{"id":343623,"date":"2025-06-27T16:11:15","date_gmt":"2025-06-27T09:11:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=343623"},"modified":"2025-06-27T15:35:52","modified_gmt":"2025-06-27T08:35:52","slug":"circle-k-wajib-belajar-pada-warung-madura-kalau-mau-tetap-bertahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/circle-k-wajib-belajar-pada-warung-madura-kalau-mau-tetap-bertahan\/","title":{"rendered":"Circle K Wajib Belajar pada Warung Madura kalau Mau Tetap Bertahan dari Gempuran Kompetitor yang Makin Hari Makin Melesat"},"content":{"rendered":"<p><em>Circle K wajib belajar pada warung Madura, kalau dia masih ingin aman dan tidak tumbang digempur kompetitor dari kiri-kanan<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di setiap sudut kota, gerai Indomaret dan Alfamart layaknya seperti jamur di musim hujan. Keberadaan keduanya menjadi solusi cepat bagi kebutuhan harian. Padahal di tengah dominasi dua jaringan minimarket raksasa tersebut, tersempil nama lain yang mungkin mulai ditinggalkan, yakni Circle K.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ditilik dari segi konsep, Circle K mempunyai kesamaan dengan Indomaret maupun Alfamart. Meski sempat mencicip masa jaya, kini popularitasnya tertinggal jauh. Bukan cuma soal kuantitas toko yang terbatas. Nyatanya, ketidakmampuan Circle K menyamai langkah kedua kompetitornya tersebut turut dipengaruhi sejumlah faktor yang cukup fundamental.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mau tetap bertahan, mungkin harus belajar dari warung Madura. Warung Madura yang baru saja muncul di suatu daerah, bisa langsung mencuri perhatian dan hati banyak orang. Beberapa hal yang diterapkan oleh warung Madura bisa dicontoh oleh Circle K.<\/span><\/p>\n<h2><b>Circle K wajib mengerti selera masyarakat lokal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya melihat Circle K itu mewah dan berkelas. Ada sebuah keraguan untuk berbelanja di sini. Alasannya soal harga. Melihat tampilan yang begitu mewah, otomatis harganya tidak main-main.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentunya, apa yang saya rasakan ini kemungkinan besar di alami banyak orang. Tampilan suatu tempat, bisa menentukan daya tarik di mata masyarakat. Maka, strategi pertama adalah mengerti selera masyarakat lokal. Ini penting dan berdampak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warung Madura bisa melakukan hal itu. Selera masyarakat Jogja dengan selera masyarakat Jakarta tentunya berbeda. Makanya, tampilan warung Madura di kedua kota ini tentunya berbeda. Selain tampilan, kesediaan barang pun juga disesuaikan dengan selera atau kebutuhan masyarakat di tempat tersebut. Dengan kata lain, mengurangi barang-barang untuk mubazir.<\/span><\/p>\n<h2><b>Konsisten meraih pelanggan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal harga pun, disesuaikan dengan masyarakat di sana. Ini terkait UMR di daerah di mana waralaba tersebut berdiri. Harga di setiap daerah tidak bisa dipukul rata. Warung Madura pun menerapkan itu sesuai dengan kemampuan banyak masyarakat di daerah itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan, Circle K itu mahal. Jauh lebih mahal dibandingkan dengan Alfamart atau Indomaret. Padahal, produknya itu sama persis. Ini sih yang membuat Circle K sulit bersaing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mau bersaing, ya tirulah warung Madura. Bukan meraup banyak uang, melainkan bisa mendatangkan banyak pelanggan. Harga murah tidak masalah, yang penting pendapatan dan pelanggan konsisten datang. Ibaratnya kata, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Itulah yang cocok untuk menggambarkan warung Madura soal strategi harga yang diterapkan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Branding, branding, branding<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu hal yang menjadi pertanyaan dalam benak saya. Ini sebenarnya sudah lama sih, semenjak tahu kalau ada yang namanya Circle K. Pertanyaannya adalah &#8220;Circle K itu ciri khasnya apa?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur, saya belum menemukan ciri khas dari Circle K. Padahal, saya sudah berulang kali datang ke situ. Kalau saya boleh jujur, ini justru kendala utama dan susah bersaing karena hal ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ciri khas Circle K itu belum ada, setidaknya itu yang saya tahu. Ini persoalan yang besar. Pasalnya jika ada ciri khas, maka otomatis akan memiliki branding. Ingat, branding bukan berarti nama atau logo saja. <a href=\"https:\/\/glints.com\/id\/lowongan\/branding-adalah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Branding<\/a> itu, mudahnya, adalah ciri khas yang mudah diingat masyarakat dan berbeda dari yang lain. Kalau branding hanya mengandalkan logo atau nama, jelas itu tidak akan kuat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warung Madura itu tidak memiliki logo. Namanya pun ala kadarnya biar gampang disebut. Namun, yang menjadi kekuatannya adalah brandingnya. Warung Madura unggul kokoh kalau soal branding jika dibandingkan dengan Circle K.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Branding warung Madura adalah suasana dan harga yang merakyat. Obrolan-obrolan hangat di dalam warung Madura, itulah salah satu poin penting branding warung Madura. Pendekatan emosional dengan customer benar-benar terjalin. Komunikasi yang hangat juga turut mempengaruhi. Artinya apa? Artinya tidak ada gap atau jarak antara pembeli dan penjual.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah 3 hal yang bisa Circle K pelajari dari warung Madura. Itu pun kalau (masih) mau bertahan di dunia industri ini. Tidak perlu ragu ataupun gengsian. Lebih baik merendah untuk meroket.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/catatan\/kelakuan-menyebalkan-pengunjung-circle-k\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Nongkrong di Circle K Jadi Sumpek dan Repot Gara-gara Kelakuan Pengunjungnya<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau Circle K mau tetap bertahan di tengah gempuran minimarket lain, mereka mungkin harus belajar dari warung Madura.<\/p>\n","protected":false},"author":2851,"featured_media":287406,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[25104,16221],"class_list":["post-343623","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-circle-k","tag-warung-madura"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/343623","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2851"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=343623"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/343623\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/287406"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=343623"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=343623"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=343623"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}