{"id":347382,"date":"2025-07-17T09:09:36","date_gmt":"2025-07-17T02:09:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=347382"},"modified":"2025-07-16T19:39:19","modified_gmt":"2025-07-16T12:39:19","slug":"benang-layangan-jadi-ancaman-di-jalan-bukti-kegagalan-negara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/benang-layangan-jadi-ancaman-di-jalan-bukti-kegagalan-negara\/","title":{"rendered":"Benang Layangan Jadi Ancaman bagi Pengendara Itu Bukan Salah Bocil, tapi Bukti Nyata Negara Gagal Menyediakan Ruang Terbuka"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Benang layangan yang terlihat sepele ternyata bisa berubah menjadi ancaman serius. Dari sekian banyak kejadian, saya sering mendengar<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kebiasaan-pengendara-motor-yang-sebenarnya-melanggar-aturan-dan-bikin-celaka\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> pengendara motor<\/a> terluka karena lehernya terjerat benang layangan. Ada juga berita tentang kabel listrik yang putus gara-gara layangan tersangkut, bahkan padamnya listrik yang dipicu gesekan akibat benang gelasan\u2014benang yang diberi serbuk kaca untuk lebih tajam\u2014tersangkut dan menggores kabel listrik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Disisi lain, di tengah semua bahaya ini, banyak orang dewasa yang justru terburu-buru menyalahkan anak-anak. Padahal, kalau mau jujur, masalahnya lebih kompleks dari itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya paham betul kekhawatiran para orang tua dan warga kota. Benang layangan, terutama yang terbuat dari gelasan, memang bisa jadi ancaman mematikan. Bagi pengendara motor, itu mimpi buruk. Leher bisa tergores, luka parah, bahkan ada kasus yang sampai merenggut nyawa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap musim kemarau tiba, seperti saat ini ketika angin mulai stabil dan langit cerah, musim layangan pun dimulai. Sayangnya, justru di musim inilah banyak potensi kecelakaan bermunculan. Sebab, aktivitas main layangan sering kali berpindah ke tempat yang tidak seharusnya: jalan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jangan langsung salahkan anak-anak yang bermain layangan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, kita sebagai orang dewasa jangan buru-buru salahkan anak-anak atas insiden ini. Coba deh lihat realita yang ada. Dulu, anak-anak bisa main layangan di sawah yang luas atau lapangan yang terbuka. Sekarang? Banyak dari ruang terbuka itu sudah berganti wajah. Sawah disulap jadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tinggal-di-perumahan-nggak-semenyenangkan-itu-ini-dia-3-alasannya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">perumahan elit<\/a> dan lapangan berubah jadi kafe hits dengan lampu warna-warni.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya nggak salah juga sih kalau ada orang yang ingin tinggal di rumah baru atau membuka kafe. Tapi, dampaknya, ruang bermain untuk anak-anak kian menyusut. Anak-anak akhirnya mencari ruang alternatif: jalan raya, gang sempit, atau bahu jalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah lihat sendiri, anak-anak berlarian mengejar layangan yang putus hasil sambitan di tengah jalan. Mereka bahkan tanpa ragu menyeberang di tengah lalu lintas yang ramai. Buat mereka, mengejar layangan yang putus semacam petualangan seru. Tapi, buat orang dewasa yang melihatnya? Deg-degan bukan main. Potensi kecelakaan sangat besar, baik untuk si anak maupun pengendara yang kaget melihat bocah tiba-tiba menyeberang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ancaman benang layangan di jalanan tanda minimnya ruang terbuka aman<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini bukan cuma soal layang-layang. Ini soal kurangnya ruang aman dan layak bagi anak untuk bermain. Idealnya, sebuah kota punya ruang terbuka hijau (RTH) minimal 30% dari luas wilayah, tapi kenyataannya banyak kota besar di Indonesia yang bahkan tidak mencapai setengah dari angka itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak-anak akhirnya tumbuh dalam lingkungan yang sempit, baik secara fisik maupun sosial. Mereka lebih sering disuruh diam di rumah, main gadget. Kalaupun keluar, ya main di tempat yang kurang aman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja saya tidak bisa serta-merta membela anak-anak yang main layangan sembarangan. Perlu ada edukasi juga soal bahaya dan batasan-batasan bermain. Tapi, membentak, atau bahkan memukul mereka bukan solusi. Anak-anak hanya mencari ruang untuk menjadi anak-anak. Mereka belum paham risiko, belum cukup umur untuk berpikir panjang. Tanggung jawab utama tetap ada di tangan kita\u2014orang dewasa.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pemerintah perlu turut campur<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah daerah bisa mulai memikirkan kembali pentingnya<a href=\"https:\/\/new.widyamataram.ac.id\/content\/news\/ruang-publik-dan-pemanfaatannya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> ruang terbuka publik<\/a> yang aman dan terjangkau. Entah itu taman, lapangan bola, atau sekadar lahan kosong yang dijaga fungsinya. Ruang seperti itu bisa menjadi tempat pelarian yang sehat untuk anak-anak, alih-alih mereka harus bermain di pinggir jalan atau atap rumah tetangga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalau kita melihat anak-anak bermain layangan di pinggir jalan atau di atap rumah, jangan langsung marah. Coba tengok dulu sekeliling: adakah tempat yang lebih aman yang bisa mereka akses? Kalau tidak ada, itu berarti kita yang perlu bergerak. Mungkin bukan salah siapa-siapa, tapi sudah saatnya kita berhenti saling menyalahkan dan mulai mencari solusi bersama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Layangan seharusnya jadi lambang keceriaan anak-anak. Tapi, kalau tidak ditangani dengan bijak, benangnya bisa jadi ancaman berbahaya. Bukan hanya bagi tubuh, tapi juga bagi masa depan ruang terbuka dan permainan tradisional di kota kita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Imam Dwi Widiantoro<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/benang-layangan-bahaya-mematikan-yang-kerap-diabaikan\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">B<em>enang Layangan Melintang di Jalan, Bahaya Mematikan yang Tak Terlihat dan Sayangnya Kerap Diabaikan<\/em><\/span><\/a><b>.<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ancaman benang layanan di jalanan nggak melulu salah anak-anak. Mereka tidak punya ruang terbuka yang aman di sekitar tempat tinggalnya. <\/p>\n","protected":false},"author":2991,"featured_media":347489,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[20794,29148,1005],"class_list":["post-347382","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-ancaman","tag-benang-layangan","tag-ruang-publik"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/347382","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2991"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=347382"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/347382\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/347489"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=347382"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=347382"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=347382"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}