{"id":346995,"date":"2025-07-15T11:03:25","date_gmt":"2025-07-15T04:03:25","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=346995"},"modified":"2025-07-15T12:01:04","modified_gmt":"2025-07-15T05:01:04","slug":"menyesal-kuliah-jurusan-pendidikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menyesal-kuliah-jurusan-pendidikan\/","title":{"rendered":"Menyesal Kuliah Jurusan Pendidikan, Tiga Tahun Mengajar di Sekolah Nggak Kuat, Sekolah Menjadi Ladang Bisnis Berkedok Agama"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau bisa pakai mesin waktu, saya mau kembali ke hari ketika saya milih jurusan kuliah. Waktu itu saya daftar ke jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Memang dari SMA setiap mata pelajaran Bahasa Inggris nilai saya di atas sembilan, tapi sebenarnya saya ingin kuliah di bidang seni, tapi orang tua kasih nasihat: \u201cKalau kuliah bahasa Inggris, bisa nyambi ngelesin anak orang.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Betul juga sih. Nyatanya saya memang sempat ngelesin beberapa anak. Tapi \u201canak-anaknya\u201d ini rumahnya entah di mana. Jarak rumah ke rumah siswa seperti perjalanan mudik. Apalagi saat itu masih pandemi, jadi sering kuliah online di tengah jalan terik, biasanya sehabis ngajar, makanya suka iri liat teman lain bisa off cam terus tiduran pas dosen ceramah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya? Harus berdiri di trotoar terdekat karena biar ga telat masuk kelas, di coret sama dosen killer ngga lulus matkul dia nanti. Penghasilan dari les privat itu kadang nggak sebanding sama ongkos dan waktu tempuh. Dari situ, rasa menyesal saya pelan-pelan tumbuh.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Gaji, ada. Tapi&#8230;<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika memasuki semester 7 kuliah jurusan pendidikan, saya ikut program magang pemerintah. Ditempatkan di sekolah swasta, di area pinggiran kota Depok, mayoritas siswanya dari keluarga ekonomi ke bawah. Gajinya? Ya ada. Tapi masuknya bisa kayak hujan: nggak tentu. Kadang termin pertama datang pas kita sudah lupa pernah kerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, ada sisi baiknya, walaupun muridnya kadang ngeselin karena kelakuannya, tapi ada juga yang menyenangkan, sebenarnya mereka hanya kurang perhatian dari orang di rumah. Alhasil saya dan teman-teman magang memberikan atensi lebih kepada mereka dan mereka jadi senang dan rispek sama kita. Guru-gurunya juga menyenangkan, sangat baik, dan juga sudah seperti keluarga buat saya sampai saat ini. Tapi itu tidak bertahan lama.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Penderitaan kuliah jurusan pendidikan dimulai<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di balik warga sekolah yang membuat saya seperti di rumah. Penderitaan dimulai ketika guru TIK di sekolah resign di tengah tahun ajaran. Karena saya sering bantuin benerin komputer yang lebih pantas disebut artefak, kepala sekolah \u201cmenunjuk\u201d saya jadi guru TIK. Tanpa pelatihan, tanpa tambahan gaji, tanpa komputer baru. Labnya lebih cocok disebut museum perangkat usang daripada tempat belajar teknologi. Masih menggunakan windows XP yang, main Zuma ajah nge-lag nya sudah minta ampun.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahun pertama, saya resmi jadi guru. Digaji Rp10 ribu per jam, total 6 jam seminggu. Tapi kerjanya? Gila. Saya langsung dihantam dengan <a href=\"https:\/\/anbk.kemdikbud.go.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ANBK<\/a> (Asesmen Nasional Berbasis Komputer) Sebagai guru TIK tanggung jawab saya cukup besar, melihat komputer yang seperti itu sudah pasti ANBK nya, gagal total!\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain ngajar, saya juga harus bantu bikin dokumen Penilaian Kinerja Kepala Sekolah, bantu akreditasi sekolah, sampai ngurusin laporan keuangan yang bahkan gaji saya sendiri belum jelas. Sekali waktu, kami harus \u201cmenyambut\u201d pengawas sekolah yang datang bukan untuk mengawasi, tapi bawa proposal penuh kode agar \u201cpenilaian\u201d lancar. Padahal, guru-gurunya masih belum gajian karena uang SPP belum lunas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ironisnya, ketika orang tua siswa datang ke sekolah, alih-alih bayar SPP, mereka malah curhat soal rumah tangga. Kadang soal suami selingkuh, kadang soal mertua nyebelin. Saya guru, bukan konselor KUA.