{"id":344100,"date":"2025-06-29T17:00:16","date_gmt":"2025-06-29T10:00:16","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=344100"},"modified":"2025-06-29T17:00:16","modified_gmt":"2025-06-29T10:00:16","slug":"kediri-lebih-pantas-dapat-julukan-kota-tahu-daripada-sumedang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kediri-lebih-pantas-dapat-julukan-kota-tahu-daripada-sumedang\/","title":{"rendered":"Unpopular Opinion, Kediri Lebih Pantas Menyandang Julukan Kota Tahu daripada Sumedang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Indonesia, ada dua daerah yang mengklaim dirinya sebagai <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-kuliner-kediri-dengan-nama-unik-yang-bisa-dijadikan-oleh-oleh\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kota Tahu<\/a> yaitu Sumedang dan Kediri. Dua daerah ini sama-sama punya alasan kuat untuk menyandang gelar tersebut. Dan, di tulisan ini akan dikulik daerah mana yang lebih pantas menyandang julukan tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan ini bukan perkara sepele. Bagi warga Kediri maupun Sumedang, tahu bukan sekadar makanan. Tahu adalah identitas budaya dan produk kebanggaan. Bahkan, bagi beberapa orang, tahu adalah sumber nafkah yang menghidupi keluarga.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Mengingat besarnya peran tahu terhadap masing-masing daerah, saya yakin akan ada selisih pendapat dalam tulisan ini. Namun, ingat,<span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0kita tetap perlu menanggapinya dengan kepala dingin.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Tahu Sumedang, renyah, berongga, dan nama yang kuat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sulit memungkiri, tahu Sumedang sudah seperti merek dagang nasional. Lewat agen-agennya, para <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/eksistensi-gamang-pedagang-asongan-di-tengah-demonstrasi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pedagang asongan<\/a>, tahu Sumedang sudah menyebar ke seluruh Indonesia. Bahkan, orang yang belum pernah ke Sumedang pun kemungkinan besar sudah pernah mencicipi variasi tahu yang satu ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bentuk tahu yang kecil-kecil mudah dimakan dalam satu gigitan. Teksturnya kulitnya garing, berongga, dan lembut menambah kenikmatan. Apalagi dimakan saat masih hangat dengan cabai rawit, nikmatnya bisa bikin lupa kalau masih punya utang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konon, tahu Sumedang berasal dari racikan Tjoa Keng Kwan. Seorang perantau asal Tionghoa yang mengolah tahu dengan teknik khusus pada awal abad ke-20. Banyak warung dan toko oleh-oleh yang menjual tahu ini, bahkan sampai ke luar Jawa Barat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu hal yang tak bisa disangkal, branding Tahu Sumedang sangat kuat. Ketika orang mendengar kata &#8220;tahu&#8221;, yang sering terlintas di kepala adalah tahu Sumedang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tahu takwa Kediri, padat, dan kaya varian<\/b><\/h2>\n<p>Di balik perusahaan rokok Gudang Gara, Kediri sebenarnya punya kekuatan lain yakni <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Tahu_kuning\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tahu takwa atau tahu kuning<\/a>. Industri tahu di daerah ini sangat hidup dan salah satu yang menjadi andalan adalah tahu takwa.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahu berwarna kuning cerah karena kunyit itu punya tekstur padat dan rasa gurih. Biasanya, tahu diolah dengan cara digoreng, dimasak, atau langsung dimakan. Tahu ini sangat cocok dijadikan oleh-oleh khas Kediri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Tahu_kuning\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tahu Takwa<\/a>, Kediri punya varian lain seperti tahu pong, keripik tahu, stik tahu, hingga kembang tahu. Di Kecamatan Pesantren, ada Kampung Tahu Tinalan, tempat puluhan produsen tahu memproduksi ribuan potong tahu setiap harinya. Dari pagi hingga malam, aroma kedelai rebus dan tahu goreng menyeruak di udara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di pasar-pasar Kediri, tahu bukan sekadar makanan, tetapi komoditas jual-beli yang dibanggakan. Banyak UMKM lokal yang bertahan hidup dari tahu, mulai dari produsen hingga pedagang kecil.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dua-duanya layak menyandang julukan kota tahu, tapi &#8230;<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau bicara soal siapa yang lebih populer, jelas Sumedang unggul jauh. <a href=\"https:\/\/tahu.sumedangkab.go.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tahu Sumedang<\/a> sudah seperti akun Instagram dengan centang biru: namanya melekat, terkenal, dan gampang dijual.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, kalau dilihat dari sisi produksi, variasi, dan kontribusi terhadap ekonomi lokal, Kediri jelas punya taji. Ia membentuk ekosistem yang menghidupi banyak orang. Jika Tahu Sumedang fokus pada tahu sebagai camilan, Kediri memproduksi tahu dalam berbagai varian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Julukan Kota Tahu sering kali melekat hanya karena nama yang sudah dikenal luas. Padahal, kalau kita mau menelisik lebih dalam ke perannya ke ekonomi lokal, tahu Kediri layak diperhitungkan. Begitu juga dari segi kuantitas produksi dan diversifikasi produk.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga Kediri, tentu saya bangga dengan tahu kuning yang padat dan gurih itu. Tapi saya juga paham bahwa Tahu Sumedang punya tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, siapa yang lebih pantas menyandang gelar Kota Tahu? Jawaban bijaknya: dua-duanya pantas-pantas saja, tergantung dari sudut mana kita melihat. Namun, kalau boleh kasih sedikit bumbu keberpihakan: Sumedang mungkin punya nama, tapi Kediri punya isi. Dan, yang berisi biasanya lebih tahan lama daripada yang sekadar populer.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Nurhadi Mubarok<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bandara-dhoho-kediri-harapan-baru-wilayah-mataraman-yang-terancam-mangkrak\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bandara Dhoho Kediri, Harapan Baru Wilayah Mataraman yang Terancam Mangkrak<\/span><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kediri lebih pantas menyadang julukan Kota Tahu daripada Sumedang, apalagi dilihat dari kualitas produksi dan diversifikasi produknya. <\/p>\n","protected":false},"author":808,"featured_media":344121,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[6470,3221,14555,14387],"class_list":["post-344100","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kediri","tag-sumedang","tag-tahu","tag-tahu-sumedang"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/344100","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/808"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=344100"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/344100\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/344121"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=344100"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=344100"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=344100"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}