{"id":344067,"date":"2025-06-30T11:06:21","date_gmt":"2025-06-30T04:06:21","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=344067"},"modified":"2025-06-30T11:06:21","modified_gmt":"2025-06-30T04:06:21","slug":"jalur-gumitir-jember-banyuwangi-jangan-ditutup-total","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalur-gumitir-jember-banyuwangi-jangan-ditutup-total\/","title":{"rendered":"Saya Nggak Sepakat Jalur Gumitir Jember-Banyuwangi Ditutup Total, Bakal Merepotkan!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kerap mondar-mandir Jember-Banyuwangi. Selain urusan pekerjaan, saya kerap ke Bumi Blambangan untuk urusan perut alias kulineran. Mulai dari rawon khas Banyuwangi dengan dagingnya yang melimpah hingga tape ketan pinggir jalan dengan rasanya yang manir, semua saya lahap. Intinya, jalan yang menghubungkan Jember-Banyuwangi, Jalur Gumitir bukan sekadar jalan, tapi juga kenangan.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa, waktu pertama kali mendapat informasi kalau jalur Gumitir akan ditutup total, saya langsung ngebatin, \u201cLha piye iki, Rek?\u201d Penutupan yang rencananya dilakukan pada 24 Juli-24 September 2025 itu lumayan lama. Selain itu, orang-orang yang kerap melewati jalur ini harus menempuh jalan memutar yang cukup jauh, lewat jalur Bondowoso atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/situbondo-tempat-tinggal-terbaik-dan-kota-sederhana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Situbondo<\/a>. Lebih dari itu, penutupan jalur yang lumayan ini\u00a0 membuat rakyat ketakutan akan terjadinya kenaikan harga bahan-bahan pokok.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasar pemberitaan terbaru, penutupan ini mau dilakukan karena alasan keselamatan. Betul, proyek preservasi jalan dan jembatan ini bakal ngurusi 55 titik longsoran sepanjang 115 meter. Menggunakan bored pile segala, teknologi pondasi berbentuk tabung panjang. Kata <a href=\"https:\/\/binamarga.pu.go.id\/balai-jatim-bali\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">BBPJN Jatim-Bali<\/a>, jalannya terlalu sempit buat buka tutup, apalagi kalau alat berat lagi manuver. Tapi, apa iya nggak ada cara lain?<\/span><\/p>\n<h2><b>Jalur Gumitir lebih dari sekadar jalan, ini urat nadi ekonomi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalur Gumitir itu bukan jalan kampung yang sehari cuma dilalui dua tiga motor. Ini urat nadi ekonomi. Jalan nasional yang menyambungkan Jember sama Banyuwangi, dua kabupaten dengan geliat dagang yang nggak main-main. Dari situ, pasokan bahan pokok, sayur, buah, sampai BBM mengalir tiap hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemkab Banyuwangi sebenarnya sudah menyadari hal ini dan mengeluarkan peringatan. Mereka takut penutupan Jalur Gumitir secara total membuat biaya distribusi naik, soalnya harus lewat rute lebih jauh. Sekarang coba bayangkan aja, sebuah truk ingin mengirimkan BBM dari Banyuwangi ke Jember. Sementara, jalur alternatif di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bondowoso-kota-yang-nggak-kenal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bondowoso<\/a> nggak bisa dilewati karen jembatan di sana cuma kuat menahan beban kendaraan maksimal 15 ton. Sementara, truk tangki BBM rata-rata bisa sampai 30 ton. Alhasil, kendaraan-kendaraan itu harus memutar melewati Probolinggo. Jauh dan makan waktu. Ujung-ujungnya makan biaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau distribusi BBM sudah ngadat, harga sembako ikut naik. Iya, ini bukan teori menakut-nakuti, tapi realitas yang udah sering kita rasakan. Harga cabai bisa tiba-tiba jadi Rp100 ribu sekilo cuma gara-gara pasokan tersendat. Lha, kalau jalur utama seperti Gumitir ditutup total, apa kabar harga-harga di pasar tradisional Jember?<\/span><\/p>\n<h2><b>Buka tutup, bukan tutup total<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa, Pemkab Banyuwangi sempat mengusulkan agar proyek ini jangan langsung tutup total, tapi pakai sistem buka tutup. Jadi saat alat berat lagi nggak beroperasi, kendaraan masih bisa lewat. Kan lumayan, daripada harus muter ratusan kilometer.