati Gardjito dalam bukunya. Profesor\u00a0 yang punya minat menelusuri, mengkaji, dan meneliti makanan tradisional sejak 2003 ini menuliskan, gudeg Solo memang punya pendekatan yang berbeda dengan gudeg Jogja yang berada di jalur \u201cmanis khas Mataraman\u201d, gaya kuliner yang percaya bahwa rasa manis adalah tanda kemewahan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Gudeg Ceker Margoyudan Bu Kasno tidak boleh dilewatkan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau belum terkenal di telinga banyak orang, ada satu merek gudeg khas Solo yang sudah nggak asing lagi bagi warga lokal. <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jateng\/kuliner\/d-6025951\/gurih-manis-gudeg-ceker-bu-kasno-solo-cocok-jadi-menu-sahur\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gudeg Ceker Margoyudan Bu Kasno<\/a> menjadi primadona, apalagi untuk mereka yang suka kuliner malam. Maklum saja, gudeg ini buka pukul 1 dini hari hingga 7 pagi. Setelah itu buka lagi pukul 1 siang hingga 11 malam.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliner ini disukai karena punya areh encer dan nyemek. Nangkanya dimasak tanpa terlalu banyak gula merah. Itu mengapa, rasanya tidak terlalu manis, seimbang dengan rasa manisnya. Kuliner ini semakin disukai karena porsi nasinya banyak. Dijamin kenyang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak heran kalau Gudeg Ceker Margoyudan Bu Kasno begitu legendaris. Ia dicintai pelanggannya yang loyal dari generasi ke generasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Gudeg Solo layak dikenal lebih banyak orang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, gudeg Solo lebih cocok di lidah saya dibandingkan gudeg Jogja. Perpaduan gurih dan manisnya terasa lebih pas. Dan, saya yakin, mereka yang nggak terlalu suka manis akan lebih suka gudeg ini daripada Gudeg Jogja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, dari segi variasi, gudeg Solo lebih beragam. Ada gudeg kering, dengan areh pekat yang gurih dan tekstur nangka yang lebih padat. Ada pula gudeg nyemek, lebih basah dan cocok disantap bersama nasi panas dan telur pindang. Tidak ketinggalan gudeg sambel pete. Ini menunjukkan betapa fleksibel kuliner ini dalam beradaptasi dengan selera lokal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, seperti yang saya tulis sebelumnya, kuliner Solo yang satu ini kalah pamor dengan gudeg Jogja. Sebuah studi kecil oleh peneliti kuliner Indonesia, Fadly Rahman, menyebutkan bahwa penyebaran <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/7-nasi-kuning-lezat-dalam-khazanah-kuliner-nusantara\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kuliner Nusantara<\/a> banyak dipengaruhi oleh faktor narasi budaya. Dalam konteks ini, Jogja lebih dahulu dan lebih aktif dalam membangun narasi gudeg sebagai identitas kota.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solo justru cenderung membiarkan gudegnya hidup alami, dalam warung-warung kecil tanpa promosi besar-besaran. Tidak heran jika eksistensi gudeg Solo jauh tertinggal dibanding gudeg Jogja. Padahal, soal rasa, makanan ini sangat layak dikenal lebih banyak orang.\u00a0<\/span>Itu mengapa, kalau kalian mampir ke Solo jangan lupa untuk mencicipi kuliner satu ini ya.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Alifah Ayuthia Gondayu<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b> <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/kuliner-jogja-yang-dihindari-dan-jarang-disantap-orang-lokal\/\"><b><i>4 Kuliner Jogja yang Jarang Disantap, Bahkan Dihindari Orang Lokal<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gudeg Solo kalah pamor dari gudeg Jogja, padahal rasanya lebih cocok di lidah banyak karena cenderung gurih, bukan manis.<\/p>\n","protected":false},"author":2947,"featured_media":350098,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[2374,18085,29316,115,4418,24868,2284],"class_list":["post-350065","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-gudeg","tag-gudeg-jogja","tag-gudeg-solo","tag-jogja","tag-kuliner-jogja","tag-kuliner-solo","tag-solo"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/350065","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2947"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=350065"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/350065\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/350098"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=350065"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=350065"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=350065"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}