{"id":343518,"date":"2025-06-26T14:06:29","date_gmt":"2025-06-26T07:06:29","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=343518"},"modified":"2025-06-26T14:06:29","modified_gmt":"2025-06-26T07:06:29","slug":"pengalaman-naik-lamborghini-kawah-ijen-mahal-tapi-berkesan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-naik-lamborghini-kawah-ijen-mahal-tapi-berkesan\/","title":{"rendered":"Terpaksa Naik Lamborghini di Kawah Ijen: Meski Mahal Jadi Pengalaman Tak Terlupakan"},"content":{"rendered":"<p><em>Memangnya bisa naik Lamborghini di Kawah Ijen? Bisa, dong~<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu tujuan saya jauh-jauh dari Jogja ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalur-red-flag-kawah-ijen-via-banyuwangi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Banyuwangi<\/a> adalah ke Kawah Ijen. Di kawah belerang ini, ada fenomena alam langka blue fire yang hanya ada dua di dunia. Blue fire ini nggak selalu ada, jadi saya nggak menaruh ekspektasi banyak waktu ke sana. Yang penting bisa sampai puncak dan melihat panorama cantik kaldera Ijen.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berkunjung saat <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">high season<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, dari antre registrasi hingga ke puncak, penuh dengan\u00a0wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Bahkan antre registrasi memakan waktu lebih dari satu jam karena saya datang berkunjung mandiri. Bagi wisatawan yang ikut <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">open trip<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, umumnya nggak perlu antre karena ada kru open trip yang antre di awal.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ojek gunung yang hanya ada di Kawah Ijen<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak hanya ramai pengunjung, di kawasan Kawah Ijen, ada pula bapak-bapak membawa troli yang berteriak, &#8220;Lamborghini! Lamborghini biar nggak capek!&#8221; Lamborghini yang dimaksud ternyata ojek yang menggunakan troli, bukan motor. &#8220;Ojek&#8221; ini hanya bisa kita jumpai di kawasan Kawah Ijen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Layaknya warga pesisir yang bermata pencaharian sebagai nelayan, warga pedesaan menjadi petani, di kawasan kawah belerang ini warga lokal banyak berprofesi sebagai penambang belerang. Seiring berkembangnya waktu, Kawah Ijen menjadi top of mind wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi. Akhirnya beberapa penambang memanfaatkan\u00a0troli pengangkut belerang menjadi ojek untuk mengangkut wisatawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Troli pengangkut tersebut kuat sekali. Konon bisa menampung hingga 300 kilogram belerang. Pengemudinya tentu kuat juga, soalnya membawa penumpang dengan Lamborghini di Kawah Ijen ini memerlukan koordinasi kaki, tangan, badan, dan pernapasan yang baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mempertaruhkan nyawa sendiri dan juga penumpang, tarif yang dipatok <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ojek-pangkalan-mempersulit-hidup-saya-sebagai-perantau\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ojek<\/a> ini bisa dibilang tak murah. Satu kali naik wisatawan dipatok Rp800 ribu. Sementara satu kali turun harganya Rp400 ribu. Tarif turun lebih murah karena tenaga yang dibutuhkan lebih sedikit. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lamborghini Kawah Ijen ini bisa dioperasikan satu orang saja. Tetapi saat naik, perlu 3 hingga 5 orang untuk membawa penumpang naik. Satu orang bertugas mendorong, sedangkan 2 hingga 3 orang bertugas menarik. Tarifnya juga bergantung pada jumlah pengemudi dan berat penumpang. Jadi sebenarnya, tarif yang dipatok itu bukan untuk satu orang, melainkan 3 sampai 5 orang<\/span><\/p>\n<h2><b>Jalur pendakian yang sulit sering kali diperumit dengan hujan deras<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKawah Ijen landai, kok, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-jalur-pendakian-gunung-yang-cocok-untuk-pendaki-pemula\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cocok buat pemula<\/a>.