{"id":347064,"date":"2025-07-14T14:55:00","date_gmt":"2025-07-14T07:55:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=347064"},"modified":"2025-07-14T14:55:00","modified_gmt":"2025-07-14T07:55:00","slug":"kereta-airlangga-kereta-murah-yang-bikin-sakit-punggungmu-makin-parah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kereta-airlangga-kereta-murah-yang-bikin-sakit-punggungmu-makin-parah\/","title":{"rendered":"Kereta Airlangga: Kereta Murah yang Bikin Sakit Punggungmu Makin Parah, Kursinya Tegak Banget!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malam Minggu itu menjadi saksi pengalaman perdana saya naik Kereta Airlangga seharga Rp49 ribu dari Stasiun Poncol Semarang, ke Stasiun Pasar Turi Surabaya. Kereta yang konon mempunyai kenyamanan tingkat dewa dengan kursi saling berhadapan, sandaran tegak 90 derajat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena waktu itu kali pertama saya naik kereta, sehingga perasaan takut ketinggalan kereta jelas mengakar kuat. Sampai-sampai saya tiba di Stasiun Poncol dua jam lebih awal. Iya, tahu, berlebihan, namanya juga orang paranoid. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata, kursi tunggu sudah penuh oleh penumpang yang mungkin sama paranoid-nya dengan saya. Akhirnya, memilih duduk di lantai dekat musala stasiun sambil memantau jadwal keberangkatan di papan elektronik pilihan terakhir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tiba-tiba, seorang pria dengan wajah lesu mendekat. &#8220;Mas, saya butuh bantuan. Istri saya mau lahiran di RS, tapi uang saya habis buat beli tiket bus,&#8221; katanya dengan suara getir setelah turun dari kereta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bingung, antara ingin membantu tapi sadar dompet juga sudah sekarat. &#8220;Maaf, Pak, saya juga pas-pasan,&#8221; jawab saya sambil merasa bersalah. Pria itu mengangguk pasrah dan mencoba melobby orang lain juga yang ada di stasiun sebelum menghilang di kerumunan penumpang. Dan saya pun kembali menunggu Kereta Airlangga, dalam sepi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baiklah, kembali ke pengalaman naik Kereta Airlangga, yang tegak banget, kek mau baris berbaris.<\/span><\/p>\n<h2><b>Cetak boarding pass &amp; keributan pecah di peron<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sehabis berhasil mencetak boarding pass, kemudian langsung menuju peron setelah melewati pemeriksaan tiket yang petugasnya ketus, tak menunjukkan titik ramah sama sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peron ramai sekali waktu itu. Saya mengobrol dengan seorang bapak-bapak yang ternyata juga pertama kali naik Kereta Airlangga. Obrolan ringan kami tiba-tiba terpotong oleh keributan di ujung peron. Sekelompok penumpang yang baru turun dari kereta lain terlibat adu mulut, entah karena salah paham atau apa. Petugas bergegas melerai, dan saya cuma bisa geleng-geleng.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masuk gerbong dan kesusahan mencari kursi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat kereta tiba, saya langsung menuju gerbong satu sesuai tiket. Dan ternyata, gerbong itu jauh di depan. &#8220;Lah, kok gini? Jauh banget di depan,&#8221; gumamku. Seorang bapak yang tadi ngobrol denganku menyeringai, &#8220;Kalau mau dekat, pilih gerbong tengah, Mas!&#8221; Saya cuma bisa nyengir sambil bergegas berjalan ke depan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu masuk, saya sempat kebingungan mencari kursi. Dan ternyata, saya sudah melewatinya. Saya memilih kursi 22A dekat jendela.<\/span><\/p>\n<h2><b>&#8220;Ini enak banget, siapa bilang kursi Kereta Airlangga jelek?&#8221;<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya, kursi Kereta Airlangga yang sering dihujat ini terasa nyaman. Saya meresa nggak ada yang salah sama sekali. Sandaran yang tegak justru membuat punggung agak rileks di awal. Di sebelah saya, ada seorang ibu-ibu yang sibuk dengan tabletnya. Untungnya, dia cukup berempati dengan memakai TWS saat menonton video, jadi tidak mengganggu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara di depan saya, duduk sepasang muda-mudi yang terlihat mesra, mungkin masih dalam fase &#8220;rekah-rekahnya&#8221; hubungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perjalanan dimulai setelah lewat setengah jam, kenyamanan itu berubah jadi siksaan. Kaki mulai kesemutan karena ruang kaki sempit. Pinggang pegal karena sandaran 90 derajat tadi ternyata &#8220;tidak ramah&#8221; untuk tidur. Ditambah meski ada AC yang ditempel, hawa dinginnya tak ada kontribusinya sama sekali. Saya merasa gerah sekali untuk penumpang di ujung gerbong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mencoba mengubah posisi duduk, tapi tetap saja tidak membantu. &#8220;Ini kursi atau alat penyiksaan?&#8221; batin saya sambil menatap kosong ke luar jendela Kereta Airlangga. Rasanya sungguh seperti duduk di iron chair abad pertengahan. Beberapa kali saya mencoba memejamkan mata, berharap ketika terbuka, kereta sudah sampai di Stasiun Pasar Turi. Tapi kenyataannya, waktu berjalan seperti diperlambat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pelajaran hidup dari kereta murah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah penderitaan, saya tersadar:\u00a0 mau gimana lagi? Harga 49 ribu mau fasilitas seperti apa? Mosok gelem murahe ora gelem tersiksane? Ya, begitulah hukum alam. Kalau mau nyaman, harus siap bayar lebih. Kereta Airlangga memang bukan untuk mereka yang manja, tapi untuk para pejuang budget pas-pasan yang rela bertaruh kenyamanan demi ongkos murah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, setelah perjalanan yang terasa seperti &#8220;penebusan dosa&#8221;, kereta sampai di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Stasiun_Surabaya_Pasarturi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pasar Turi<\/a> hampir tengah malam. Saya turun dengan perasaan lega dan punggung yang sedikit kaku. Pengalaman pertama naik kereta Airlangga ini mengajarkanku satu hal: kalau mau nyaman, jangan cari yang murah. Tapi kalau mau murah, siap-siap saja menderita.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Budi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/catatan\/kereta-murah-ka-airlangga-saksi-hidup-perantau\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Coba-coba Naik KA Airlangga Jakarta-Surabaya: Bahagia Tiketnya Cuma Seharga 2 Porsi Pecel Lele, tapi Berujung Tak Tega sama Penumpangnya<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengalaman pertama naik Kereta Airlangga ini mengajarkanku satu hal: kalau mau nyaman, jangan cari yang murah. <\/p>\n","protected":false},"author":1041,"featured_media":347141,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12903],"tags":[29166,27736],"class_list":["post-347064","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-otomotif","tag-kereta-airlangga","tag-kursi-kereta-ekonomi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/347064","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1041"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=347064"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/347064\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/347141"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=347064"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=347064"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=347064"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}