{"id":344775,"date":"2025-07-05T14:45:18","date_gmt":"2025-07-05T07:45:18","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=344775"},"modified":"2025-07-05T14:34:50","modified_gmt":"2025-07-05T07:34:50","slug":"gudeg-jogja-underrated-yang-rasanya-nggak-kalah-dari-yu-djum","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gudeg-jogja-underrated-yang-rasanya-nggak-kalah-dari-yu-djum\/","title":{"rendered":"Tidak Menyesal Berwisata ke Jogja dan Melewatkan Yu Djum sebab Ada Gudeg Underrated Lain yang Nggak Kalah Enak"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gudeg salah satu kuliner khas Jogja yang terkenal selain <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/bakpia-jogja-yang-bikin-kecewa-pikir-dua-kali-sebelum-beli\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bakpia<\/a>. Kadang wisatawan merasa kecewa sudah jauh-jauh ke Jogja dan tidak mencicipi makanan satu ini. Apalagi terlewat mencicipi gudeg-gudeg populer seperti Yu Djum atau Gudeg Sagan. Rasanya seperti sudah melakukan kesalahan besar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, sebenarnya mereka tidak kecewa. Selain dua merek itu, ada banyak gudeg Jogja lain yang tidak kalah nikmat. Di bawah ini saya sarankan beberapa merek gudeg underrated yang tidak kalah dengan Yu Djum dan Gudeg Sagan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Yu Narni, pemain lama tapi banyak orang yang tidak tahu<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warung gudeg yang satu ini sebenarnya pemain lama di dunia gudeg Jogja, tapi tidak semua wisatawan tahu. Padahal, di Jogja, gudeg ini punya banyak pelanggan setia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warung gudeg ini pertama kali buka sekitar 1940-an dengan nama Gudeg Bu Wito dan berjualan di sekitar daerah Jogoyudan sebelum dilanjutkan kepada Yu Narni pada 1976. Kemudian, gudeg ini berganti menjadi Gudeg Yu Narni.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gudeg Yu Narni menjual jenis gudeg kering. Selain itu, kita bisa membeli paket besek maupun versi kaleng yang siap dimakan, sangat cocok dijadikan sebagai oleh-oleh. Kalau penasaran, bisa datang ke cabang pusatnya di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/ruas-di-jalan-kaliurang-yang-paling-menyebalkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jalan Kaliurang<\/a> km 4,5 Gang Cokrowolo, Kocoran, Caturtunggal.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Gudeg Basah Bu Ninik yang hanya buka pagi hari<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warung gudeg yang satu ini terletak di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kemacetan-jalan-palagan-sleman-bukti-nyata-jogja-salah-urus\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jalan Monjali<\/a>, Gang Jragem No.28. Warung ini menawarkan gudeg basah. Tersedia dua pilihan, nasi gudeg maupun bubur gudeg. Keduanya menawarkan citarasa gurih karena\u00a0 ditambah dengan kuah arehnya yang kental.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, warung ini menggunakan ayam kampung asli yang disuwir maupun dalam bentuk potongan utuh. Kalau mau makan di Gudeg Basah Bu Ninik disarankan datang pada pagi hari karena warung gudeg ini hanya buka dari pukul 05.00 pagi hingga pukul 09.00 pagi. Warung buka dari hari Senin sampai Sabtu, sedangkan hari Minggu libur.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Gudeg Mbak Pirang yang dilayani oleh penjual berambut pirang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan hanya penjualnya yang berambut pirang, keunikan lain Gudeg Mbak Pirang adalah gudegnya memakai oseng mercon yang sangat pedas dan gurih. Tadinya Gudeg Mbak Pirang mangkal di daerah batas kota Jalan Magelang. Namun mulai tanggal 1 Juli 2025, Gudeg Mbak Pirang pindah ke alamat baru di Jalan Anggur, Klebengan, No. B09, Karang Gayam, Caturtunggal.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Gudeg Wijilan Bu Mur, hidden gem dunia gudeg<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warung gudeg satu ini lokasinya berada di gang kecil. Tepatnya di Jalan Jatirejo No.32, Jatirejo, Sendangadi. Walau lokasinya berada di gang, rasa gudeg Wijilan Bu Mur bisa diadu dengan merek-merek besar lain lho.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daya tarik Gudeg Wijilan Bu Mur adalah kreceknya yang pedas dan teksturnya yang kenyal. Ada berbagai macam variasi nasi gudeg krecek maupun bubur gudeg krecek; mulai dari telur ayam suwir, paha atas atau bawah, dada, ati ampela dan lain-lain. Warung gudeg ini buka selama 24 jam loh. Jadi tidak usah khawatir kehabisan atau tutup.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Masakan Bu Hj. Amad tadinya menu makanan kuli, kini jadi incaran banyak orang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rekomendasi warung gudeg underrated terakhir adalah Gudeg Bu Hj. Amad. Warung gudeg ini terletak di Jalan Kaliurang km 4,5 Tepatnya di utara gedung pusat<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Universitas_Gadjah_Mada\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Universitas Gadjah Mada (UGM)<\/a>. Ciri khas gudeg satu ini cenderung asin meskipun masih terasa rasa manisnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya Bu Amad berjualan di atas selokan Mataram, tepatnya di lokasi pembangunan UGM pada 1950-an. Saat itu dia menyediakan berbagai menu seperti soto, nasi rames, dan gudeg. Rupanya menu gudeg merupakan menu terlaris di kalangan kuli proyek pembangunan UGM, sehingga ia memutuskan fokus berjualan gudeg.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kini menu Gudeg dari Bu Hj. Amad yang semula merupakan menu favorit para kuli proyek diincar banyak orang. Bahkan, Gudeg Bu Hj. Amad menyediakan paket besek dan kendil untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah lima rekomendasi gudeg underrated di Yogyakarta. Sebenarnya masih banyak lagi rekomendasi gudeg underrated lainnya. Namun setiap orang pasti punya selera masing-masing. Artikel ini bisa menjadi referensi bagi orang-orang yang ingin berburu kuliner gudeg Jogja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ana Maria Dian Ayu Sekarsari<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/5-barang-warung-madura-paling-murah-masih-ada-yang-500-an\/\"><b>5 Barang Paling Murah yang Bisa Ditemukan di Warung Madura, Zaman Segini Masih Ada yang Dijual Seharga Rp500 Perak<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada banyak pilihan gudeg Jogja enak selain Yu Djum dan Gudeg Sagan. Wisatawan bisa menjadikannya alternatif dan dijamin tidak menyesal. <\/p>\n","protected":false},"author":2916,"featured_media":345173,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[2374,18085,115,4418],"class_list":["post-344775","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-gudeg","tag-gudeg-jogja","tag-jogja","tag-kuliner-jogja"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/344775","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2916"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=344775"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/344775\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/345173"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=344775"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=344775"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=344775"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}