{"id":347826,"date":"2025-07-20T11:56:04","date_gmt":"2025-07-20T04:56:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=347826"},"modified":"2025-07-20T11:56:04","modified_gmt":"2025-07-20T04:56:04","slug":"buat-anak-organisasi-mahasiswa-berhenti-bolos-masuk-kelas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/buat-anak-organisasi-mahasiswa-berhenti-bolos-masuk-kelas\/","title":{"rendered":"Buat Anak Organisasi Mahasiswa, Berhenti Bolos Masuk Kelas, Kegiatanmu Tidak Sepenting Itu!"},"content":{"rendered":"<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOrganisasi apa kuliah dulu ya?\u201d<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin pertanyaan ini sering menghantui mahasiswa setengah-setengah seperti saya. Jujur, saya sering dilema ketika dibenturkan pada dua pilihan tersebut. Niat hati, ingin jalan semua, organisasi mahasiswa dan kuliah, tapi apalah daya kalau sudah berbenturan, sementara diri tak punya jutsu kage bunshin layaknya Naruto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi memang begitu realitas yang sering dialami mahasiswa organisatoris yang setengah-setengah. Beda cerita dengan yang sudah mencebur ke dalam kubangan yang namanya organisasi mahasiswa. Kadang kuliah sudah bukan lagi soal. Mata kuliah sudah banyak bolongnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu pula dengan mahasiswa yang biasa dikenal dengan kupu-kupu. Memang tidak pernah bergabung organisasi. Jadinya, kuliah saja intinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi jujur, kadang saya agak sebel dengan mahasiswa yang ngaku sibuk organisasi sampai meninggalkan kewajiban kampus. Katanya terlalu sibuk di organisasi. Sebagian ada yang bilang kuliah itu nggak ada gunanya. Mulai dari dosennya lah yang kurang kompeten, sampai segudang alasan dengan tetek bengeknya.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Organisasi mahasiswa bukan halangan untuk kuliah<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, yang juga bergabung dalam organisasi, dan jujur saja pernah menjabat sebagai ketua, organisasi bukan halangan untuk tetap aktif mengikuti mata kuliah dan berprestasi\u200a\u2014\u200awalaupun saya sampai sejauh ini belum berprestasi. Organisasi itu ibaratnya sunnah. Kuliah wajibnya. Gimana logikanya, orang mengorbankan kewajiban demi mengejar sunnah?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, sepengalaman saya, kesibukan organisasi mahasiswa tidak mungkin 7\u00d724 jam. Paling cuma beberapa kali dalam sehari, itu pun sangat jarang full sehari-semalam. Kalaupun ada, pasti jarang sekali. Lagian, kenapa juga harus mengadakan kegiatan full, sudah tahu anggotanya punya kewajiban kuliah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, kuliah itu wajib. Semenjak kita memilih untuk menjadi mahasiswa, sebenarnya kita telah setuju dan sadar dengan segala kewajiban yang harus kita lakukan. Itu merupakan tanggung jawab diri kita, pada diri sendiri, juga orang tua. Kalau kewajiban pada diri sendiri saja tidak mampu kita penuhi, bagaimana mau memenuhi tanggung jawab kepada orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin sekarang ada yang mulai menggerutu. Kalau kuliah kewajiban saya, karena pilihan, maka organisasi mahasiswa juga pilihan dan saya harus bertanggung jawab. Iya, betul, saya sepakat. Tapi pertanyaannya begini, kewajiban mana yang lebih dulu mengikat? Pilihan mana yang lebih dulu ada? Kuliah atau organisasi?<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Bolos-bolos sendiri, ngamuk-ngamuk sendiri<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang yang membuat saya tidak habis pikir, sudah tahu bolos itu pilihannya sendiri, tapi giliran nggak lulus, malah bilang dosen nggak objektif. Biasanya alibinya, \u201cDosen menilai dari kehadiran, nggak rasional, sejak kapan pintar diukur dengan hadir.\u201d Iya yang kalau diskusi sok Eksistensialis. Logikanya, kalau kamu jarang hadir, gimana bisa dosen nyebut kamu pinter. Kalau jarang masuk, otomatis jarang dapat materi, jadi logikanya, gimana mau pinter?