{"id":344764,"date":"2025-07-03T11:24:30","date_gmt":"2025-07-03T04:24:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=344764"},"modified":"2025-07-04T09:22:01","modified_gmt":"2025-07-04T02:22:01","slug":"dulu-sepelekan-kuliah-kini-nangis-gaji-di-bawah-umr","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dulu-sepelekan-kuliah-kini-nangis-gaji-di-bawah-umr\/","title":{"rendered":"Dulu Bilangnya Kuliah Cuma Formalitas, Sekarang Nangis Karena Gaji Masih di Bawah UMR Meski Sudah 5 Tahun Kerja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa tahun lalu, banyak orang dengan santainya mengatakan bahwa kuliah hanyalah formalitas. Mereka dengan gagah menyebut hidup itu soal praktik, bukan teori. Tapi kini, mereka menangis dan menderita karena harus hidup dengan gaji di bawah UMR.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka merasa cukup percaya diri untuk tidak terlalu serius menjalani masa perkuliahan. Asal <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bersatulah-mahasiswa-yang-lulus-tidak-tepat-waktu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">lulus tepat waktu<\/a> dan IPK tidak terlalu memalukan itu sudah cukup.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak yang menjalani kuliah hanya sekadar absen, mengerjakan tugas sebisanya, dan bahkan lebih fokus mempercantik feeds Instagram daripada menyimak materi dosen. Pandangan seperti itu terdengar keren di awal, terutama karena banyak tokoh sukses yang dijadikan pembenaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mulai dari Bill Gates sampai para pengusaha muda yang mengaku \u201cbelajar dari kehidupan langsung\u201d. Mereka lupa bahwa Indonesia bukan Silicon Valley, dan realitas kita sering jauh lebih kejam dari motivasi-motivasi seminar berbayar.<\/span><\/p>\n<h2><b>Slip gaji di bawah UMR yang bikin merana<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah 5 tahun berlalu, mereka yang dulu menganggap kuliah hanya formalitas kini menatap selembar slip gaji dengan mata berkaca-kaca. Gaji mereka bahkan belum menyentuh standar UMR.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hidup semakin berat karena harus bayar kontrakan, cicil motor, membantu keuangan orang tua, dan sesekali harus pura-pura bahagia di media sosial. Dunia kerja yang digambarkan sebagai tempat aktualisasi dan pengembangan diri justru terasa seperti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gaji-di-bawah-umr-jakarta-itu-gila\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">mesin pengisap waktu dan energi<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang lebih menyakitkan, rekan kerja yang dulunya dianggap &#8220;kupu-kupu&#8221; alias kuliah-pulang-kuliah-pulang, ternyata kini lebih tenang menjalani hidup dengan posisi kerja lebih mapan dan mental lebih stabil. Sudah begitu, gaji mereka jauh di atas UMR.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dulu-sepelekan-kuliah-kini-nangis-gaji-di-bawah-umr\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Jangan sepelekan kuliah kalau nggak mau menyesal.<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Kita lupa bahwa kuliah bukan sekadar soal mendapatkan ijazah\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliah adalah latihan berpikir, belajar bertanggung jawab, mengenal ragam sudut pandang, dan membentuk karakter. Khususnya untuk menghadapi tekanan akademik maupun sosial.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat seseorang meremehkan proses ini, maka yang diabaikan bukan sekadar mata kuliah, tetapi pondasi untuk menghadapi kehidupan setelahnya. Mereka yang dulu terlalu fokus pada pencitraan, terlalu sibuk menjadi aktivis di luar tapi tak pernah hadir secara utuh di ruang kelas, kini menyadari bahwa dunia kerja tidak cukup ditaklukkan dengan gaya bicara yang meyakinkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Skill nyata, kemampuan berpikir sistematis, dan disiplin kerja justru lebih dihargai daripada gaya hidup keren yang hanya laku di linimasa. Apalagi setelah terbentur gaji yang menyedihkan dan jauh di bawah UMR.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan berarti semua orang yang serius kuliah pasti sukses dan sebaliknya. Namun, banyak kasus yang menunjukkan bahwa mereka yang memandang kuliah sebagai ruang pembentukan diri memiliki pijakan lebih kuat saat menghadapi realitas kerja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka lebih tahan banting, tahu cara belajar hal baru, dan terbiasa menyusun strategi ketika hidup tak sesuai rencana. Sementara mereka yang sejak awal bersikap santai, kini harus menelan kenyataan bahwa tanpa bekal yang kuat, dunia kerja hanya akan jadi putaran tuntutan tanpa penghargaan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Menyalahkan sistem setelah hidup menderita dengan gaji di bawah UMR\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka mengatakan bahwa kampus tidak cukup membekali mahasiswa dengan skill praktis. Tentu saja kritik ini tidak sepenuhnya salah, tapi menjadikan kampus sebagai kambing hitam juga tak sepenuhnya bijak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, di saat yang sama, banyak mahasiswa lain dari kampus yang sama justru mampu menemukan jalan mereka. Entah itu lewat jalur karier, wirausaha, atau proyek-proyek sosial.