{"id":343664,"date":"2025-06-27T11:49:11","date_gmt":"2025-06-27T04:49:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=343664"},"modified":"2025-06-27T11:49:38","modified_gmt":"2025-06-27T04:49:38","slug":"kota-batu-zaman-dahulu-jauh-lebih-nyaman-daripada-sekarang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kota-batu-zaman-dahulu-jauh-lebih-nyaman-daripada-sekarang\/","title":{"rendered":"Rindu Kota Batu Versi Zaman Dahulu yang Jauh Lebih Nyaman dan Damai daripada Sekarang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sangat sering menulis tentang Kota Batu. Kalau dihitung-hitung, sudah lebih dari 5 kali saya menulis tentang kota kelahiran dan tempat tinggal saya ini. Semuanya ditulis semata-mata atas dasar kecintaan terhadap Kota Batu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah membahas tentang destinasi wisata yang wajib dikunjungi. Di lain kesempatan, saya menulis mengenai orang-orang yang masih salah kaprah menganggap Batu adalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/malang-ternyata-sangat-berbeda-dari-apa-yang-saya-dengar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Malang<\/a>. Terakhir, saya menulis soal tumpukan keresahan selama hidup di kota ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi orang Batu seperti saya, kota kecil ini bukan sekadar tanah yang dipijak. Bagi orang Batu, kota ini merupakan identitas, kebanggaan, bahkan nyawa. Terdengar berlebihan, tapi begitulah adanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kalian tanya orang-orang lokal mengenai apa arti Kota Batu, mereka akan menjawab keindahan dan sederet kata positif lain. Sayangnya, setelah kata-kata positif itu, ada kata \u201ctapi\u201d yang menandakan hal yang bertentangan atau tidak selaras.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang betul kota ini indah, damai, dan nyaman. Banyak orang pasti sepakat. Namun, itu semua dahulu. Kini, kenyamanan telah tergantikan oleh gemerlap lampu-lampu kota dan beton di tengah kebun warga. Lalu pertanyaannya, apakah Kota Batu masih nyaman, senyaman dulu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai seseorang yang lahir dan hingga saat ini masih tinggal di Batu, saya berani jawab tidak. Kota Batu sudah tidak senyaman, bahkan sudah tidak seindah dulu. Mengapa? Sini tak jelasin.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Kota Batu makin sibuk dengan wisatawan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin beginilah nasib kota yang menjuluki dirinya sebagai <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/pariwisata-jogja-mengancam-warganya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kota Wisata<\/a>. Aspek wisata akan selalu ditonjolkan. Mau tak mau, suka tak suka, tempat wisata baru akan terus bertumbuh dan bertambah. Kehidupan warga Kota Batu akan selalu beririsan dengan wisatawan yang jumlahnya meningkat tiap tahun.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akibatnya, Batu jadi makin padat dan macet karena wisatawan. Apalagi di akhir pekan atau musim liburan, Batu benar-benar nggak karuan. Macetnya nggak main-main. Kalau sudah macet parah, kendaraan benar-benar tidak bisa gerak, nggak bisa jalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang bayangkan saja rasanya jadi orang Batu. Pemandangan kemacetan yang dihiasi aroma kampas rem menyengat jadi pemandangan yang biasa. Pasti sumpek dan nggak nyaman. Kita nggak bisa ke mana-mana pula.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu semua berbeda dengan zaman dahulu. Orang Kota Batu zaman dulu masih bisa jalan-jalan keliling kota pas akhir pekan. Sekarang mana bisa?\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Lahan hijau dan sumber mata air makin berkurang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan lain kota ini sudah nggak senyaman dulu karena lahan hijau dan sumber air makin berkurang. Masih lekat dalam ingatan, Kota Batu di masa kecil saja itu hijau banget. Kebun buah dan sayur masih mendominasi. Sawah juga masih ada. Sekarang, satu per satu sudah hilang dan berganti. Sumber air makin lama makin sedikit. Bahkan, saya rasa sudah sampai di level mengkhawatirkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, kalau ditanya apa penyebabnya, lagi-lagi salah satu jawabannya adalah wisata. Ya gimana lagi, kebun-kebun sudah jadi vila dan tempat wisata baru. Beberapa mata air mati karena ada <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/ekonomi\/hotel-yang-dibeli-pemda-diy-rp170-miliar-mulai-disiapkan-untuk-umkm\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pembangunan hotel<\/a>. Mereka-mereka terlalu sibuk membangun ini itu sampai lupa bahwa ada lahan hijau dan sumber mata air yang terancam.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Kota Batu dan ketidaknyamanan yang lain<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih banyak masalah lain yang bikin kota ini nggak senyaman dulu. Mulai dari tata kota yang kayak nggak jelas ke mana arahnya, trotoar yang nggak ramah pejalan kaki, transportasi umum terbengkalai, hingga aspek agrikultur dan agribisnis yang seperti dianaktirikan. Belum lagi soal harga tanah dan properti yang makin mahal. Banyaklah pokoknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbagai persoalan itu bikin Kota Batu semakin nggak nyaman. Kalau boleh jujur, s<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ebenarnya masih enak-enak saja tinggal di Kota Batu. Hanya saja, tingkat kenyamanannya jauh berbeda dengan Kota Batu versi dahulu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, saya nggak mau terlalu terjebak nostalgia masa lalu, selayaknya <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Manchester_United_F.C.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">fans MU<\/a>. Saya tentu saja ingin Batu menjadi kota yang lebih maju. Namun, yang harus dipahami adalah, kemajuan suatu kota nggak perlu mengorbankan hal-hal yang nantinya malah bikin warga nggak nyaman.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Iqbal AR<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/wonosobo-dahulu-jauh-lebih-nyaman-daripada-yang-sekarang\/\"><b>Wonosobo yang Dahulu Bukanlah yang Sekarang, Dahulu Jauh Lebih Nyaman<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang yang lahir dan besar di Kota Batu pasti menyadari kota ini berubah semakin tidak nyaman, semakin macet dan berkurang lahan hijaunya. <\/p>\n","protected":false},"author":75,"featured_media":343667,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[16246,5999,4620,29015],"class_list":["post-343664","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-batu","tag-kota-batu","tag-kota-wisata","tag-wisata-batu"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/343664","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/75"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=343664"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/343664\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/343667"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=343664"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=343664"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=343664"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}