{"id":349905,"date":"2025-07-29T12:04:29","date_gmt":"2025-07-29T05:04:29","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=349905"},"modified":"2025-07-29T12:04:29","modified_gmt":"2025-07-29T05:04:29","slug":"8-kosakata-boyolali-yang-susah-diterjemahkan-warga-lokal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/8-kosakata-boyolali-yang-susah-diterjemahkan-warga-lokal\/","title":{"rendered":"8 Kosakata Boyolali yang Susah Diterjemahkan Warga Lokal dari \u201cHorok\u201d Sampai \u201cNine\u201d"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Boyolali, sebuah kabupaten di<a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/jika-ingin-membangun-jawa-tengah-tak-bisa-dengan-pengin-menonjol-sendiri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Jawa Tengah<\/a> yang punya kosakata unik. Bahkan, orang yang berasal dari daerah yang sama-sama menggunakan bahasa Jawa belum tentu memahaminya. Orang asli Boyolali pun terkadang kesulitan untuk menjelaskan kosakata itu dalam bahasa Indonesia. Lengkap sudah kebingungan menjelaskan kosakata ini apabila ada pendatang baru yang bertanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di bawah ini, beberapa kosakata Boyolali yang bikin bingung pendatang dan warga lokal sulit menjelaskannya:\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Horok<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Boyolali pasti udah nggak asing dengan kata ini. Horok sering diucapkan untuk menunjukkan kekagetan. Misalnya begini \u201cHorok, kok esuk-esuk wis tekan kene.\u201d Artinya kok pagi-pagi sudah sampai di sini. Horok sendiri sulit diartikan.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Jan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jan ini sering muncul dalam percakapan Boyolalinan yang biasanya digunakan di awal omongan. Contohnya begini, \u201cJan, hawane adem tenan,\u201d artinya cuacanya dingin banget. Sampai sekarang saya juga nggak paham arti sesungguhnya dari kata jan. Kata jan ini juga sering diartikan banget atau sungguh-sungguh.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><b>#3 Lha dalah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kosakata Boyolali llha dalah yang biasanya digunakan ketiga kaget atau terkejut dengan sesuatu. \u201cLha dalah, kok dalane saiki wis diaspal,\u201d begitu contoh kalimatnya yang artinya ya ampun ternyata sekarang jalannya sudah diaspal. Lha dalah sering digunakan dalam obrolan sehari-hari orang Boyolali, yang sering diungkapkan dengan mimik muka terkejutnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Yungalah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keempat ada istilah yungalah yang digunakan untuk menunjukkan kekacauan. \u201cYungalah kok malah udan terus,\u201d yang bermakna aduh dari tadi hujan terus. Memang yungalah ini sulit diartikan secara spesifik. Namun biasanya memang sering digunakan untuk menunjukkan kekacauan atau kekecewaan.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Kojor<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kosakata ini biasa digunakan untuk menunjukkan kepayahan atau payah. \u201cKojor tenan banyune malah mati,\u201d yang artinya payah, airnya mati. Kojor bisa digunakan di awal kalimat atau di akhir kalimat. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-boyolali-asli-bakal-pikir-pikir-lagi-kalau-mau-cepogo-cheese-park\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Orang Boyolali<\/a> juga biasanya menggunakan kata kojor untuk menunjukkan keluhan.<\/span><\/p>\n<h2><b>#6 Tek<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya ada partikel yang sering digunakan dalam obrolan warga Boyolali, yaitu partikel tek. Partikel tek entah apa arti spesifik dan jelas. Namun, yang pasti, partikel ini sering digunakan orang Boyolali.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepertinya kata ini digunakan dalam obrolan dan diartikan tidak akan mengubah makna obrolannya. Misalnya, \u201ctek kursine gedemen,\u201d dari contoh kalimat tersebut artinya kok kursinya besar sekali. Partikel tek mungkin jadi partikel yang nggak bisa diganggu gugat dalam obrolan Boyolalinan karena kata ini terlalu sering digunakan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#7 Yae<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan hanya partikel tek, ada juga partikel yae. Kata ini digunakan untuk menunjukkan kemungkinan. \u201cWayange lekas jam 7 yae,\u201d artinya wayangnya mulai jam 7 mungkin. <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Partikel_(linguistik)\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Partikel<\/a> ini sering digunakan untuk memprediksi kemungkinan yang akan terjadi.<\/span><\/p>\n<h2><b>#8 Nine<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istilah unik yang terakhir adalah nine. Nine di sini bukan sembilan ya, di sini artinya adalah katanya. Mirip dengan istilah jarene dalam <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahasa-jawa-yang-baik-dan-benar-mulai-dilupakan-orang-jawa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bahasa Jawa<\/a>. \u201cNine mangkat jam 12 kok saiki wes tekan,\u201d artinya katanya berangkat jam 12 kok sekarang sudah sampai. Kata ini memang unik tapi maknanya bisa dimaknai dengan pasti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah 8 istilah bahasa Boyolali yang unik dan maknanya sulit diartikan. Aslinya sih masih banyak lagi istilah Boyolalinan yang unik. Tapi untuk sekarang saya jelaskan 8 kosakata itu dahulu ya, kalau kebanyakan takut para pembaca bingung.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Wulan Maulina<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0 <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kosakata-bahasa-sunda-yang-sering-disalahpahami-orang-jawa\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">10 Kosakata Bahasa Sunda yang Sering Disalahpahami Orang Jawa<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada banyak kosakata Boyolali yang membingungkan bagi pendatang baru dan warga lokal susah menerjemahkannya. <\/p>\n","protected":false},"author":2312,"featured_media":349951,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[763,8877,623,29304],"class_list":["post-349905","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-jawa","tag-boyolali","tag-jawa","tag-kosakata-boyolali"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/349905","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2312"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=349905"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/349905\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/349951"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=349905"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=349905"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=349905"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}