{"id":349812,"date":"2025-07-28T13:08:05","date_gmt":"2025-07-28T06:08:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=349812"},"modified":"2025-07-28T13:08:05","modified_gmt":"2025-07-28T06:08:05","slug":"kuliner-purwokerto-yang-jarang-disantap-warlok-bahkan-dihindari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliner-purwokerto-yang-jarang-disantap-warlok-bahkan-dihindari\/","title":{"rendered":"5 Kuliner Purwokerto yang Jarang Disantap Warga Lokal, bahkan Dihindari"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap daerah di Indonesia punya kekayaan kuliner yang khas. Tidak melulu datang dari resep nenek moyang, ada pula kuliner khas yang berasal dari inovasi. Begitu juga dengan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0kuliner Purwokerto. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota kecil nan bersahaja di kaki Gunung Slamet ini juga punya ragam makanan khas. Nama makanan-makanan tersebut akan muncul tiap kali kita mengetikkan kata kunci \u201ckuliner khas Purwokerto\u201d di Google. Itu sebabnya, banyak wisatawan jadi tergoda untuk mencicipi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Uniknya, beberapa kuliner yang sering jadi buruan para wisatawan ini justru jarang dilirik, apalagi dibeli oleh warga lokalnya sendiri. Bukan karena nggak enak, ya, tapi\u2026 Ah, baca sendiri, deh.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Soto Jalan Bank, kuliner Purwokerto untuk YTTA alias Yang Turis-Turis Aja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika orang berkunjung ke Purwokerto, salah satu kuliner yang ingin dicicipi pastilah <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Sroto_Sokaraja\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">soto Sokaraja<\/a>. Dan, jika referensinya adalah Google, maka soto yang ada di Jalan Bank Purwokerto Barat akan muncul di daftar rekomendasi. Alhasil, banyak wisatawan yang tertarik untuk makan soto di sini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, tidak demikian dengan warga lokal. Warlok yang pengin makan soto tidak akan pergi ke Jalan Bank. Mereka akan mampir ke tukang Soto lain yang mungkin namanya tidak tercatat di Google.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasannya sederhana saja. Harga seporsi soto di Jalan Bank sungguh tidak UMR-friendly. Bayangkan, 2 porsi soto plus es teh, harganya bisa mencapai<\/span><a href=\"https:\/\/www.threads.com\/@miselcharey\/post\/DH_Iz4gvtel?xmt=AQF0I8dWbMjopXUosUBz7TZmGetggSopjEP5rOAZ3jGKzQ\"> <span style=\"font-weight: 400;\">81 ribu<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">! Itu mengapa, Soto Jalan Bank untuk YTTA. Bukan \u201cYang Tahu-Tahu Aja\u201d, tapi lebih pada \u201cYang Turis-Turis Aja\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Nopia memang kuliner Purwokerto, tapi tidak untuk camilan harian<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliner Purwokerto selanjutnya yang jarang dilirik oleh warga lokal adalah nopia. Banyak orang tahu jika nopia ini asli Purwokerto, itu betul. Tetapi, bukan berarti toples di rumah orang Purwokerto itu isinya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nopia-camilan-banyumas-kembaran-bakpia-yang-kalah-pamor\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">nopia<\/a>, ya. Nggak gitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Toples di rumah mereka tetap saja isinya seperti toples kebanyakan: kalau nggak kacang ya keripik. Pasalnya, nopia ini terlalu berat untuk dijadikan camilan harian. Akhirnya, warlok baru beli nopia kalau ada saudara dari luar kota datang. Itupun, buat oleh-oleh. Alias, nggak dicemilin bareng sambil nonton Family 100. Sudah mblenger warga lokal tuh sama nopia~<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Sate Kelinci penuh ketidakpastian, bikin males<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sate kelinci juga termasuk kuliner yang jarang dilirik oleh warga lokal. Menurut penuturan warga lokal yang saya wawancarai, sate kelinci di Purwokerto itu penuh ketidakpastian. Kadang dagingnya lembut, kadang pula keras kayak karet penghapus. Bumbunya pun kadang enak banget, kadang juga hambar kayak air bekas cuci piring.