{"id":347978,"date":"2025-07-21T11:15:48","date_gmt":"2025-07-21T04:15:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=347978"},"modified":"2025-07-21T11:15:48","modified_gmt":"2025-07-21T04:15:48","slug":"4-hal-yang-bikin-perantau-nggak-nyaman-tinggal-di-pasuruan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-hal-yang-bikin-perantau-nggak-nyaman-tinggal-di-pasuruan\/","title":{"rendered":"4 Hal yang Bikin Perantau Nggak Nyaman Tinggal di Pasuruan, Kabupaten Industri yang Harusnya Nyaman untuk Pendatang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jawa Timur awalnya menjadi second choice tempat impian saya bekerja dengan pilihan pertama adalah kota dengan UMK tertinggi di Indonesia. Meskipun dijadikan second choice, nyatanya yang dapat menerima diriku yang biasa-biasa saja adalah sebuah perusahaan yang ada di Jawa Timur. Tepatnya di sebuah kabupaten yang terkenal dengan julukan Kota Santri, yaitu Kabupaten Pasuruan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya Pasuruan pernah menjadi kabupaten impianku bekerja karena menawarkan angka UMK yang tinggi. Namun tetap saja, saya ingin menghabiskan masa mudaku dengan bekerja di tempat UMK tertinggi di Indonesia. Sebelum akhirnya kenyataan pahit tentang persaingan di dunia kerja menghantam khayalanku dengan sekuat tenaga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memutuskan naik kereta sendirian dari stasiun terdekat rumah menuju Stasiun Bangil dengan berbekal sekotak mie instan, dua potong ayam goreng dan empat kupat. Membawaku pada sebuah fakta bahwa Pasuruan menjadi kabupaten ideal untuk perantau.<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pasuruan-ideal-lebih-dari-kota-dengan-umr-tertinggi-di-indonesia\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini sudah pernah saya tulis di artikel sebelumnya.<\/span><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam artikel tersebut saya memuja betapa hebatnya Pasuruan jika dibandingkan kota dengan UMK tertinggi di Indonesia. Seperti sebuah peribahasa yang berbunyi \u201cTak ada gading yang tak retak\u201d. Kurang afdal rasanya jika tidak membahas sisi lain Pasuruan yang bikin saya nggak nyaman tinggal di Pasuruan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pasuruan rawan banjir<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang bukan sebuah rahasia lagi jika kota dengan padat penduduk dan lahan perkebunan yang menyempit jadi sasaran banjir, tak terkecuali Pasuruan. Yang bikin aku geleng-geleng adalah baru hujan 2 jam air sudah menggenang di beberapa titik di Pasuruan. Terkadang, nggak hujan pun, malah mendapatkan banjir kiriman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untungnya, banjir disini nggak parah seperti di Jakarta yang sampai seperti arus sungai. Paling di RT 05 banjir, di RT 06 nggak banjir, jadi modelnya cuma menggenang saja. Tapi, kalau hujannya sampai berhari-hari, RT 06 sudah pasti ikut kebanjiran. Lebih parahnya, ada beberapa pabrik yang ikut kebanjiran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banjir di sini cepat redanya, paling dua hari sampai benar-benar nggak ada air yang menggenang. Di beberapa tempat malahan ada yang paginya masih banjir pas sore sudah benar-benar surut. Jadi, semuanya tergantung daya rembes di masing-masing titik.<\/span><\/p>\n<h2><b>Nggak ada warteg, apalagi ayam geprek<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah melekat dengan anak rantau bahwa warteg dan ayam geprek menjadi pilihan penyelamat ketika kelaparan melanda. Tapi, di Pasuruan pepatah viral itu tidak ada. Kebanyakan anak kos bingung mau makan apa karena susah sekali mencari tempat makan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tepatnya di Kecamatan Gempol tempat saya ngekos, saya cuma menemukan dua warteg dengan harga dan menu yang menurutku nggak worth it. Ayam geprek atau ayam kentucky cuma ada dua saja, itu pun jarang buka. Yang ada cuma lalapan bebek, pecel lele, soto lamongan, rawon. Ini sih mentang-mentang Pasuruan dekat dengan Lamongan jadi menu yang di-highlight cuma itu-itu saja.<\/span><\/p>\n<h2><b>Nggak ada mall, untung ada bioskop<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku baru sadar kalau Pasuruan nggak punya mall setelah nonton konten TikTok dari orang Pasuruan asli. Dalam konten itu dia dengan bangganya menyebutkan <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/sandangayu_pasuruan\/?hl=en\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sandang Ayu<\/a>. Aku pikir Sandang Ayu itu sebuah mall, maka dari itu saya coba search di Google Maps siapa tahu dekat, saya mau main ke sana. Ternyata Sandang Ayu itu swalayan yang menyediakan berbagai kebutuhan rumah tangga dan memiliki playground.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah mencari Sandang Ayu, saya beralih mencari bioskop. Hanya ada satu bioskop di Pasuruan itu pun mendapatkan rating 3.9 dengan ulasan yang isinya komplain tentang fasilitas buruk dan pelayanan yang jutek. Memang paling bener main ke kabupaten tetangga saja, banyak mall yang berisi brand ternama dan tentunya ada bioskop.<\/span><\/p>\n<h2><b>Banyak pabrik di Pasuruan, tapi loker sulit<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepanjang melewati jalan raya di Pasuruan, mata saya tidak pernah lepas dari pemandangan bangunan pabrik. Ada yang kecil, ada yang pabriknya memiliki tangki besar-besar, ada yang berkarat, ada juga yang kelihatan dari depan super estetik. Maklumlah jika ada banyak pabrik, sebab Pasuruan ini dekat dengan jalan tol dan dermaga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pasuruan memang punya banyak pabrik, tapi pabrik-pabrik itu bukan diperuntukkan untuk anak kos. Bukan karena nggak punya ordal, melainkan karena lokernya itu nggak ada. Aku tanya orang yang asli Pasuruan saja mereka nggak tahu bagaimana cara masuk pabrik di daerah mereka sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa kali aku menemukan loker pabrik di Pasuruan. Pas buka kolom komentar saya cuma ngelus dada. Bagaimana tidak, pabrik yang ada di Pasuruan seringnya menerapkan gaji harian, jika ditotal dengan jumlah hari kerja, gaji tersebut di bawah UMR. Banyak juga pabrik yang menggunakan sistem borongan, ini tentu tidak cocok untuk perantau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa sisi lain yang bikin nggak nyaman tinggal di Pasuruan. Semua saya maklumi karena Pasuruan bukan tempat famous yang menjadi incaran banyak orang untuk merantau. Namun hal itu bukan masalah\u00a0 yang serius-serius amat buatku. Saya yakin pasti di belahan bumi lain juga ada daerah yang kayak gini.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Ratih Yuningsih<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kabupaten-pasuruan-kabupaten-yang-sibuk-tapi-amat-monoton\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kabupaten Pasuruan, Kabupaten yang Sibuk, Serba Ada, dan Cukup Humble, tapi Amat Monoton<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kurang afdal rasanya jika tidak membahas sisi lain Pasuruan yang bikin saya nggak nyaman tinggal di Pasuruan.<\/p>\n","protected":false},"author":2105,"featured_media":338992,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[17276,5807,28949],"class_list":["post-347978","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-pasuruan","tag-perantau","tag-umk-pasuruan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/347978","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2105"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=347978"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/347978\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/338992"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=347978"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=347978"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=347978"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}