{"id":347754,"date":"2025-07-19T08:07:18","date_gmt":"2025-07-19T01:07:18","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=347754"},"modified":"2025-07-19T08:07:18","modified_gmt":"2025-07-19T01:07:18","slug":"transum-jogja-terlalu-busuk-malu-sama-orang-jakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/transum-jogja-terlalu-busuk-malu-sama-orang-jakarta\/","title":{"rendered":"Pemerintah Jogja Sebaiknya Segera Memperbaiki Transportasi Umum dengan Mencontoh Jakarta karena Jogja Semakin Meresahkan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang yang lahir dan melakukan rutinitas sehari-hari di Jogja, tepatnya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sewon-bantul-tanpa-isi-jogja-cuma-jadi-daerah-antah-berantah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bantul<\/a> bagian selatan, saya cukup kaget dengan apa yang ada di Jakarta. Bukan, ini bukan tentang gaya hidup atau cara berbicara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, akhir tahun lalu saya tinggal di Jakarta selama 2 bulan. Selama melakukan rutinitas, saya cukup terbantu dengan banyaknya pilihan moda transportasi umum (transum). Kondisi ini berbanding terbalik dengan transum yang tersedia di Jogja. Untuk keperluan dalam kota, warga menggunakan Trans Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, melihat Jogja yang semakin macet, apalagi ketika musim libur, seharusnya menjadi peringatan darurat. Menurut saya, transum di kota Jogja harus berkembang lagi untuk mengurangi kemacetan yang terjadi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ini, banyak orang yang mulai tergugah untuk memanfaatkan transportasi publik. Hal ini terjadi karena banyak orang nggal lagi nyaman menggunakan kendaraan pribadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini harus menjadi perhatian dari pemangku kebijakan. Apa Jogja nggak mau menyusul Jakarta punya transum yang lebih baik?<\/span><\/p>\n<h2><b>Jangkauan rute transum di Jogja tidak merata<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah banyak kritikan untuk Trans Jogja dari banyak orang. Seharusnya, rute Trans Jogja ini bisa menjangkau seluruh kabupaten yang ada di Jogja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ingin lebih keren lagi, bisa terintegrasi dengan moda transportasi lain. Pasalnya, butuh energi ekstra untuk menjangkau halte terdekat bagi warga pinggiran kabupaten seperti saya ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di wilayah saya, halte terdekat dari rumah sekitar 9 kilometer dan itu hanya tersedia satu trayek saja, yaitu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/trans-jogja-diskriminatif-menyusahkan-masyarakat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">jurusan Malioboro<\/a>. Jadi, saya harus menaiki kendaraan pribadi untuk mencapai halte itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya, saya harus mengeluarkan tenaga dan biaya ekstra hanya untuk sampai halte Trans Jogja. Jalan kaki 9 kilometer cuma untuk sampai halte? Edan. Naik ojek? Biaya lagi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal rute, Bantul dan kabupaten lain memang jadi kayak \u201canak tiri\u201d. Misalnya di Jalan Parangtritis hanya ada sedikit halte. Dari perempatan Druwo sampai Pantai Parangtritis setahu saya tidak ada rute Trans Jogja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, Pantai Parangtritis sendiri sering menjadi tujuan pelancong dari luar kota. Selain itu, di sepanjang Jalan Parangtritis ada beberapa sekolah yang seharusnya bisa menjadi titik pemberhentian bus. Misalnya seperti kampus ISI Yogyakarta, SMAN 1 Sewon, dan SMKN 1 Bantul.<\/span><\/p>\n<h2><b>Halte ala kadarnya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Jakarta, beberapa halte pemberhentian bus sudah dirancang sedemikian rupa agar terlihat estetik. Dan tiap halte pasti ada beberapa petugas yang stand by, entah itu satpam atau petugas lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Halte-halte yang ada di Jakarta biasanya sudah ada papan informasi yang jelas mengenai rute, jam keberangkatan, maupun kedatangan bus. Setidaknya di sana haltenya tidak terlalu sempit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, yang terjadi di Jogja ini sungguh sebaliknya. Kondisi beberapa halte pernah saya temui <a href=\"https:\/\/jogjaprov.go.id\/e-lapor\/detail-e-lapor\/1306250001\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cuma ala kadarnya<\/a>. Seperti sudah tidak pernah terjamah manusia lagi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Petugas kadang juga tidak ada yang stand by di sana. Coretan pilox sudah lazim ada di halte Trans Jogja ini. Selain itu, papan informasi terkadang kondisinya sudah usang yang menyebabkan susah untuk dibaca.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini waktunya pemerintah untuk mengembangkan dan memperbaiki moda transportasi publik. Ya semata agar masyarakat di kabupaten juga merasakan manfaatnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya berharap bisa ikut menikmati transum Jogja yang satu ini. Paling tidak bisa hemat biaya dan mengubah habit kendaraan pribadi ke transum. Kalau gini terus, kapan transum Jogja bisa modern dan menyenangkan seperti Jakarta?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Yumna Aditya<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/trans-jogja-makin-hari-makin-tak-berguna\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Trans Jogja Makin Hari Makin Tak Berguna: Tidak Menjangkau Seluruh DIY, Tidak Jadi Solusi Kemacetan. Lalu, Gunanya Trans Jogja Apa?<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Transportasi Jogja itu menyedihkan. Sudah nggak merata, nggak jadi solusi kemacetan pula. Malu sama orang Jakarta.<\/p>\n","protected":false},"author":2907,"featured_media":347768,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[5766,529,23084,115,8416,4850],"class_list":["post-347754","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bantul","tag-jakarta","tag-jalan-parangtritis","tag-jogja","tag-trans-jogja","tag-transjakarta"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/347754","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2907"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=347754"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/347754\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/347768"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=347754"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=347754"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=347754"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}