{"id":347856,"date":"2025-07-20T11:01:55","date_gmt":"2025-07-20T04:01:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=347856"},"modified":"2025-07-20T11:01:55","modified_gmt":"2025-07-20T04:01:55","slug":"4-alasan-orang-tegal-mikir-seribu-kali-sebelum-makan-di-warteg","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alasan-orang-tegal-mikir-seribu-kali-sebelum-makan-di-warteg\/","title":{"rendered":"4 Alasan Orang Tegal Mikir Seribu Kali sebelum Makan di Warteg"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara harfiah, Warteg berarti Warung Tegal. Sebuah nama yang menggabungkan konsep warung makan sederhana dan Kota Tegal sebagai identitas asal-usulnya. Saat ini, warteg tidak hanya dijumpai di kota asalnya, tapi bisa dengan mudah ditemui di kota-kota besar. Bahkan, tempat makan yang satu ini sudah ada waralabanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Umumnya, warung Tegal menjamur di Jakarta dan sekitarnya. Warung ini jadi tempat melepas lapar para pekerja kantoran, mahasiswa, hingga <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/catatan\/perjalanan-di-solo-menyenangkan-berkat-ojol\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ojol<\/a>. Pelanggan menganggap harga makanan di warteg lebih terjangkau, menunya variatif dan porsinya lebih mengenyangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, apakah warung Tegal adalah tempat makan favorit bagi orang Tegal itu sendiri? Jawabannya, nggak juga. Bahwa warteg berasal dari Tegal, itu betul. Tapi, kalau dibilang jadi pilihan utama untuk mengisi perut, yaa\u2026 nggak gitu juga.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Warteg tempatnya kecil dan kurang nyaman<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Umumnya,<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">warteg<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> di Tegal adalah rumah makan sederhana dengan ukuran yang cukup kecil. Warteg seringkali hanya bisa menampung kurang dari 10 orang. Saking kecilnya ukuran warteg, suara aktivitas di dapur, seperti mencuci piring ataupun menggoreng lauk bisa terdengar dengan jelas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan kondisi seperti itu, agak sulit mencari kenyamanan kalau niatnya ingin makan santai. Apalagi kalau datang bawa keluarga, lengkap dengan anak kecil. Wah, malah repot sendiri. Belum lagi, fakta bahwa kebanyakan pelanggan warung Tegal adalah bapak-bapak. Itu bikin sebagian orang, terutama perempuan, merasa kurang nyaman untuk makan di tempat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maklum, bapak-bapak ini biasanya setelah makan langsung nyebat. Alhasil, ruangan sempit itu makin pengap dengan asap rokok yang nggak bisa kemana-mana.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Punya alternatif tempat lain yang lebih oke<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan lain kenapa orang Tegal jarang makan di warteg, mereka punya alternatif tempat makan lain yang lebih oke. Ini kita nggak ngomongin soal kafe kekinian yang memang makin menjamur di Kota Tegal ya. Ini kita bicara soal tempat makan lain, selain warteg, yang harganya cocok untuk kantong UMR.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tempat makan yang saya maksud adalah warung lengko dan warung sayur asem. Memang sih, beberapa warung Tegal ada yang sekalian menjual nasi lengko. Sayur asem pun sudah jadi semacam menu wajib di warteg. Tapi, rasa lengko dan sayur asem di warung Tegal berbeda dengan warung yang cuma menjual <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Sega_lengko\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">lengko<\/a> saja ataupun warung asem saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asli, kalau kalian main ke Tegal, cobalah makan di warung sayur asem. Ya Rabb, sayur asem sama pecakan ikan cucut dan mirongnya itu loh, nagih! Ini kalau penulis kenamaan Korea Selatan Baek Se-Hee pernah makan sayur asem mungkin nggak akan bikin novel\u00a0 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, tapi bikin <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">I Want to Die but I Want to Eat Sayur Asem.