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Penderitaan jurusan pendidikan part 2<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahun kedua, saya mengajar di dua sekolah. Di sekolah kedua, saya ngajar Bahasa Inggris 11 jam seminggu dengan bayaran Rp15 ribu per jam. Lumayan. Tapi di sekolah pertama, saya masih harus ngajar dua mapel: TIK dan Bahasa Inggris. Gajinya malah turun jadi Rp9 ribu per jam. Alasannya? Jumlah siswa baru menurun. Jam ngajar dipotong. Rasanya kayak kerja keras tapi hidup makin ke belakang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan kemudian drama utama dimulai: saya diangkat jadi Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum. Bukan karena prestasi saya mengharumkan nama sekolah, tapi karena tidak ada orang lain yang bisa diangkat. SDM sekolah sudah mirip klub sepak bola divisi bawah, minim stok pemain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jabatan baru ini membawa saya ke level konflik yang lebih tinggi. Saya mulai sering ribut sama oknum dinas. Mereka sering datang dengan alasan rapat, sosialisasi, atau sekadar \u201cmenengok\u201d sekolah. Tapi setiap kedatangan selalu dibumbui dengan kebutuhan akan \u201cpelicin.\u201d Lama-lama, saya mulai kehilangan akal sehat ketika tahu bahwa uang untuk menggaji guru belum ada, tapi dana untuk menyenangkan tamu dari dinas harus tetap disiapkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya marah. Saya kecewa. Dan tentu saja, saya capek.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Setelah tiga tahun<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah tiga tahun, saya memutuskan untuk resign. Dunia pendidikan yang dulu saya kira suci dan mulia ternyata cuma ladang bisnis. Sekolah menjual program keunggulan berbasis agama, tapi praktiknya penuh intrik, suap-menyuap, dan janji palsu. Nilai agama hanya jadi tempelan di brosur penerimaan siswa baru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tahu nggak semua sekolah begitu. Tapi pengalaman ini cukup membuat saya berhenti berharap banyak dari sistem pendidikan swasta akar rumput. Saya tidak anti sekolah. Saya hanya muak dengan sistem yang lebih menghargai administrasi daripada kemanusiaan, lebih peduli akreditasi daripada kesejahteraan guru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan hari ini, saya ingin bilang satu hal ke versi muda saya yang dulu milih jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, atau jurusan pendidikan secara umum: \u201cNggak semua yang kelihatannya aman itu layak dijalani. Kadang, lebih baik meyakinkan orang tua kalau saya bisa dengan jalan yang mau saya ambil daripada ribut terus sama orang dinas.\u201d<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Pramudya Baskara Putra<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-pendidikan-itu-memang-gampang-dan-sepele\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jurusan Pendidikan Itu Memang Gampang dan Sepele kok, Beneran deh, Serius<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau bisa pakai mesin waktu, saya mau kembali ke hari ketika saya milih jurusan kuliah, dan tak memilih jurusan pendidikan.<\/p>\n","protected":false},"author":3021,"featured_media":239825,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[2094,4783,2093,1115],"class_list":["post-346995","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-guru","tag-jurusan-kuliah","tag-jurusan-pendidikan","tag-korupsi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/346995","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3021"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=346995"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/346995\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/239825"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=346995"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=346995"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=346995"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}