{"id":348151,"date":"2025-07-22T10:15:38","date_gmt":"2025-07-22T03:15:38","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=348151"},"modified":"2025-07-22T10:15:38","modified_gmt":"2025-07-22T03:15:38","slug":"5-saran-untuk-kreator-konten-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-saran-untuk-kreator-konten-jogja\/","title":{"rendered":"5 Saran untuk Kreator Konten Jogja agar Makin Banyak Follower dan Endorsement meski Nggak Punya Kreativitias Sama Sekali"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah kamu membayangkan slow living sebagai kreator konten Jogja? Bangun sedikit telat, langsung ngopi pagi sambil membuat konten. Siang sedikit ke tempat wisata viral dan merekam estetika. Sorenya ke Pegunungan Menoreh untuk mengejar sunset. Malam tiba, waktunya turun ke Tugu dan merekam lalu lalang turis di bawah Lentera Jogja. Capek sih, tapi lebih nyaman daripada duduk di ruang AC kantor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi harus mulai dari mana? Bagaimana cara membuat konten seperti selebgram viral? Bagaimana bisa konsisten meromantisasi Jogja? Serta, bagaimana memenangkan algoritma dan bisa mendapat endorsement melimpah?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tenang, saya punya solusi! Agar kalian bisa jadi kreator konten yang berhasil membuai banyak orang. Sehingga Jogja terlihat lebih manis, cantik, dan romantis. Tentunya bukan untuk kebaikan kota istimewa dan nyaman ini. Tapi demi engagement tinggi dan promosi mengalir.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Perkuat lini lambung untuk konten yang Jogja banget<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum jadi kreator konten, tanyakan pada diri sendiri: lambung kalian sudah siap? Ini bukan hanya dihajar kafein setiap pagi. Tapi juga menahan makanan-makanan aneh dan tak bergizi. Karena untuk jadi kreator konten yang sukses, kamu harus makan apa pun yang sedang viral.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mie dengan level pedas layaknya kerak neraka harus dilahap. Lanjut dihajar berbagai dimsum semenjana asal dimandikan chilli oil yang merona. Sarapan sebelum ngopi pagi adalah soto lima ribuan yang lebih banyak air daripada ampas. Jangan lupa, harus siap makan apa pun yang ada mozzarella-nya. Dari jasuke sampai ayam geprek, dan mungkin nanti ada gudeg mozzarella juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan jadi picky eater. Apalagi mempermasalahkan gizi berimbang. Biar itu tugasnya pemerintah yang serampangan mengurus MBG. Tugasmu adalah menjadi relevan dengan segala kuliner viral.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Harus ada Tugu-Malioboro-Titik Nol-Kraton<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah punya kamera bagus? Atau minimal ponsel dengan kamera jernih? Bagus, sekarang waktunya mengambil banyak footage. Tapi jangan terlalu idealis. Tidak perlu berburu lokasi hidden gems dan indah luar biasa. Karena tugasmu sebagai kreator konten Jogja hanya berkeliling di sekitar <a href=\"https:\/\/www.kratonjogja.id\/tata-rakiting\/21-sumbu-filosofi-yogyakarta-pengejawantahan-asal-dan-tujuan-hidup\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sumbu Filosofis<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ingat resep ini: Tugu Jogja; Malioboro; Titik Nol Kilometer, dan; Kraton. Itu sudah cukup sebagai bahan gorengan kontenmu setiap hari. Toh pemirsamu hanya tahu Jogja di empat titik itu. Mereka tidak perlu tahu lokasi lain. Karena Jogja yang mereka inginkan bukan yang otentik apalagi penuh konflik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lupakan juga menuju awal Sumbu Filosofis: Panggung Krapyak. Followermu malas melihat hidup santri sehari-hari. Sama seperti malas melihat hidup warga yang ruwet di sudut-sudut Jogja. Pokoknya eksploitasi empat titik itu setiap hari. Follower-mu senang, pemerintah juga ikut bahagia.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jelek gapapa, tapi puitis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u2018Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan\u2019. \u2018Setiap sudut Jogja itu romantis\u2019. Tahu kan potongan puisi itu? Nah, kini giliran kamu yang membuatnya. Tenang, tidak harus seindah karya Mas Jokpin atau Mas Sapardi. Yang penting kelihatan sastrawi saja. Karena Jogja itu apa-apa harus sastrawi. Dari urusan jargon sampai dalih penggusuran.<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Jogja, semua bisa romantis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan saat kamu sedang bersedih,<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota ini akan mencium keningmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Agar kamu kembali tersenyum.