{"id":347403,"date":"2025-07-16T13:22:10","date_gmt":"2025-07-16T06:22:10","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=347403"},"modified":"2025-07-16T13:22:10","modified_gmt":"2025-07-16T06:22:10","slug":"3-dosa-pedagang-siomay-keliling-yang-merugikan-pembeli","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-dosa-pedagang-siomay-keliling-yang-merugikan-pembeli\/","title":{"rendered":"3 \u201cDosa\u201d Pedagang Siomay Keliling yang Merugikan Pembeli: Ini Siomay atau Karet Ban?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siomay, jajanan khas Bandung ini adalah penyelamat orang yang diburu rasa lapar dan waktu di saat bersamaan. Sebagai mahasiswa yang harus beradu dengan jeda kuliah yang kelewat singkat, siomay menjadi pilihan yang tepat. Saya bisa berlari menuju kelas sembari menggigit kuliner berlumur bumbu kacang yang aduhai nikmatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya punya banyak memori dengan pedagang siomay keliling bersepeda di sekitar kampus. Tentu saja, memori tidak semuanya menyenangkan. Memori baik pasti ada ada, tapi memori buruk juga tidak jarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, hal-hal menyenangkan tentang siomay tentu sudah biasa. Rasanya enak, teksturnya yang pas, bumbu yang aduhai, pasti berkutat-kutat di situ. Tapi yang negatif, tentu sulit diterka. Nah, dalam tulisan ini, saya ingin membagikan \u201cdosa\u201d pedagang siomay yang bikin pengalaman makan jajanan ini terasa menyebalkan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Bumbu kacang yang dibuat terlalu encer<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bumbu kacang dan siomay sudah jadi paket komplit. Tak terpisahkan. Bahkan bumbu kacang bisa dibilang jadi kunci dari nikmatnya seporsi kuliner ini. Hampir tidak mungkin seseorang membuat siomay tanpa bumbu kacang, makanya dalam resepnya disertakan cara membuat bumbu kacangnya. Seperti di resep yang diunggah oleh <a href=\"https:\/\/www.idntimes.com\/food\/recipe\/resep-siomay-ikan-tenggiri-c1c2-01-8rdny-gb3pls\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>IDN Times<\/em><\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, bumbu kacang yang enak, adalah yang kental. Tak kental-kental amat, tapi jelas jangan sampai encer. Tapi sayang, saya harus mengalami menikmati siomay dengan bumbu kacang yang encer. Rasanya seperti air dengan remahan kacang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dosa pertama soal bumbu kacang ini mungkin bagi sebagian orang masih diterima karena pemeran utamanya adalah si siomay. Tapi bagi saya, ini tetap saja merugikan pembeli. Masalahnya bumbu kacang juga jadi aktor penting dalam kenikmatan sebungkus siomay.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pedagang memang tetaplah seorang pedagang. Cuan jadi hal paling utama. Mungkin saking tidak mau ruginya, ya, bumbu kacang yang biasanya kental dan pekat dibuat jadi encer.<\/span><\/p>\n<h2><b>Siomay ikan atau beraroma ikan?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dosa yang satu ini sudah biasa terjadi. Kuliner ini selalu berhasil memikat pembeli dengan aroma di balik kepulan uapnya. Bayangkan di tengah huru-hara perpindahan kelas dengan jam istirahat yang sempit, perut lapar dan penciuman menjadi tajam, aromanya memanggil saya dengan cepat. Seperti menemukan sesuatu yang sangat cocok dengan apa yang diinginkan perut saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, aroma ternyata memang tidak menjamin rasa. Tidak jarang saya merasa kecewa dengan pedagang siomay keliling karena ini. Aroma ikan yang kuat dari panci tersebut ternyata cuma aroma.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini. Siomay biasanya berbahan dasar ikan tenggiri atau ikan laut semacamnya. Tapi, tak jarang yang saya dapatkan adalah gumpalan tepung kanji beraroma ikan. Ya, mau berharap apa dari makanan seharga 5 ribuan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dosa ini sangat sering saya temukan di pedagang siomay keliling. Tidak hanya di kampus tapi di tempat-tempat lainnya. Rasanya saya memang tidak boleh berharap dengan aroma. Benar kata Souljah, tak selalu, yang beraroma itu indah.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Alot banget, kek negosiasi gaji<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harusnya, dua masalah di atas sudah bikin saya memikirkan ulang keputusan beli jajanan ini. tapi namanya manusia, sulit betul untuk kapok. Dan saya masih sering beli siomay, yang berujung ketemu dosa ketiga ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu hari, saya melintasi jalanan kampus dan melihat kepulan uap dari panci siomay yang menggoda mata. Saya memutuskan, akan \u201cmenyerang\u201d siomay itu nanti sepulangnya dari kuliah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah selesai kelas, saya semangat menarik seorang teman untuk membeli siomay tadi. Singkat cerita, sebungkus siomay seharga 10 ribu sudah di tangan. Tapi sayangnya saya lupa. Bukan cuma perut yang harus dikenyangkan. Mulut dan lidah juga perlu dimanjakan dengan sesuatu yang nikmat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siomay yang mengganggu pikiran saya itu ternyata beneran mengganggu. Saya kira, rasanya akan nikmat, tapi yang saya dapatkan nggak sekadar tepung kanji beraroma ikan, tapi karet bundar beraroma ikan, alias alot!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, adonan kuliner ini adalah pemeran utama yang harus dinikmati semua pembelinya. Saya nggak tau kenapa adonannya dibikin sealot ini. kalau menekan biaya produksi, kok kebangetan. Tapi kok ya saya nemu ini nggak hanya sekali. Jadilah siomay yang menari indah di kepala, berujung penyesalan yang bikin kecewa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi-lagi, Souljah benar. Tak selalu, yang berkilau itu indah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah 3 dosa besar pedagang siomay keliling yang merugikan pembeli. Bagi pedagang sudah pasti yang dicari adalah cuan. Tapi tolong, para pedagang keliling di luar sana juga harus ingat ini. Pembeli cuma pengen beli siomay ikan dengan bumbu kacang kental, rasa ikan, dan yang pasti tidak alot. Nggak sulit kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya kan?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Karisma Nur Fitria<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-cara-mudah-mengenali-siomay-kaki-lima-enak-dijamin-nggak-zonk\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Cara Mudah Mengenali Siomay Kaki Lima yang Enak, Dijamin Nggak Zonk!<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tolong, para pedagang siomay keliling di luar sana juga harus ingat ini. Pembeli cuma pengen beli siomay yang proper. Bisa kan?<\/p>\n","protected":false},"author":3024,"featured_media":332336,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[29179,12740,25686,29178],"class_list":["post-347403","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-adonan-siomay","tag-bumbu-kacang","tag-siomay","tag-siomay-ikan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/347403","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3024"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=347403"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/347403\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/332336"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=347403"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=347403"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=347403"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}