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, jawaban BBPJN Jatim-Bali lumayan pahit. Mereka bilang, jalur Gumitir terlalu sempit. Kalau dipaksa buka tutup akan ada risiko longsor lebih besar.. Apalagi cuaca di sana lagi sering hujan. Bayangkan saja kalau sedang hujan deras, alat bore pile harus berbagi jalan dengan kendaraan lain yang mau lewat. Bukan tidak mungkin jadi scene film thriller <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Final_Destination_(film)\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Final Destination<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, keselamatan pengguna jalur Gumitir memang penting.Hanya saja, masak iya tidak ada opsi rekayasa lalu lintas lain? Kenapa nggak coba percepatan kerja malam hari, sementara siangnya dipakai buka tutup? Atau, minimal, dibikin jalur darurat meski harus bergantian lewat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita semua setuju, keselamatan itu prioritas utama. Longsor itu nyata. Nggak lucu kalau demi jalan dibuka, malah nanti ada mobil nyungsep ketimpa tebing. Tapi, keselamatan ekonomi warga juga penting. Jangan sampai proyeknya kelar, jalan mulus, tapi rakyat megap-megap bayar cabe Rp150.000 sekilo dan mengeluh solar nggak ada stok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu kenapa, kita warga Jember, sah-sah saja bilang \u201cnggak sepakat\u201d dengan penutupan total Jalan Gumitir. Apalagi nggak ada solusi konkret yang mengurusi distribusi logistik. Mau dialihkan ke Probolinggo jaraknya juga jauh. Biaya bisa naik 2-3 kali lipat. Pedagang di Pasar Tanjung Jember bakal langsung nangis di pelukan timbangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, semuanya harus duduk bareng, bukan cuma rapat formal ngopi sama pisang goreng. Bahas bener-bener gimana jalur BBM, sayur, sembako, bisa tetap aman lewat jalur alternatif. Biar nggak asal bilang, \u201cKita sudah pasang rambu kok,\u201d padahal truk malah nggak bisa lewat jembatan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kita bukan anti pembangunan, tapi\u2026<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalur Gumitir itu memang perlu diperbaiki. Kalau dibiarkan terus, longsor makin sering, malah makin bahaya. Kita ngerti kok. Siapa sih yang mau tiap hari lewat jalan rawan longsor?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, kita hanya khawatir akan distribusi bahan-bahan pokok. Kalau distribusi bahan pokok sampai tersendat gara-gara penutupan ini, siapa yang mau menanggung selisih harga di pasar? Apa BBPJN mau bikin pasar murah tiap minggu biar rakyat nggak ngamuk? Kan nggak juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu sebabnya, kita warga Jember bukannya anti pembangunan. Kita cuma minta, tolong dong, pikirkan alternatif yang lebih serius. Jangan cuma pakai argumen \u201cini soal keselamatan proyek\u201d, tapi lupa kalau keselamatan ekonomi rakyat juga taruhannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhir kata, sebagai orang Jember yang tiap minggu bisa bolak-balik ke Banyuwangi demi acara kondangan atau sekadar hunting kopi, saya cuma mau bilang nggak sepakat. Apalagi kalau penutupan total jalur Gumitir dilakukan tanpa pertimbangan yang konkret dan matang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita ini rakyat biasa. Kalau nanti harga-harga naik, distribusi BBM macet, yang disalahin bukan BBPJN, tapi pedagang pasar. Mereka yang dimaki-maki pembeli karena harga melambung. Padahal akarnya ya di sistem distribusi yang keburu ketutup total ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga rapat lanjutan awal Juli 2025 nanti benar-benar serius. Nggak cuma buat formalitas foto bareng lalu bikin press release manis. Tapi betul-betul mikir, gimana caranya proyek ini kelar aman, tapi rakyat juga masih bisa hidup tenang. Wong kita ini cuma mau makan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-hal-dari-rawon-jogja-yang-membuat-saya-sangat-kecewa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">rawon<\/a> murah sambil ngopi, bukan hidup di bawah ancaman kenaikan harga secara terus-terusan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Adhitiya Prasta Pratama<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/penderitaan-setiap-hari-melaju-di-jalan-tempel-turi-sleman\/\"><b>Penderitaan yang Saya Rasakan Setiap Hari Melaju di Jalan Tempel-Turi Sleman<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jalur Gumitir Jember-Banyuwangi memang perlu diperbaiki, tapi jangan sampai ditutup total. Semua bakal kerepotkan kalau ditutup total. <\/p>\n","protected":false},"author":1549,"featured_media":344285,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[6216,29059,8794],"class_list":["post-344067","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-banyuwangi","tag-jalur-gumitir","tag-jember"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/344067","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1549"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=344067"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/344067\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/344285"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=344067"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=344067"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=344067"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}