<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">GAMPANG KAN! Saya bikin itu sambil garuk-garuk perut yang lapar. Tidak harus menepi dan bersemedi. Pokoknya kamu tinggal sok manis di kontenmu. Kalau idemu mampet, ambil saja puisi orang. Lalu masukkan instrumen yang pas. Misal iringan gending atau Royal Orchestra.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak perlu takut perkara kualitas puisi kalian. Toh para penonton juga bukan kritikus sastra. Mereka hanya butuh konten romantis agar tidak sakaw. Bukankah mereka hanya butuh candu bernama Jogja? Tentu Jogja yang kamu kemas sedemikian cantik dan berlebihan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Upload setiap hari, meskipun kontenmu itu-itu saja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tadi di awal aku bilang untuk jangan idealis. Sekarang adalah ujianmu. Kamu harus upload konten setiap hari. Terus berulang dengan model yang sama. Tidak, jangan berpikir untuk bereksperimen dan membuat konten yang unik. Kamu hanya perlu memuaskan pemirsa dengan konten picisan seperti imajinasi mereka tentang Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lupakan konten edukatif di luar review kuliner yang berbusa-busa. Tidak perlu belajar budaya otentik Jogja yang malah membuat viewer merasa jenuh. Mereka hanya butuh fantasi ringan dan tidak bikin sakit kepala. Lagi pula untuk apa sih mengembangkan diri kelewat jauh? Tujuanmu hanya demi viral dan bisa jualan engagement, bukan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Strategi ini juga memudahkan kamu. Tidak perlu sibuk mencari kebaruan. Footage lama tinggal ditambal sulam. Narasi bulan lalu bisa digarap lagi hari ini. Selain itu, kamu bisa mencontek karya viral orang lain. Semudah itu kok!<\/span><\/p>\n<h2><b>Jual mimpi tentang Jogja, bukan bukti!<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saran terakhir ini paling penting untuk seorang kreator konten Jogja. Tugasmu adalah menjajakan mimpi. Bukan memberikan bukti apalagi mengatakan realitas yang mengigit. Ada nenek-nenek buruh panggul? Kemas jadi perjuangan yang indah. Tidak perlu bahas perkara ketimpangan sosial. Atau bertemu warga lokal yang penuh senyum? Kemas jadi konten betapa ramahnya warga Jogja. Meskipun realitas menunjukkan rasisme mengerikan pada beberapa suku.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuncinya adalah: semua yang di Jogja itu baik. Kalau ada yang jelek, pasti ulah pendatang. Kalau ternyata pelakunya warlok seperti klitih, itu cuma anomali. Pasang mindset ini di otakmu. Lalu cobalah kreatif melihat sisi pedih jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana, mudah bukan jadi kreator konten Jogja yang sukses? Tenang saja, bahan kontenmu melimpah ruah kok. Toh kamu hanya mengeksploitasi Jogja yang dikemas istimewa itu saja. Kecuali kamu ingin membuka tabir dan menunjukkan wajah Jogja yang penuh luka. Nanti kamu akan kena survey KTP.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang saatnya kamu memulai langkah menjadi kreator konten di Jogja yang istimewa. Mengeksploitasi segala produk sintetik kebudayaan Jogja yang sejatinya adiluhung. Menjual ketimpangan sebagai hidup sederhana romantis. Jadilah si kreator bajingan yang membuat Jogja makin penuh dusta. Lalu nikmati engagement dan endorsement dari dagangan palsu kalian!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Prabu Yudianto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kok-bisa-ada-orang-bahagia-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kok Bisa Ada Orang Bahagia di Jogja, padahal Hidup Mereka Susah?<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apakah kamu membayangkan slow living sebagai kreator konten Jogja? Nah, saya beri caranya. Oh, tenang, nggak harus punya konten bagus kok.<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":332750,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[115,29198,29213],"class_list":["post-348151","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-konten-kreator-jogja","tag-sumbu-filosofi-jogja"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/348151","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=348151"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/348151\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/332750"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=348151"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=348151"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=348151"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}