{"id":348855,"date":"2025-07-25T14:50:48","date_gmt":"2025-07-25T07:50:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=348855"},"modified":"2025-07-25T14:50:48","modified_gmt":"2025-07-25T07:50:48","slug":"organisasi-mahasiswa-ekstra-kampus-seniornya-jadi-aktor-penindas-paling-kejam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/organisasi-mahasiswa-ekstra-kampus-seniornya-jadi-aktor-penindas-paling-kejam\/","title":{"rendered":"Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Organisasi mahasiswa ekstra kampus itu lucu. Dari luar, kelihatannya serius. Ada diklat ideologi, forum kajian, jargon revolusi, sampai dresscode khusus biar kelihatan militan. Tapi kalau sudah masuk, baru kerasa. Kadang yang paling perlu dilawan justru yang satu kosan. Yang pakai dresscode sama, yang bilang \u201ckita satu barisan\u201d, tapi marah kalau disanggah, baper kalau dikritik, dan ngambek kalau gak dipanggil \u201cbang\u201d atau \u201ckak\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di luar mereka teriak lawan penindasan, di dalam mereka pelihara patronase. Katanya belajar demokrasi, tapi nyatanya lebih mirip kerajaan mini yang rajanya ganti setiap periode. Senior jadi nabi, junior jadi umat. Kalau junior beda pandangan dengan senior, langsung dibilang jangan banyak gerakan tambahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Organisasi yang katanya progresif, kadang justru gagal progres dari pola-pola kolonial yang dikutuknya sendiri.<\/span><\/p>\n<h2><b>Senior organisasi mahasiswa ekstra kampus: ngomongin revolusi, tapi marah kalau disanggah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Organisasi mahasiswa ekstra kampus sering kali jadi tempat favorit buat memproduksi jargon-jargon kerakyatan. \u201cHidup mahasiswa! Hidup rakyat tertindas!\u201d katanya. Tapi giliran ada anggota baru yang iseng nanya, \u201cKok kita nggak pernah evaluasi kinerja senior ya?\u201d langsung dituduh tidak etis, tidak tahu sopan santun, dan dianggap belum waktunya bicara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di forum diskusi, semua orang terlihat cerdas dan progresif. Tapi di rapat internal, banyak yang mendadak feodal. Ilmu perlawanan hanya berlaku ke luar, tapi tidak ke dalam. Mengkritik pemerintah sah-sah saja, tapi mengkritik senior bisa bikin kariermu di organisasi tamat. Inilah revolusi yang berjenjang dan kamu harus tahu di mana posisi dudukmu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kaderisasi ala militer, tapi hasilnya cuma jadi tim hore<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari luar, proses kaderisasi kelihatan megah dan serius. Ada <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/edu\/detikpedia\/d-6133456\/apa-pengertian-debat-berikut-definisi-aspek-teknik-dan-tujuannya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">teknik debat<\/a>, ada forum ideologi, dan tentu saja ada ritual tidur larut sambil nyimak orasi yang katanya membangun militansi. Tapi pada praktiknya, kaderisasi ini lebih mirip proses uji kesabaran level akhir. Kamu digembleng bukan supaya jadi pemikir bebas, tapi supaya ngerti siapa yang harus disalamin duluan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah resmi jadi anggota, kamu sadar ternyata tugasmu cuma itu-itu saja. Datang rapat, ikut aksi, membuat proposal, nyari dana, dan jangan pernah bikin malu senior. Boro-boro merumuskan agenda perubahan sosial. Yang ada, kamu malah sibuk menghafal siapa backing-mu kalau mau jadi pengurus tahun depan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Yang salah tetap salah, kecuali yang salah itu senior<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam banyak organisasi mahasiswa, integritas sering dikampanyekan. Tapi anehnya, banyak juga yang berubah haluan kalau pelanggaran datang dari kalangan \u201ckakak asuh\u201d atau biasa yang disebut \u201csenior\u201d. Tiba-tiba yang dulunya vokal, jadi bungkam. Yang dulu berapi-api, mendadak jadi jinak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebenaran bisa dinegosiasi, apalagi menjelang pemilihan pengurus. Mendadak semua orang jadi toleran terhadap kebodohan, asal yang bikin bodoh itu punya kuasa. Akhirnya, organisasi jadi lebih mirip panggung sinetron politik. Ada aktor utama, ada figuran, dan ada penonton yang cuma bisa geleng-geleng kepala.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dekat senior berkah, kritis ke senior musibah: ironi organisasi mahasiswa ekstra kampus<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Senior itu semacam malaikat pencatat amal. Bedanya, kalau kamu dekat, kamu dicatat baik terus. Tapi kalau jauh, ya begitulah. Patronase jadi mata uang paling laku. Makin sering nongkrong bareng senior, makin besar peluangmu naik jabatan atau dapat pekerjaan. Bukan karena pintar atau visioner, tapi karena kamu tahu siapa yang harus disalami duluan sebelum rapat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sialnya, kalau kamu kebetulan punya otak dan mulut yang suka nanya \u201ckenapa\u201d, kamu bisa langsung dicap durhaka. Kritis ke negara itu keren, tapi kritis ke senior? Siap-siap dikucilkan dari grup WA internal. Akhirnya organisasi mahasiswa ekstra kampus ini jadi miniatur republik. Penuh drama, penuh transaksi, tapi tetap merasa suci karena pakai embel-embel perjuangan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Trauma ditindas, tapi giliran berkuasa malah nindas balik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada kutukan abadi dalam organisasi ini. Yang dulu ditindas, ketika naik jabatan, malah jadi penindas baru. Mungkin ini semacam warisan kultural yang dianggap sakral. Kalau aku dulu disuruh push-up, maka generasi berikutnya juga harus push-up. Biar tahu rasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebanyakan dari mereka lupa bahwa pola seperti ini adalah lingkaran setan. Bahkan dalam banyak kasus, organisasi tidak pernah benar-benar berkembang karena isinya cuma replikasi senior sebelumnya. Tidak ada terobosan, tidak ada pembaruan, hanya siklus dendam yang dibungkus kata \u201cproses\u201d. Dan semua ini dilakukan sambil tetap mengaku sebagai pelopor gerakan perubahan.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Ramanda Bima Prayuda<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ormek-kumpulan-mahasiswa-haus-pujian-yang-patut-diwaspadai\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ormek Lebih Cocok Disebut Kumpulan Mahasiswa Haus Pujian daripada Organisasi Mahasiswa<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Organisasi mahasiswa ekstra kampus itu lucu. Dari luar, kelihatannya serius. Tapi di dalamnya ironis mampus. Munafik!<\/p>\n","protected":false},"author":3035,"featured_media":348908,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[34,6342,29247,29248],"class_list":["post-348855","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-mahasiswa","tag-organisasi-mahasiswa","tag-organisasi-mahasiswa-ekstra-kampus","tag-senior-organisasi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/348855","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3035"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=348855"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/348855\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/348908"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=348855"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=348855"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=348855"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}