{"id":348447,"date":"2025-07-23T12:27:40","date_gmt":"2025-07-23T05:27:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=348447"},"modified":"2025-07-23T12:27:40","modified_gmt":"2025-07-23T05:27:40","slug":"4-kelakuan-pembeli-pecel-lele-yang-bikin-penjual-menangis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-kelakuan-pembeli-pecel-lele-yang-bikin-penjual-menangis\/","title":{"rendered":"4 Kelakuan Pembeli Pecel Lele yang Bikin Penjual Diam-diam Menangis dalam Hati"},"content":{"rendered":"<p><i>Semoga kalian bukan salah satu dari pembeli pecel lele yang menyebalkan itu.\u00a0<\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada pepatah lawas yang berbunyi &#8220;<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/konsep-pembeli-adalah-raja-itu-kolot-zheyeng\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pembeli adalah raja<\/a>\u201d. Kalimat ini sejatinya menjadi pengingat bagi para penjual agar bisa memberikan pelayanan terbaik. Tapi, sayangnya, pepatah ini kerap dijadikan tameng oleh pembeli menyebalkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak pembeli yang kemudian merasa dirinya benar-benar \u201craja\u201d. Mereka berhak bertindak semaunya. Mereka boleh rewel, boleh cerewet, bahkan semena-mena. Sementara, penjual dianggap tak lebih dari abdi dalem yang wajib nurut tanpa protes. Pembeli yang bertindak seenak jidat ini bisa kita temui di mana saja. Termasuk, di warung pecel lele.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai tempat makan sejuta umat, warung pecel lele memang jadi tempat menampung manusia dari berbagai kelas dan karakter. Tak terkecuali, yang menyebalkan. Jangan tertipu dengan senyum ramah pedagangnya, ya. Bisa jadi, di balik senyum para pedagang pecel lele, tersembunyi segunung kesabaran menghadapi ulah para pembeli. Maaf-maaf nih, tidak sedikit yang ulahnya ngeselin setengah mati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembeli yang bagaimanakah itu?<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Pembeli pecel lele yang minta tambah sambal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pedagang pecel lele boleh saja menjual lauk yang sama. Tapi, yang bikin satu warung pecel lele lebih diingat daripada yang lain adalah sambalnya. Ada yang sambelnya cenderung manis-pedas, ada yang diberi sentuhan kencur, ada juga yang pakai <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sambal-terasi-baunya-busuk-tapi-nikmatnya-begitu-menusuk\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">terasi<\/a> agak banyakan. Nah, di mana sambal yang sesuai dengan selera pembeli, di situlah mereka akan berlabuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang sih, makan pake sambel itu bikin makan makin lahap. Tapi ya, kalau konteksnya lagi makan di warung pecel lele, nggak usah pakai acara minta tambah sambal kali, ah. Dari POV penjual pecel lele, pembeli yang minta nambah sambal adalah pembeli yang menyebalkan. Pedagang harus ngeracik lagi, ngulek lagi. Artinya apa? Nambah kerjaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukannya para pedagang ini nggak mau capek, ya. Tapi, kasih tambahan sambal ke pembeli juga berarti mengurangi margin keuntungan mereka. Sebagai pedagang, mereka nggak mungkin begitu saja memberikan tambahan biaya kepada pembeli yang minta tambah sambal. Jadi, ya, mau nggak mau mereka kasih sambal itu secara gratis. Bayangkan kalau semua pelanggan minta tambah sambal. Wah, gagal cuan dong akhirnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Pembeli yang kasih makan kucing<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beri makan kucing memang amal jariyah. Tapi, sebaiknya kalau<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-kasih-makan-kucing-liar-mereka-harus-bisa-survive-sendiri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> mau kasih makan kucing<\/a>, lihat-lihat tempat dulu. Kalau tempatnya di warung pecel lele, mending pikir dua kali. Pasalnya, memberi makan kucing di warung pecel lele bisa jadi bencana bersama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi pengunjung lain, jelas, keberadaan kucing-kucing di warung pecel lele akan mengurangi kenyamanan mereka. Tahu sendiri kan, kucing-kucing ini kalau ada satu orang yang kasih makan, kucing-kucing lain akan berdatangan. Kucing-kucing itu kemudian akan berkerumun, rebutan, dan mulai meong-meong beringas minta tambahan jatah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara bagi pedagang, pembeli yang kasih makan ke kucing bisa merugikan dari segi bisnis. Gara-garanya, tempat jadi terkesan kotor karena banyak sisa-sisa tulang yang berserakan. Mau nggak mau, mereka harus nyapu lagi, nyapu lagi. Kan gawat kalau ada pelanggan yang kapok datang ke tempat mereka gara-gara illfeel melihat banyak sisa tulang dimana-mana.