<\/span><\/i><\/p>\n<h2><b>#3 Harga makanan di warteg tidak murah lagi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi orang Tegal yang sedang di perantauan, makan di warteg juga tak lagi jadi pilihan utama. Sebab,<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saat-warung-nasi-padang-makin-murah-kenapa-warteg-tambah-mahal\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">harga makanan di warteg seringkali bikin menyesal<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Bayangkan saja, sudah ambil nasi dengan sayuran tanpa sepotong pun protein hewani. Begitu bayar, harganya malah lebih mahal dari sebungkus nasi Padang lauk ayam lengkap dengan kuah gulai yang mewah. Lha, tahu gitu tadi mending langsung belok ke warung Padang aja, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persoalan harga makanan warteg yang makin mahal tidak hanya terjadi di warteg di luar kota. Warteg di Tegal pun banyak yang seperti itu. Karena ya itu, kultur warteg memang bukan seperti restoran yang menampilkan daftar harga yang jelas. Biasanya, pembeli datang terus langsung tunjuk-tunjuk makanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, jadi sesuatu yang nggak umum juga bagi pembeli di warteg untuk bertanya tentang harga saat memesan. \u201cBu, kalau misal saya pesan nasi, sayur lodeh, orek tempe, sambel sama telur balado, berarti habisnya berapa, ya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, cuma bisa pasrah dengan perhitungan pemilik warteg. Harganya kerap bikin bertanya-tanya, \u201cTadi makan apa aja ya? Kok mahal?\u201d tiap kali keluar dari warung.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Banyak penjual makanan di Tegal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, alasan kenapa orang Tegal tidak makan di warteg adalah karena di Tegal banyak penjual makanan. Kalau pagi, sangatlah mudah cari penjual sarapan di Tegal. Ada yang menjajakan makanan keliling dengan sepeda ataupun motor. Ada pula yang menggunakan tenda ataupun meja sesederhana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terus siangnya, banyak pula penjual lauk keliling. Segala macam sayur dan lauk komplit\u00a0 ada di sana. Minus nasi doang, tapi itu kan bukan masalah. Tinggal ceklek magic com, beres.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian sorenya, banyak gerobak abang-abang penjual<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-kuliner-di-tegal-yang-tak-biasa-dan-wajib-dicoba\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">ponggol setan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Ponggol setan ini adalah nasi bungkus dengan lauk tempe orek yang sangat pedas. Rasa ponggol setan, tentu lebih menggugah selera daripada nasi bungkus di warteg yang sudah dimasak sejak dini hari. Pokoknya, nggak kurang-kurang makanan di Tegal. Jadi ya nggak heran jika warung Tegal bukanlah prioritas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah empat alasan kenapa orang Tegal justru jarang makan di Warteg. Dan, sebenarnya, alasan utamanya adalah mblenger\u2014alias bosan. Di Tegal, warteg itu banyak banget jumlahnya, Lur. Saking banyaknya, rasanya sudah bisa ketebak. Akhirnya, tiap kali dengar ibu bilang, \u201cIbu nggak masak, nanti beli nasi di warteg saja,\u201d perut langsung kenyang duluan padahal belum makan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Dyan Arfiana Ayu Puspita<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b> <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/warteg-siapkan-makanan-enak-dan-murah-tapi-kerap-disepelekan\/\"><b><i>Sulitnya Jadi Penjual Warteg: Sehari-hari Siapkan Menu Enak dan Murah, tapi Kerap Kurang Dihargai Pembeli<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><b>\u00a0<\/b><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagi orang Tegal, warteg tidak jadi pilihan utama. Selain bosan, ada banyak tempat lain yang nggak kalah enak dan murah, terutama di Tegal. <\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":347860,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[18483,23283,2857,3343,6273],"class_list":["post-347856","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-kuliner-tegal","tag-orang-tegal","tag-tegal","tag-warteg","tag-warung-tegal"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/347856","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=347856"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/347856\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/347860"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=347856"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=347856"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=347856"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}