{"id":345136,"date":"2025-07-09T12:04:27","date_gmt":"2025-07-09T05:04:27","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=345136"},"modified":"2025-07-09T12:04:27","modified_gmt":"2025-07-09T05:04:27","slug":"kebumen-kabupaten-yang-harusnya-kaya-tapi-malah-termiskin-di-jawa-tengah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kebumen-kabupaten-yang-harusnya-kaya-tapi-malah-termiskin-di-jawa-tengah\/","title":{"rendered":"Kebumen: Kabupaten yang Harusnya Surga Wisata dan Kaya, tapi Malah Termiskin di Jawa Tengah, kok Bisa?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hidup itu memang penuh ironi. Kayak cowok ganteng tapi galau terus, atau cewek pintar tapi susah dapat jodoh. Nah, hal yang sama juga terjadi pada beberapa daerah di Indonesia. Ada yang punya segalanya tapi tetap aja miskin. Salah satunya adalah Kebumen, Jawa Tengah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebumen itu paradoks banget sih. Bayangin aja, daerah ini punya segudang tempat wisata yang instagramable abis. Mulai dari Pantai Menganti yang hits, Benteng Van der Wijck yang bersejarah, sampai Goa Jatijajar yang eksotis. Tapi ironisnya, Kebumen malah jadi daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Jawa Tengah berdasarkan data BPS 2024. Kok bisa?<\/span><\/p>\n<h2><b>Kebumen punya segalanya, tapi tetap miskin<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal potensi wisata, Kebumen sebetulnya nggak main-main. Ada Pantai Menganti yang view-nya bisa bikin Bali minder. Ada Goa Jatijajar, Benteng Van Der Wijck, Bukit Pentulu Indah, sampai Karangsambung yang jadi laboratorium geologi nasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ya itu, banyak tempat wisata ini belum dikelola maksimal. Masih minim penginapan, transportasi umum, promosi digital juga belum nendang. Padahal, kalau dikelola serius, Kebumen bisa jadi \u201cBali-nya Jawa Tengah bagian selatan\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, potensi wisata ini belum cukup buat mendongkrak ekonomi masyarakat. Berdasarkan data BPS 2024, tingkat kemiskinan di Kebumen pada 2024 masih di angka 15,71% (sekitar 187.950 jiwa). Angka ini jauh di atas rata-rata kemiskinan Jawa Tengah yang sekitar 10,77%. Bahkan, Kebumen jadi kabupaten termiskin se-Jawa Tengah tahun ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sisi ekonomi, PDRB per kapita Kebumen tahun 2024 sekitar Rp26 juta per tahun (sekitar Rp2,17 juta per bulan) masih tergolong rendah untuk ukuran Jawa Tengah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kenapa Kebumen bisa miskin?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita coba bongkar dari beberapa sisi. Pertama, struktur ekonomi Kebumen masih didominasi oleh sektor pertanian. Meski sektor ini menyerap tenaga kerja besar, tapi nilai tambahnya kecil. Petani di Kebumen masih banyak yang bergantung pada metode tradisional, irigasi tadah hujan, dan belum tersentuh teknologi pertanian modern.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, minimnya industri pengolahan dan investasi. Tidak seperti daerah tetangga seperti Banyumas atau Cilacap yang mulai berkembang sektor industrinya, Kebumen masih belum punya zona industri yang kuat. Akibatnya, lapangan kerja terbatas dan anak muda banyak yang akhirnya merantau ke kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Semarang. Kebumen pun mengalami apa yang disebut \u201cbrain drain\u201d, kehilangan sumber daya manusianya yang potensial karena mereka cari hidup lebih layak di luar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, sektor pariwisata yang belum terintegrasi secara ekonomi lokal. Banyak wisatawan yang datang ke Pantai Menganti atau Benteng Van Der Wijck, tapi uangnya nggak berputar di masyarakat sekitar. Penginapan, makanan, dan jasa wisata banyak yang belum dikelola oleh masyarakat lokal secara optimal. Artinya, efek ganda dari pariwisata (multiplier effect) belum terasa sepenuhnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Indikator Lain yang Menguatkan: IPM dan Pengeluaran<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba cek Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kebumen <a href=\"https:\/\/kebumenkab.bps.go.id\/id\/publication\/2024\/12\/03\/a4636eb1cad1237d1aae8d51\/indeks-pembangunan-manusia-kabupaten-kebumen-2024.