{"id":347576,"date":"2025-07-24T14:11:59","date_gmt":"2025-07-24T07:11:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=347576"},"modified":"2025-07-24T14:15:31","modified_gmt":"2025-07-24T07:15:31","slug":"sisi-gelap-pernikahan-di-desa-yang-penuh-omongan-tetangga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-gelap-pernikahan-di-desa-yang-penuh-omongan-tetangga\/","title":{"rendered":"Sisi Gelap Pernikahan di Desa, Sudah Gadaikan Sawah Demi Biaya Hajatan, Masih Aja Jadi Omongan Tetangga"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang mengira pernikahan di desa lebih murah dan mudah. Mungkin hal itu ada benarnya. Sebab, pernikahan di desa tidak memerlukan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/movi\/wedding-organizer-jogja-yang-unik-dan-seru\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Wedding Organize (WO)<\/a>, katering, hingga dekor aestetik ala-ala seperti di kota-kota besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, sifat kekeluargaan di desa membuat biaya material atau uang yang dikeluarkan tidak begitu besar. Semua biaya bisa ditanggung bersama. Mulai dari dekorasi hingga katering. Bahkan, bisa lho pernikahan di desa bermodal nol rupiah alias tidak modal sama sekali. Sistemnya ngebon dahulu. Nanti kalau hajatan pernikahan sudah selesai, tinggal totalan dan dibayar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, tidak sedikit juga calon mempelai atau keluarga yang gengsi dan rela mengeluarkan duit banyak demi pesta pernikahan. Mungkin angka pengeluarannya tidak sebesar di kota-kota besar. Tapi, tetap saja, mereka mengeluarkan duit yang tidak sedikit. Bahkan, ada lho yang rela menggadaikan lahan sawah atau ladangnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berapa pun duit yang dikeluarkan, orang desa tetap perlu &#8220;membayar&#8221; hajatan di desa dengan mental kuat dari omongan tetangga. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan kata lain, mau berapa saja biaya yang dikeluarkan, bahkan hingga menggadaikan tanah sekalipun, pernikahan di desa nggak bisa lepas dari celaan tetangga<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Omongan tetangga bak momok bagi warga desa. Apapun hajatannya pasti selalu ada saja satu atau dua selentingan komentar negatif terkait suatu acara. Untuk itu, saya coba menganalisis secara kecil-kecilan asal muasalnya,\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Pernikahan di desa tidak menggunakan WO, tapi tetap berjalan lancar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keunikan dari pesta nikahan di desa ini walaupun nggak kenal dan nggak nyewa wedding organizer tapi tetap terlaksana dengan baik dan lancar. Ini bukan tanpa alasan karena biasanya tiap-tiap orang yang ditugaskan untuk membantu acara pernikahan, sebelumnya sudah sering menghandle pekerjaan tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya bagian masak, pasti dari ibu-ibu yang pintar masak dan yang masakannya enak. Atau bapak-bapak yang ditugaskan pasang lampu pasti bapak yang paham dengan kelistrikan. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/kesel-sama-mc-nikahan-yang-kebanyakan-ngomong\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">MC atau pasrah panampi pun<\/a> pasti di dalam desa atau dusun pasti juga punya pentolan masing-masing yang sudah jadi langganan. Pembagian tugas di desa biasanya dilakukan saat kankroh atau musyawarah acara pernikahan. Warga desa seperti sudah otomatis terplot tugasnya dan bisa membuat acara nikahan berjalan lancar.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hajatan berlangsung berhari-hari<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di desa, ada lho warga yang rela ambil cuti kerja demi bisa <a href=\"https:\/\/kumparan.com\/mohammad-fattahul-alim\/mengulik-kembali-esensi-tradisi-srawung-1x2ZEEWVddQ\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">srawung<\/a> dan membantu tetangganya hajatan. Mereka dengan tulus membantu berlangsungnya acara nikahan yang biasanya hampir seminggu. Makanya nggak heran kalau biasanya mereka kecapekan setelah rewang atau membantu di hajatan tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Udah mengeluarkan duit dan tenaga buat membantu tetangga. Namun juga harus keluar duit buat pijat atau beli obat karena kecapekan. Biasanya sih mereka kelelahan dan berakhir kaki pegal atau bengkak, kepala pusing dan flu karena sering begadang, serta ada yang sampai mual eneg karena bau asap masakan hampir setiap hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin karena besar keterlibatan warga desa pada sebuah pernikahan mereka jadi merasa berhak untuk mengulas acara secara keseluruhan ya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Uang balen atau balik modal bagian yang \u201choror\u201d dari nikahan di desa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain hajatan atau pestanya, topik pembicaraan yang cukup sering dibahas oleh warga adalah uang balen atau balik modal. Di desa, hal seperti ini sering jadi perbincangan. Sisi gelap yang cukup menyeramkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada saat akhir acara pasti ada aja omongan tetangga yang kurang enak. Bahkan, si tetangga bisa tahu uang balen yang didapatkan. Uang balen adalah jumlah sumbangan amplop yang diterima si <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gara-gara-pantangan-menikah-ngalor-ngulon-calon-suami-saya-dibuang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pengantin<\/a>. Setelah\u00a0 itu, mereka bisa mereka dan memperkirakan apakah pesta pernikahannya balik modal atau tidak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitulah desa dan segala dinamika kelekatan persaudaraan di dalamnya. Ada banyak sisi positifnya, seperti semua hal bisa dilakukan bersama-sama sehingga tidak terasa berat. Termasuk hajatan pernikahan. Namun, jangan abaikan sisi negatif yang tidak mungkin hilangan: omongan tetangga.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Wulan Maulina<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hidup-di-desa-kadang-seperti-di-neraka\/\"><b><i>Hidup di Desa Terkadang Tak Lebih Baik ketimbang Hidup di Kota, Bahkan Bisa Jadi Lebih Buruk<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyak orang mengira pernikahan di desa itu enak, lebih mudah dan murah. Mereka lupa beban omongan tetangga yang dirasakan setelah hajatan. <\/p>\n","protected":false},"author":2312,"featured_media":348622,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[322,3264,365,29239,21592],"class_list":["post-347576","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-desa","tag-hidup-di-desa","tag-pernikahan","tag-pernikahan-desa","tag-pernikahan-di-desa"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/347576","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2312"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=347576"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/347576\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/348622"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=347576"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=347576"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=347576"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}