{"id":34997,"date":"2020-04-08T10:55:49","date_gmt":"2020-04-08T03:55:49","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=34997"},"modified":"2020-04-09T12:20:13","modified_gmt":"2020-04-09T05:20:13","slug":"inilah-alasan-mahasiswa-utm-layak-disebut-sebagai-mahasiswa-tahan-banting","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/inilah-alasan-mahasiswa-utm-layak-disebut-sebagai-mahasiswa-tahan-banting\/","title":{"rendered":"Inilah Alasan Mahasiswa UTM Layak Disebut sebagai Mahasiswa Tahan Banting"},"content":{"rendered":"<p>\u201cSaya Ade Vika Nanda Yuniwan. Saya alumni UTM yang wisuda semester ganjil tahun 2020, tapi ditunda karena pandemi corona.\u201d<\/p>\n<p>\u201cUTM? Universitas baru? Kok aku baru denger?\u201d<\/p>\n<p>Sebuah <em>ending<\/em> yang sama dalam percakapan antara saya dengan seseorang saat pertama kali memperkenalkan diri sebagai mahasiswa Universitas Trunojoyo atau UTM. Selanjutnya, yang terbersit dalam pikiran saya adalah, seberapa pinggirannya kampus saya ini? Bagi masyarakat Madura, UTM sudah sangat dikenal. Tapi, di luar Madura? Hmmm, saya jadi penasaran.<\/p>\n<p>Beberapa hari terakhir, membaca Terminal Mojok serasa membaca profil kampus. Banyak penulis terminal yang mengulik keunikan dari kampus mereka, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-manis-mahasiswa-itb\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">mulai dari ITB,<\/a> UNESA, UI, UIN Syarif Hidyatullah Jakarta, Universitas Gunadarma, yang yhaa\u2026 bisa dibilang: Siapa sih yang nggak kenal sama mereka? Tapi berkat mereka, saya akhirnya jadi termotivasi untuk memperkenalkan diri saya sebagai alumni UTM alias Universitas Trunojoyo Madura.<\/p>\n<p>Tidak banyak orang yang tahu tentang UTM. Kampus berlabel universitas negeri ini terletak di Kecamatan Kamal, Pulau Madura. Meskipun negeri, saya yakin UTM tidak akan masuk daftar <em>goals <\/em>kampus favorit anak-anak kota. Padahal sebagai seorang alumni yang pernah mengenyam bangku perkuliahan di sana, saya merasa berkuliah di UTM justru menjadikan saya sebagai pribadi yang tatak, alias tahan banting. <em>Lho, kok bisa? <\/em>Berikut alasannya,<\/p>\n<h4><strong>Satu: Sering dapat pertanyaan, \u201ckampus mana itu?\u201d atau \u201ckok aku baru dengar?\u201d<\/strong><\/h4>\n<p>Salah satu alasan bagi sebagian besar camaba menginginkan berkuliah di universitas ternama adalah mendapat kebanggaan sekaligus pengakuan dari orang lain. Berbeda halnya dengan saya. Meskipun sudah memperkenalkan diri beserta nama almamater kampus, pertanyaan yang saya terima adalah \u201ckampus mana itu?\u201d, \u201ckampus baru ya?\u201d, atau \u201ckok aku baru denger?\u201d Percayalah kepercayaan diri kalian akan luluh lantak seketika.<\/p>\n<p>Meski di awal memang saya sempat merasa jiper dengan pertanyaan ini, seiring berjalannya waktu dan meningkatnya frekuensi pertanyaan ini, saya pun terlatih tegar. Bukannya minder, dengan pertanyaan-pertanyaan itu saya justru bisa leluasa memperkenalkan UTM dengan bangga kepada orang-orang.<\/p>\n<h4>Dua: Rela berangkat kuliah dengan menerjang banjir di jalanan sekitar kampus saat musim hujan<\/h4>\n<p>Yap! Meskipun dikelilingi oleh area persawahan, kampus saya tetap jadi langganan banjir saat musim hujan datang. Jalanan menuju kampus selalu terendam banjir setinggi knalpot motor dan itu cukup menghambat mobilisasi kami sebagai mahasiswa UTM. Bayangkan saja, untuk menuju kampus kami harus menerjang banjir yang bisa saja membuat baju kuliah kami terciprat air kotor.<\/p>\n<p>Saya pernah masuk kelas dengan keadaan baju yang kotor karena cipratan air banjir dari kendaraan sesama mahasiswa. Mau kembali ke kos kok ya udah mepet jam kuliah. Ya sudah, akhirnya saya tetap masuk kelas dalam keadaan yang <span style=\"text-decoration: line-through;\">mengenaskan <\/span>\u00a0kurang enak dilihat. Namun, dari banjir itulah, kami mahasiswa UTM bisa belajar tentang perjuangan. Meskipun sekadar berangkat kuliah dan menerjang banjir di jalanan, sebetulnya kami juga sedang berjuang melawan kemalasan.<\/p>\n<h4>Tiga: Sering terdampak pemadaman listrik bergilir<\/h4>\n<p>Di UTM sering terdampak <a href=\"https:\/\/tirto.id\/q\/mati-listrik-ACR\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">pemadaman listrik bergilir dari PLN kecamatan.<\/a> Kalau listrik padam, sebagian civitas kampus akan terganggu karena tidak semua gedung perkuliahan di-<em>support<\/em> oleh genset listrik yang stabil. <em>Lha terus kuliahnya gimana<\/em>? Ya kami harus rela kuliah tanpa AC, tanpa kipas angin. Bahkan kami juga pernah melakukan presentasi tanpa proyektor.<\/p>\n<p>Saat kampus kami sedang terdampak pemadaman bergilir, di sini peran kami sebagai <em>agent of change<\/em> dituntut untuk kreatif dan inovatif. Kami harus siap berimprovisasi bagaimanapun caranya agar presentasi tetap berjalan meski tanpa dukungan proyektor. Walhasil, kami mempelajari materi lebih dalam agar dapat menyampaikan materi dengan jelas.