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak menutup mata, kalau belajar bisa di mana-mana. Nggak harus selamanya harus di kelas. Tapi kok makin ke sini, kadang pas tugas jawabannya sering ngelantur. Pertanyaannya urusan teknis dijawabnya filosofis. Giliran pertanyaannya filosofis, dijawabnya teknis. Belum lagi kadang jawabannya cocoklogi. Asal ada diksi yang sama dengan teori tokoh, langsung gas, masukkan. Begitu sepengalaman saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman semacam ini, sering saya temui ketika teman-teman senasib di organisasi yang jarang masuk, tiba-tiba kesurupan masuk kelas. Jarang masuk, sekali masuk langsung ngasih pertanyaan yang nancep banget, tapi salah target. Pernah saya kejadian, topiknya transformasi dakwah digital, eh malah pertanyaannya sampai ke kapitalisme. Seandainya pertanyaannya tentang <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Hermeneutika\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">hermeneutika<\/a> atau wacana, kan lebih masuk akal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi kadang, pertanyaan demikian sengaja dikeluarkan untuk membingungkan teman yang sedang presentasi. Mentang-mentang di organisasi ada kajian filsafat, orang lain mau dibuat bingung. Tentu dengan ciri khas cocoklogi. Filsafat yang seharusnya cinta kebijaksanaan, malah jadi bahan gaya-gayaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan orang yang hafal banyak teori sama yang paham teori itu ya soal ketajaman analisis. Orang yang paham, dia tahu, di mana teori itu berlaku, paham konteks, bukan asal tebas, kayak si penghafal. Kalau budaya ini terus diterapkan, ujung-ujungnya makin malas teman-teman untuk masuk organisasi. Wong yang diucapin kadang nggak nyambung sama topik.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Relasi tanpa skill ya bullshit<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang-orang seperti ini biasanya kalau sudah tujuan di sini itu kuliah, pasti alasannya begini, \u201cKuliah itu bukan cuma cari ilmu, tapi juga relasi. Relasi penting buat dirawat.\u201d Iya emang bener relasi itu penting. Tapi skill jauh lebih penting.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat apa punya relasi dari Sabang sampai Merauke, kalau skill-nya nol, siapa yang mau ngasih kerja?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya orang yang seperti ini, tipe orang yang over ngopi sama senior. Disuruh ngerawat relasi, biar enak, taunya seniornya sendiri kadang masih numpang makan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, stop nggak masuk kelas hanya gara-gara alasan dosennya kurang kompeten, rapat atau segala macam tetek bengeknya. Kuliah itu kewajiban, organisasi mahasiswa cuma sunnah. Apalagi kalau alasannya cuma kegiatan kecil organisasi, seperti kunjungan, ngurus surat atau hal yang bisa ditunda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru kalau urusannya emang menyangkut kepentingan orang banyak, seperti memperjuangkan hak rakyat misalnya, itu tak ada soal. Sebab, tugas mahasiswa memang sebagai agent of control. Jadi sudah selayaknya demikian. Idealisme tetap harus dijaga, tapi jangan lupa tanggung jawab pada diri sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ingat kawan, kuliah itu nggak murah \u2014Kecuali bagi penikmat KIP salah sasaran. Orang tua kita banting tulang buat biaya kuliah, jadi manfaatkan sebaik mungkin. Jangan mau jadi investor tetap kampus. Artefak kampus itu bukan barang antik, nggak bakal laku dijual di toko antik.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Ali Afifi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ormek-kumpulan-mahasiswa-haus-pujian-yang-patut-diwaspadai\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ormek Lebih Cocok Disebut Kumpulan Mahasiswa Haus Pujian daripada Organisasi Mahasiswa<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kuliah itu kewajiban, organisasi mahasiswa cuma sunnah. Apalagi kalau alasannya cuma kegiatan kecil organisasi.<\/p>\n","protected":false},"author":3028,"featured_media":347874,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[34,2722,6342],"class_list":["post-347826","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-mahasiswa","tag-organisasi-kampus","tag-organisasi-mahasiswa"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/347826","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3028"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=347826"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/347826\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/347874"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=347826"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=347826"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=347826"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}