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saya ngekek waktu mereka mengumpamakan rasa bumbu sate kelinci ini dengan rasa air bekas cuci piring. Seolah, mereka ini pernah nyobain rasa air bekas cuci piring. Tapi, yah, tentu kita tahu apa yang mereka maksudkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sederhananya, beli sate kelinci di Purwokerto itu udah kayak gambling. Akhirnya, daripada beli terus zonk, mending dihindari.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Restoran dan kafe mahal, masih jadi misteri ngapain mereka buka di Purwokerto<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, kuliner yang jarang dilirik oleh warga lokal Purwokerto adalah makanan-makanan yang dijual di restoran mewah dan cafe estetik kekinian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harus diakui, dalam beberapa tahun belakangan, banyak restoran mewah bermunculan di Purwokerto. Interiornya cakep, lampunya hangat, plating makanannya rapi. Kalau difoto dan diunggah di Instagram juga nggak malu-maluin. Tapi, soal rasa? Hmm, biasa aja. Bahkan, kadang lebih berkesan nasi goreng yang dijual abang-abang gerobakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal banyaknya resto mewah ini, masih jadi misteri kenapa banyak pemilik modal yang mau-maunya buka cabang di Purwokerto. Sudah tahu UMK Purwokerto cuma Rp2,3 jutaan. Lha kok disuguhi makanan yang satu harga satu porsinya lebih mahal daripada jatah belanja dapur harian? Ya jelas sepi. Anehnya, restoran-restoran ini tetap bertahan lama.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Niwo dan kampel, duo gorengan yang mulai jarang ditemukan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua camilan gorengan ini sebenarnya jarang dicicipi oleh siapa saja, entah warga lokal maupun wisatawan. Niwo adalah makanan ringan khas Banyumas yang terbuat dari ampas tahu yang digoreng. Sering pula disebut sebagai ranjem atau templek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, niwo ini gampang ditemui di pasar tradisional, warung kecil ataupun di abang-abang penjual gorengan pinggir jalan. Seiring waktu, peminat niwo makin terbatas. Yang masih doyan niwo biasanya orang-orang yang sudah sepuh. Anak muda? Paling banter cuma lihat, terus melewati begitu saja. Persaingan niwo dengan gorengan pun semakin berat. Akhirnya, niwo kalah pamor lalu perlahan lenyap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang satu nasib dengan niwo adalah<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kampel-makanan-khas-tapi-nggak-semua-orang-purwokerto-tahu\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">kampel<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Dia malah lebih miris lagi. Bayangkan, saking jarangnya warlok beli kampel, banyak warga lokal Purwokerto yang nggak tahu apa itu kampel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah 5 jenis makanan yang jarang dilirik oleh warga lokal Purwokerto. Jadi, kalau kalian main ke Purwokerto dan lihat ada tempat kulineran yang ramai pengunjung, belum tentu itu warga lokal. Paling juga warga pendatang yang datang karena bisikan Google.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-warlok-menghindari-jajan-di-es-puter-conglik-semarang\/\"><b><i>Alasan Orang Semarang seperti Saya Berpikir Dua Kali sebelum Jajan ke Es Puter Conglik yang Legendaris Itu<\/i><\/b><\/a><b>.<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beberapa kuliner Purwokerto yang diincar wisatawan justru dihindari oleh warlok karena berbagai alasan, salah satunya karena harga. <\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":349822,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[438,17988,8526,29287],"class_list":["post-349812","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-kuliner","tag-kuliner-purwokerto","tag-purwokerto","tag-wisatawa-purwokerto"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/349812","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=349812"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/349812\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/349822"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=349812"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=349812"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=349812"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}