<\/p>\n<p>Tidak jarang juga kami membuat portofolio<em> project<\/em> yang tadinya kami lampirkan sebagai presentasi <em>power point<\/em> jadi portofolio <em>project<\/em> di atas kertas karton. Kami harus kreatif! Harus!<\/p>\n<h4><strong>Empat: Jauh dari keramaian perkotaan besar<\/strong><\/h4>\n<p>UTM terletak di pulau Madura. Meskipun di atlas letak Madura terlihat berdekatan dengan Surabaya, tapi sebenarnya keduanya tidak dekat-dekat amat. Kami perlu satu jam jika menempuh perjalanan dengan kapal dan 45 menit jika menempuh perjalanan melalui Suramadu untuk menuju Surabaya. Itu artinya, kampus kami jauh dari keramaian perkotaan besar macam Surabaya.<\/p>\n<p>Untuk berhedon ria pun kami harus berpikir dua kali. Jika kami ingin <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasib-kedai-kopi-di-bulan-ramadan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">nongkrong di kafe<\/a> yang <em>hype <\/em>untuk anak-anak kekinian, kami harus pergi ke Surabaya. Selain boros bensin, betapa sia-sianya waktu kami jika untuk sekadar nongkrong saja kami harus menempuh perjalanan jauh ke Surabaya. Kami pegal di jalan, Sobat! Sesampainya di Surabaya bukan nongkrong yang ingin kami lakukan, tapi rebahan.<\/p>\n<p>Namun, hikmah dari hal ini adalah kami bisa mengontrol keuangan. Kami bisa mengalokasikan waktu dan uang kami untuk hal-hal yang lebih<em> urgent<\/em> dari pada sekadar jalan-jalan, nongkrong, dan nge-mal.<\/p>\n<h4>Lima: Berani menepis stereotip buruk tentang isu sosial masyarakat Madura<\/h4>\n<p>Sudah bukan rahasia umum lagi jika banyak orang yang masih berstereotip buruk tentang masyarakat Madura. Seperti yang saya terima ketika saya memperkenalkan diri sebagai mahasiswa UTM yang notabene terletak di Pulau Madura.<\/p>\n<p>\u201cDi sana nggak banyak begal?\u201d<\/p>\n<p>\u201cDi Madura ada carok, lho. Kamu nggak takut?\u201d<\/p>\n<p>Tentu saja pertanyaan itu muncul karena mereka belum banyak mengenal masyarakat Madura yang sejatinya tidak demikian. Tapi kami, mahasiswa luar Madura yang berkuliah UTM \u00a0berani melawan stereotip tersebut.<\/p>\n<p>Kami percaya jika stereotip buruk akan tetap ada selama kita tidak membuktikan kebenarannya langsung. Sebagai mahasiswa UTM kami sudah membuktikannya. Kami tetap bisa berdampingan dengan masyarakat sekitar dan belajar seperti biasa.<\/p>\n<h4>Enam: Rela menyebrangi selat saat pulang kampung<\/h4>\n<p>Bagi kami mahasiswa luar Madura yang berkuliah di UTM, saat pulang kampung kami harus rela menyebrang selat Madura. Kami seolah-olah dibuat biasa dengan perjalanan lintas pulau ini meskipun masih dalam satu wilayah Jawa Timur. Namun sebagai anak rantau, kebiasaan ini seakan-akan telah mematenkan keberanian kami.<\/p>\n<p>Dengan jarak tempuh yang lumayan jauh hingga menyebrangi laut, sensasi merantau kami benar-benar terasa. Khususnya saya yang ketika masih kuliah, diwajibkan oleh ibu saya untuk pulang ke rumah satu kali dalam seminggu. Saya seperti sudah terlatih jadi seorang musafir,<em> Lur!<\/em><\/p>\n<p>Meksipun UTM tidak banyak dikenal oleh orang-orang, satu hal yang perlu diketahui oleh mereka adalah kami, mahasiswa UTM adalah <em>agent of change<\/em> yang mandiri dan kreatif dengan cara kami sendiri. Btw, kemandirianmu belum teruji jika belum terdaftar sebagai mahasiswa UTM. Camkan!<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bagi-orang-madura-bahasa-madura-tak-kalah-njelimet-nya-dengan-bahasa-inggris\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Bagi Orang Madura, Bahasa Madura Tak Kalah Njelimet-nya dengan Bahasa Inggris<\/strong><\/a> <b><\/b><strong>atau tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/ade-vika-nanda-yuniwan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ade Vika Nanda Yuniwan<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pengin gabung grup WhatsApp Terminal Mojok? Kamu bisa klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>UTM terletak di pulau Madura. Meskipun di atlas letak Madura terlihat berdekatan dengan Surabaya, tapi sebenarnya keduanya nggak dekat-dekat amat.<\/p>\n","protected":false},"author":208,"featured_media":35014,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[5020,34,6032],"class_list":["post-34997","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-madura","tag-mahasiswa","tag-utm"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34997","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/208"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=34997"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34997\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35014"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=34997"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=34997"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=34997"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}