{"id":347577,"date":"2025-07-17T15:10:00","date_gmt":"2025-07-17T08:10:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=347577"},"modified":"2025-07-17T15:10:00","modified_gmt":"2025-07-17T08:10:00","slug":"pengalaman-pertama-naik-bus-ekonomi-14-jam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-pertama-naik-bus-ekonomi-14-jam\/","title":{"rendered":"Pengalaman Pertama Naik Bus Ekonomi 14 Jam: Murah sih, tapi Banyak Huru-hara, Sopir Nggak Ramah!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Katanya, perempuan kalau bepergian jauh, jangan naik bus karena kurang aman. Lebih baik naik kereta, sedikit lebih mahal tapi sudah pasti nyaman dan tenang. Stereotype inilah yang membuat saya awalnya enggan bepergian antarkota naik bus.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, apa benar faktanya begitu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak aspek untuk menjawab pertanyaan tersebut. Kalo ngomongin soal fasilitas, ini berkaitan dengan kelas bus yang dipesan. Tapi, tak berarti kelas bawah pun tak punya fasilitas yang nyaman. Bus ekonomi pun, di masa kini, sudah tak seperti dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ini, sudah banyak bus kelas ekonomi yang menyediakan armada yang cukup nyaman, bahkan dilengkapi fasilitas makan. Kalau soal aman, sejauh yang saya rasakan naik bus aman-aman saja. Hanya ada beberapa hal yang pernah saya alami dan saya rasa kurang mengenakkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Waktu tiba bus terlambat 1 jam 40 menit<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman pertama saya naik bus ekonomi antarkota membawa saya dari Jogja menuju Banyuwangi dengan perjalanan selama 14 jam 20 menit. Bus berangkat dari Terminal Giwangan Yogyakarta pukul 13.30 dan diperkirakan akan tiba di Terminal Brawijaya pukul 03.50 dini hari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Duduk selama 14 jam lebih dari Jogja terasa baik-baik saja. Tempat duduk cukup nyaman karena sandaran dapat direbahkan. Ketika hari mulai gelap pun penumpang bisa beristirahat dan akan tiba di terminal tujuan pagi hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya saja perjalanan Bus AKAS MILA kali ini meleset dari waktu perkiraan. Entah apa penyebabnya, bus sampai di Terminal Brawijaya pukul setengah 6 pagi. Buat saya pribadi, keterlambatan itu tak masalah karena pagi itu tidak ada jadwal penting.<\/span><\/p>\n<h2><b>Baru mau masuk bus, udah kena semprot<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman perjalanan berangkat dari Jogja ke Banyuwangi menggunakan bus AKAS MILA bisa dibilang menjadi pengalaman pertama naik bus yang cukup nyaman. Saya memutuskan untuk pulang dari Banyuwangi ke Jogja menggunakan bus yang sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, baru naik saja, suasana langsung terasa tak mengenakkan. Saat berangkat dari Banyuwangi bus AKAS MILA masih terlihat lengang. Saya bersama satu teman perempuan membawa satu koper besar, dua ransel, dan satu kardus oleh oleh. Kami meletakkan koper di bagasi. Tetapi saat mau meletakkan kardus oleh-oleh, kernet bus nyeletuk dengan nada ketus (dengan bahasa yang tidak terlalu saya mengerti) yang kurang lebih artinya diminta membawa barangnya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat kami menaiki bus, kernet juga memaksa kami duduk di kursi belakang sopir. Bahkan sempat sampai agak berdebat karena sejauh yang kami tahu tidak ada aturan duduk di bus ekonomi ini. Akhirnya kami ngeyel saja dan memilih tempat duduk yang kami pilih. Dari sini saya mulai merasa, perjalanan pulang ini tak akan semulus saat berangkat.<\/span><\/p>\n<h2><b>14 jam perjalanan ditemani asap rokok<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari drama dengan kernet, ternyata ada hal yang lebih menyebalkan. Apa yang lebih menyebalkan dari perpaduan pengharum aroma jeruk, asap rokok, dan jalan naik turun yang berliku-liku?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bus ekonomi yang kami tumpangi terasa meliuk ke kanan dan ke kiri.\u00a0 Saya membuka aplikasi peta di telepon dan mendapati bahwa beberapa jam ke depan bus akan melewati jalan berkelok-kelok di perbukitan. Beberapa kali sopir membunyikan klakson bertubi-tubi lalu tancap gas menyalip kendaraan lain. Ini terasa seperti naik roller coaster, bukan bus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi jalan seperti ini seringkali memicu mabuk darat. Ditambah dengan asap rokok dan pengharum ruangan aroma jeruk. Merokok bagi sopir dan kernet, menjadi hal yang dimaklumi terutama untuk perjalanan yang sangat panjang. Biar tidak mengantuk dan lebih fokus katanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, peraturannya jelas bahwa tidak boleh merokok di dalam sarana angkutan umum. Pemerintah melalui UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan <a href=\"https:\/\/peraturan.bpk.go.id\/Details\/5324\/pp-no-109-tahun-2012\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">PP No. 109 Tahun 2012 Tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan<\/a> telah mewajibkan pemerintah daerah untuk menetapkan KTR (Kawasan Tanpa Rokok) di wilayahnya masing-masing melalui Peraturan Daerah (Perda) atau peraturan perundang-undangan daerah lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">KTR ini meliputi: fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Ada kekurangan, tapi gimana lagi<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, tidak ada yang berani menegur karena sopir terlihat temperamen apalagi dari caranya mengemudikan bus. Terlihat ibu-ibu sudah sepuh menutup mulut dan hidung dengan kerudungnya. Ada juga bapak bapak yang terbatuk-batuk. Saya sendiri pun terus menerus menghirup inhaler untuk memudarkan aroma asap rokok yang membuat kepala terasa pusing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan harga 190 ribu, perjalanan menggunakan bus AKAS MILA tetap bisa menjadi opsi. Meski banyak kekurangan, pengalaman pertama naik bus ekonomi ini memberi saya sudut pandang baru. Bus ekonomi mungkin bukan pilihan paling nyaman, tapi ia membuka ruang untuk melihat wajah lain dari perjalanan darat lebih dekat, lebih manusiawi, dan penuh cerita.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Leila Yumiko<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perbedaan-bus-sugeng-rahayu-ekonomi-dan-non-ekonomi-trayek-surabaya-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Perbedaan Bus Sugeng Rahayu Ekonomi dan Non-Ekonomi Trayek Surabaya-Jogja yang Perlu Diketahui Calon Penumpang<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saat ini, sudah banyak bus kelas ekonomi yang menyediakan armada yang cukup nyaman. Cuma, pengalaman saya tidak senyaman itu.<\/p>\n","protected":false},"author":3005,"featured_media":347617,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12903],"tags":[6216,19117,115],"class_list":["post-347577","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-otomotif","tag-banyuwangi","tag-bus-ekonomi","tag-jogja"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/347577","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3005"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=347577"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/347577\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/347617"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=347577"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=347577"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=347577"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}