{"id":349918,"date":"2025-07-31T11:41:58","date_gmt":"2025-07-31T04:41:58","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=349918"},"modified":"2025-07-31T11:41:58","modified_gmt":"2025-07-31T04:41:58","slug":"culture-shock-tinggal-di-pamulang-bakar-sampah-jadi-tradisi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/culture-shock-tinggal-di-pamulang-bakar-sampah-jadi-tradisi\/","title":{"rendered":"Culture Shock Tinggal di Pamulang: Tradisi Bakar Sampah Tanpa Peduli Waktu"},"content":{"rendered":"<p><em>Tradisi bakar sampah di Pamulang bikin saya heran, dan lebih herannya, tak ada yang sekiranya peduli bahwa efeknya ini benar-benar ngeri<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memutuskan menepi ke pinggiran Jakarta bisa jadi adalah salah satu keputusan tepat di tengah padatnya Jakarta serta kontrakan yang kian mahal setiap tahunnya. Apalagi saat pandemi tiba, untuk orang-orang yang gajinya UMR atau di bawah UMR harus berpikir berkali-kali untuk kebutuhan hidup dan tempat tinggalnya. Bisa jadi menepi dari Jakarta adalah keputusan paling penting dalam hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah mempertimbangkan segalanya, saya memilih Pamulang untuk tempat tinggal, untuk melanjutkan hidup di perantauan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pamulang bisa dibilang adalah salah satu yang terdekat dengan Jakarta, terutama jika mobilitasmu atau pekerjaanmu di\u00a0 seputar Jakarta Selatan. Ia hanya terhalang Ciputat yang menopang dengan segala beban dan perbandingannya dengan Lebak Bulus di sampingnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pamulang ini tidak bisa dibilang kota besar, juga tidak bisa dibilang masih tertinggal. Buktinya kamu masih bisa menemukan banyak kandang ayam di depan rumah warga, atau halaman luas yang di depannya ada pohon jambu atau mangga, mencium aroma petrikor selepas hujan reda, atau kebiasaan orang-orangnya yang sehabis isya mengajak tetangga untuk tahlilan ke orang yang bahkan tidak dikenalnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pamulang Juga tidak bisa dibilang daerah tertinggal, soalnya perumahan dan cluster menjamur di mana-mana, juga pusat perbelanjaan, kampus, pasar modern, coffee shop dan kemacetan di setiap Sabtu Minggu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tiap daerah, punya kebiasaannya sendiri. Beberapa kebiasaan, bikin orang kaget mampus. Dan di Pamulang, saya tak terhindarkan dari kebiasaan yang bikin saya berdecak, \u201cIni serius?\u201d<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Pamulang dan tradisi bakar sampah<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada salah satu culture shock saya ketika pertama kali tinggal di Pamulang, yaitu melihat orang-orang membakar sampah di pagi dan sore hari. Tentu saja itu membuatmu geleng-geleng kepala. Sesuatu yang tidak ditemukan selama ini ketika merantau di Jakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat kamu bangun subuh, kamu akan menemukan udara sejuk dan dinginnya serasa di pedesaan, serasa sangat jauh dari ingar bingar kota. Tapi saat jam 06.00 kamu akan melihat seperti kabut mulai tampak di mana-mana. Setelah diamati lebih jelas, ternyata itu bukanlah kabut, melainkan asap-asap hasil pembakaran sampah di mana-mana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di beberapa rumah, mereka menyediakan semacam cerobong asap. Tapi cerobong tersebut hanya setinggi anak kecil dan diletakkan di depan rumah mereka. Cerobong itulah yang dipakai untuk membakar sampah setiap pagi dan sore hari. Sebagian lainnya, membakar di belakang rumah, di antara semak-semak dan halaman luasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kok bisa sih membakar sampah menjadi kebiasaan atau malah menjadi tradisi di Pamulang?<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Jangka panjang yang tak dipikirkan<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Usut punya usut, mereka melakukan itu sudah dari generasi ke generasi dan terus dilanjutkan sampai hari ini tanpa memikirkan dampak pembakaran sampah kepada orang lain. Mungkin sempat terpikirkan juga bagaimana orang lain yang menghirup pembakaran sampah, tapi mereka akan melakukan lagi dan lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaannya, apakah tidak ada tempat pembuangan sampah (TPS) terdekat? Jawabannya ada. Bisa ditemukan di bak-bak truk yang sengaja ditaruh di dekat pasar, atau diangkat oleh petugas tiap RT setiap seminggu dua kali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan tanyakan bagaimana kalau kita memiliki seorang anak atau bayi dengan kebiasaan membakar sampah di sekeliling mereka. Kekhawatiran anak terkena pneumonia atau radang paru -paru pada anak ini juga saya rasakan di antar kebiasaan warga sekitar. Saya selalu berharap agar angin tidak membawa asap-asap itu ke rumah kami yang berada di tengah warga, atau asap itu menghilang cepat sebelum kamu keluar rumah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekitar tahun 2023, sempat viral seorang bocah berusia 8 tahun terkena ISPA, diduga <a href=\"https:\/\/www.tempo.co\/arsip\/viral-bocah-di-pamulang-terkena-ispa-diduga-akibat-polusi-pembakaran-sampah-ilegal-ini-kata-dinas-lh-tangsel--160085\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">terpapar oleh asap sampah<\/a> yang dibakar warga. Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie mengakui bahwa pengawasan pembakaran sampah masih minim memerintahkan jajarannya untuk serius menangani masalah ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi bagaimana mengubah kebiasaan yang telah menjadi tradisi kepada masyarakat? Karena balik lagi, mau seketat apa pun pengawasan, mengubah tradisi tak semudah menjentikkan jari. Pamulang adalah contoh nyata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai hari ini tradisi itu masih ada dan nyata di Pamulang. Entah apa yang akan bisa mengubahnya. Mungkin saat ada satu generasi yang sadar bahwa ini salah, dan akhirnya itu hilang tak berbekas. Well, tidak ada yang tahu.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Wisnu Adi Pratama<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/membakar-sampah-adalah-kejahatan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Membakar Sampah Adalah Kejahatan!<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tradisi bakar sampah di Pamulang bikin saya heran, dan lebih herannya, tak ada yang sekiranya peduli bahwa efeknya ini benar-benar ngeri.<\/p>\n","protected":false},"author":3046,"featured_media":350187,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[8138,2652,22719],"class_list":["post-349918","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bakar-sampah","tag-jakarta-selatan","tag-pamulang"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/349918","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3046"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=349918"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/349918\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/350187"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=349918"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=349918"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=349918"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}