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, yang membedakan bukan hanya kampus atau kurikulum, tapi juga cara seseorang memaknai dan menjalani masa kuliahnya. Mereka ini yang merasakan pahitnya hidup karena hidup dengan gaji di bawah UMR karena tidak kompetitif.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenyataan pahit bahwa gaji di bawah UMR bukan hanya karena pasar kerja yang tidak adil, tapi juga karena kita dulu tidak cukup mempersiapkan diri. Bukan hanya tentang tidak punya koneksi, tapi juga karena kita tidak melatih kemampuan diri ketika punya waktu, ruang, dan akses di bangku kuliah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang, ketika jam kerja mulai memakan waktu produktif dan tenaga habis untuk bertahan hidup, banyak yang baru menyadari bahwa belajar tidak pernah benar-benar berhenti. Sayangnya, waktu dan semangat belajar yang dulu diabaikan, kini sudah tak bisa kembali.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jangan abaikan kenyataan ini<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam suasana hati yang kacau, banyak yang akhirnya mulai mengikuti pelatihan. Misalnya dengan mengikuti kelas daring atau sekadar bertanya kepada teman-teman lama yang dulu sempat dianggap \u201ckaku karena kuliahnya terlalu serius\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penyesalan pun datang diam-diam. Bukan karena iri pada pencapaian orang lain, tetapi karena sadar telah menyia-nyiakan masa-masa penting yang bisa dimanfaatkan untuk menyiapkan masa depan lebih baik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kini, mereka tidak hanya harus bersaing dengan rekan seangkatan, tetapi juga dengan generasi di bawah yang jauh lebih melek teknologi dan informasi. Suram.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi yang membaca tulisan ini dan masih duduk di bangku kuliah, semoga ini jadi peringatan yang tidak diabaikan. Jangan pernah menganggap kuliah cuma formalitas, karena cepat atau lambat, hidup akan menagih kesiapan kita.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan untuk yang sudah terlanjur menertawakan masa lalu sendiri, tak apa. Penyesalan boleh datang belakangan, asalkan tidak tinggal selamanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Toh hidup masih panjang, dan tidak ada kata terlambat untuk mulai belajar dengan sungguh-sungguh. Meski kali ini <a href=\"https:\/\/kumparan.com\/berita-heboh\/ipk-cuma-2-koma-sosok-inspiratif-ini-tetap-bisa-sukses-and-kuliah-di-luar-negeri-1wZQzDHxWoL\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bukan demi IPK<\/a>, tapi demi martabat, ketenangan batin, dan secuil harapan untuk mendapatkan gaji di atas UMR demi hidup yang lebih layak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Elika Dwi Ramadhani<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kelam-di-balik-gemerlap-purwokerto-upah-pekerja-di-bawah-umr\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kelam di Balik Gemerlap Purwokerto: Upah Pekerja di Bawah UMR, Lembur pun Tak Dibayar dengan 1001 Alasan<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ketika masih kuliah, mereka malah tidak serius. Bahkan meremehkan proses perkuliahan. Kini, nangis karena gaji di bawah UMR.<\/p>\n","protected":false},"author":3004,"featured_media":344790,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[1979,4102,7101,436,19082,4602],"class_list":["post-344764","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-gaji","tag-gaji-umr","tag-ipk","tag-kuliah","tag-mahasiswa-kupu-kupu","tag-umr"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/344764","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3004"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=344764"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/344764\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/344790"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=344764"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=344764"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=344764"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}