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tahun 2024<\/a>, angkanya 72,48, masih di bawah rata-rata provinsi yang 73,4.\u00a0 Indikator ini gabungan pendidikan, kesehatan, dan pengeluaran. Rata-rata lama sekolah di Kebumen tahun 2023 baru 7,86 tahun, alias banyak yang belum lulus SMP. Target 2024 baru naik sedikit ke 7,94 tahun. Sementara itu, pengeluaran per kapita masyarakat Kebumen tahun 2024 diperkirakan sekitar Rp1.028.462 per bulan (sekitar Rp12,3 juta per tahun). Artinya, mayoritas warga hidup dengan pengeluaran yang sangat terbatas.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jadi, apa yang harus dilakukan?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah Kebumen sebenarnya nggak buta soal ini. Dalam dokumen perencanaan daerah seperti RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah), sudah jelas disebutkan prioritas pembangunan adalah sektor wisata, pertanian modern, dan pendidikan. Tapi, ya itu tadi, eksekusinya masih lemah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebumen butuh intervensi besar dalam infrastruktur wisata dan pemberdayaan ekonomi lokal. Jangan cuma bangun jalan ke pantai, tapi juga ciptakan ekosistem ekonomi di sekitarnya. Pelatihan UMKM, digitalisasi promosi, bahkan kerja sama dengan travel agent besar bisa dilakukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sektor pertanian juga perlu revolusi teknologi dan akses pasar yang adil. Petani harus dikasih alat, dikasih pelatihan, dikasih informasi harga pasar real-time. Jangan cuma disuruh tanam padi dan pasrah dijual ke tengkulak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan satu lagi yang krusial yaitu investasi di pendidikan. Kalau mau penduduknya sejahtera, kasih akses sekolah yang berkualitas, dan dorong anak-anak muda buat balik ke kampung halaman setelah kuliah. Jangan sampai Kebumen cuma jadi tempat lahir dan kubur, tapi rezekinya harus dicari jauh di luar sana.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Mau sampai kapan kayak gini terus?<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebumen ini sebetulnya bukan kabupaten yang nggak punya apa-apa. Justru dia punya segalanya, dari potensi wisata, lahan pertanian luas, hingga sejarah dan budaya yang kaya. Tapi semua itu belum cukup kalau nggak didukung strategi pembangunan yang kuat dan konsisten.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau sampai kapan jadi \u201ckabupaten potensi\u201d yang miskin terus?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Toh masyarakatnya nggak butuh banyak, cukup bisa hidup layak di kampung sendiri, nggak perlu cari rezeki ke Jakarta atau Serpong. Tapi untuk itu terjadi, pemerintah dan semua pemangku kebijakan harus mulai serius memanfaatkan potensi yang ada, bukan cuma mengandalkan laporan dan janji-janji pembangunan semata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena kalau nggak, Kebumen akan terus jadi ironi geografi, surga wisata yang isinya paradoks kemiskinan.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kebumen-vs-purworejo-mana-yang-lebih-maju\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mencoba Menyelesaikan Perdebatan Mana yang Lebih Maju, Kebumen atau Purworejo<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kebumen ini sebetulnya bukan kabupaten yang nggak punya apa-apa. Justru dia punya segalanya. Tapi, kok hasilnya gini?<\/p>\n","protected":false},"author":2984,"featured_media":310166,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[10004,23982,10477],"class_list":["post-345136","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jawa-tengah","tag-kabupaten-kebumen","tag-kebumen"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/345136","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2984"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=345136"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/345136\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/310166"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=345136"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=345136"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=345136"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}