{"id":346886,"date":"2025-07-12T10:26:40","date_gmt":"2025-07-12T03:26:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=346886"},"modified":"2025-07-12T10:26:40","modified_gmt":"2025-07-12T03:26:40","slug":"semarang-kota-yang-nanggung-dan-membosankan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/semarang-kota-yang-nanggung-dan-membosankan\/","title":{"rendered":"Dulu Pengin Segera Kabur dari Semarang, Kota yang Nanggung dan Membosankan, kini Selalu Kangen Setelah Kerja di Jakarta"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya lahir dan besar di Semarang. Kota ini menyandang berbagai status. Mulai dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-lumpia-semarang-yang-bikin-kecewa-wisatawan-jangan-dibeli\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kota lumpia<\/a>, pelabuhan, dan kota sejarah. Tapi buat saya pribadi, Semarang adalah kota yang B aja. Nanggung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semarang nggak se-hipster Bandung, soal budaya kalah sama Jogja, dan kemacetannya kalah sama Jakarta. Bahkan dulu saya pernah mikir, kalau Semarang ibarat manusia, dia tipe yang selalu duduk di pojok ruangan pas acara keluarga, diem doang, dan kalau diajak ngobrol jawabnya, \u201cHehe iya, Mbak.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak bilang Semarang jelek, ya. Tapi sebagai anak muda yang haus eksplorasi, saya merasa kota ini itu terlalu adem. Terlalu tenang dan datar. Kota yang bikin kamu bingung mau ngeluh soal apa, selain soal panasnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kangen Semarang setelah kerja di Jakarta<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu saya mikir, \u201cAduh, kapan ya bisa kabur dari kota ini?\u201d Eh, akhirnya terkabul. Sekarang saya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tidak-kerja-di-jakarta-bikin-saya-bersyukur-sekaligus-menaruh-hormat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kerja di Jakarta<\/a>. Kota yang isinya deadline, kemacetan, dan orang-orang yang kalau senyum pun kayaknya pakai target.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi lucunya, justru sejak di Jakarta, saya jadi sering kangen Semarang. Kangen banget. Kangen hal-hal yang dulu saya anggap remeh. Kayak panasnya. Iya, panasnya yang absurd itu. Panas yang bikin ketiak kering sebelum sempat basah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, ya, itu panas yang familiar. Panas yang saya kenal sejak kecil. Panas yang, jujur, lebih saya pilih daripada \u201dgerahnya\u201d hidup di ibukota.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya juga kangen makanan-makanannya. Soto Semarang yang kuahnya ringan seringan omongan mulutmu yang melukaiku. Halah&#8230;. <a href=\"https:\/\/food.detik.com\/pengalaman-bersantap\/d-7134471\/adu-lezat-3-nasi-goreng-babat-di-semarang-mana-yang-rasanya-juara\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Nasi goreng babat<\/a> yang bikin kolesterol naik, lumpia, tahu gimbal, dan jajanan random pinggir jalan yang bahkan abang-abangnya hafal saya sukanya yang asin dan pedes banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan yang paling saya kangenin: logat Semarang yang absurd. Logat yang hobi banget nambahin imbuhan \u201c-ik\u201d di akhir kata. \u201cCepet ik.\u201d \u201cBener ik.\u201d Dulu saya geli sendiri denger orang ngomong gitu. Sekarang, saya denger itu di TikTok langsung senyum-senyum kayak orang jatuh cinta lagi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ternyata, memang harus pergi dulu biar tahu rasanya kangen<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harus kehilangan dulu biar tahu nilainya. Harus nyicipin kehidupan keras ala Jakarta dulu biar bisa bilang, \u201cYa ampun, Semarang tuh ternyata nyaman banget, ya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konsep ini ternyata juga berlaku buat banyak hal. Termasuk hubungan. Dulu waktu pacaran, ya biasa aja. Tapi pas udahan, langsung jadi pengamat Instagram Story kelas berat. Hehe nggak deng bercanda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan mungkin, ini juga berlaku buat tempat kerja. Kadang kita ngeluh terus soal kerjaan. Capek. Suntuk. Bosnya ngeselin. Temennya toxic. Tapi siapa tahu, 5 tahun dari sekarang, kita malah kangen. Kangen suasana kantor, temen kerja yang hobi bikin drama, dan kantin kantor yang lauknya itu-itu aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya, sekarang saya belajar pelan-pelan buat menghargai hal-hal yang dulu saya anggap \u201cmalesin\u201d. Termasuk Semarang dan rutinitasnya. Kadang kita anggap hidup ini sering terasa garing, tapi ternyata isinya kenangan semua.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dulu terlalu banyak ngeluh<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semarang, maaf, ya. Dulu aku nyinyir, gampang ngeluh, sampai pengin kabur. Padahal kamu tuh bukan kota yang kurang asyik. Aku aja yang dulu keasyikan cari hidup yang lebih ribet.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang kita cuma kangen karena ya kangen aja. Kangen pulang, hal-hal receh, dan merasa rindu ngerasa \u201cpas\u201d di tempat yang dulu kita pikir nggak cocok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata benar ya, kadang kita memang harus pergi jauh dulu dari Semarang biar bisa bilang, \u201cEh, ternyata tempat itu lumayan juga, ya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan mungkin, pelajaran paling penting dari semua ini adalah jangan terlalu buru-buru nge-judge sesuatu. Termasuk kota, orang lain, dan kantor. Soalnya bisa aja, yang hari ini kamu keluhkan, besok jadi yang paling kamu cari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ken Elsaning Savitri<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-hal-yang-bikin-kangen-semarang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Hal yang Bikin Saya Kangen Semarang dan Ingin Kembali ke Sana<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Buat saya pribadi, Semarang adalah kota yang B aja. Nanggung. Membosankan. Tapi itu dulu sebelum saya pergi dan bekerja di Jakarta.<\/p>\n","protected":false},"author":2734,"featured_media":346895,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[529,10003,16069,29153,4652,29152],"class_list":["post-346886","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jakarta","tag-kota-semarang","tag-lumpia-semarang","tag-nasi-goreng-babat-semarang","tag-semarang","tag-tahu-gimbal-semarang"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/346886","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2734"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=346886"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/346886\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/346895"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=346886"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=346886"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=346886"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}