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Pembeli yang pesan kol goreng, padahal nggak ada di menu<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari bahaya yang mengintai, mari kita akui bersama kalau kol goreng dalam seporsi pecel lele ini memang top markotop. Tak heran jika panganan ini banyak dipesan oleh pembeli. Sayangnya, tidak semua warung pecel lele menyediakan menu <a href=\"https:\/\/www.alodokter.com\/kol-goreng-ketahui-bahaya-kesehatan-di-balik-kenikmatannya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kol goreng<\/a>. Nah, yang bikin penjual warung pecel lele gondok adalah pembeli yang ngotot minta digorengin kol. Padahal sudah dibilangin kalau menu ini tidak disediakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKan tinggal digoreng aja, Bwang~\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu biasanya pembeli berdalih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, sepintas memang tak ada yang susah sih dari sekadar menggoreng kol. Tetapi, efeknya itu, loh. Minyak jadi cepat hitam, bau, dan tidak bisa untuk menggoreng lagi. Akhirnya, penjual harus membuang minyak tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soalnya kalau dipaksakan untuk menggoreng, nggak bakalan matang sempurna, malah cuma kayak berkubang minyak saja. Padahal, andai saja tadi tidak digunakan untuk menggoreng kol, minyak tersebut masih bisa dipakai untuk menggoreng tahu dan tempe.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Pembeli pecel lele yang duduk lama banget setelah makan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diam-diam penjual warung pecel lele memusuhi pembeli ini. Mereka yang sudah selesai makan, tapi tidak segera beranjak dari tempat duduk. Betah banget pokoknya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, kalau pembeli jenis ini tidak segera beranjak, warung bakal kelihatan penuh banget. Akibatnya, calon pembeli lain yang tadinya mau mampir, bakalan mundur. Mereka bisa mengira sudah ada lagi tempat kosong. Kalau sudah begini, berkuranglah potensi pendapatan warung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menghadapi pelanggan yang betahnya kebangetan, tentu tidak mudah bagi pedagang pecel lele untuk mengusir. Bisa-bisa, pelanggan malah tersinggung. Paling pedagang ini akan basa-basi dengan bertanya, \u201cAda lagi yang mau dipesan?\u201d. Tapi kan tidak semua orang itu peka dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/mencintai-percakapan-basa-basi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">basa-basi<\/a>. Ada tipikal orang yang memang kudu diguyur air dulu supaya sadar kalau mereka itu mengganggu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah 4 jenis pembeli yang jadi musuh bagi pedagang pecel lele. Semoga kamu bukan salah satu diantara keempat jenis orang tersebut, ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Dyan Arfiana Ayu Puspita<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-dosa-yang-bikin-kita-malas-makan-di-pecel-lele\/\"><b><i>Mulai dari Alasan Kebersihan Hingga Kualitas Lele, Inilah 5 Dosa yang Bikin Kita Malas Makan di Pecel Lele<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyak kelakukan pembeli pecel lele yang diam-diam dibenci penjual, seperti meminta tambahan sambal hingga duduk lama setelah selesai makan. <\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":348454,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[8758,29226,29227],"class_list":["post-348447","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-pecel-lele","tag-pembeli-pecel-lele","tag-penjual-pecel-lele"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/348447","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=348447"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/348447\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/348454"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=348447"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=348447"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=348447"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}