\u201d<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Kalau ada yang bilang demikian, jangan langsung percaya!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalur pendakian Kawah Ijen itu tanah berpasir berbatu, juga menyempit di beberapa titik. Beberapa titik memang landai, namun lebih banyak tanjakan dan turunan. kondisi jalur yang demikian akan semakin menantang ketika turun hujan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat saya berwisata ke Kawah Ijen, kaldera Ijen hanya memperlihatkan pesonanya selama beberapa menit. Selebihnya hanyalah tembok putih lalu disusul rintik air yang semakin deras. Saya memang bisa dibilang kurang beruntung saat itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Perjalanan t<span style=\"font-weight: 400;\">urun membuat saya deg-degan, karena medannya jadi licin dan berbahaya. Beberapa kali saya berhenti untuk beristirahat atau sekadar<\/span> mengumpulkan keberanian untuk melewati turunan berbelok selanjutnya. Syukurnya, saat itu sudah setengah perjalanan lebih yang saya lalui.<\/p>\n<p>Sayangnya, tiba-tiba lutut kanan saya terasa ngilu sakit sekali. Saya cuma diam padahal aslinya sudah mau nangis. Lutut kiri saya pernah mengalami nyeri serupa, tapi saya pakai knee support di kaki kiri. Eh, ternyata yang kanan yang kena cedera. Awalnya masih saya paksa jalan pelan-pelan dan pincang tentunya.<\/p>\n<p>&#8220;Sakit l<span style=\"font-weight: 400;\">ututnya, Mbak<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">? Naik Lambor aja (baca: Lamborghini Kawah Ijen). Jangan dipaksa jalan, hujan juga,&#8221; suara ibu-ibu menyentak saya yang baru membungkuk sambil memegang lutut.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya rute yang harus saya tempuh tersisa sekitar 300 meter saja. Tetapi esok harinya saya masih punya agenda lain yang tak mungkin saya jalani dengan kaki sakit sebelah.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Pengalaman pertama naik Lamborghini di Kawah Ijen<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak tadi, banyak Lamborghini yang lalu-lalang dan menawarkan harga murah. Maklum, semakin dekat dengan titik akhir, harganya semakin turun. Akhirnya saya mengiyakan ojek turun dengan tarif Rp80 ribu saja. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bapak yang membawa saya dan teman saya sangat lihai mengendalikan Lamborgini agar kami sampai bawah dengan selamat. Jujur saja, saya takut jatuh. Waktu itu saya dan teman duduk depan belakang menghadap arah turunan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lamborghini Kawah Ijen yang kami naiki bergerak dengan kecepatan orang <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">trail run<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> turun gunung. Meliuk ke kanan dan ke kiri rasanya seperti mau terlempar. Sesekali saya dan teman saya berteriak karena merasa seru sekaligus tegang.<\/span><\/p>\n<p>&#8220;Tenang, Mbak. Mbak berd<span style=\"font-weight: 400;\">ua ini ringan aja. Saya biasa angkut<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Belerang\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> belerang<\/a> sampai 300 kilo, kok. Walaupun licin, trolinya ada remnya. Nih, saya tunjukin, ya,&#8221; kata si bapak berusaha menenangkan saya dan teman saya sambil mempraktikkan pengereman troli<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p>Sepanjang perjalanan t<span style=\"font-weight: 400;\">urun sampai ke titik akhir, &#8220;sopir&#8221; Lamborghini Kawah Ijen kami mengajak ngobrol. Napasnya sama sekali nggak kedengaran tersengal-sengal, lho. Dengan elevasi yang cukup curam, licin, dan banyak belokan, para sopir Lamborghini ini pantas mendapat bintang 5, sih&#8230;<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Leila Yumiko<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-orang-bondowoso-malas-berwisata-ke-kawah-ijen\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Alasan Orang Bondowoso seperti Saya Malas Berwisata ke Kawah Ijen<\/a>.<\/b><\/p>\n<p><b><\/b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau pengin ke Kawah Ijen tapi nggak kuat nanjak atau turun, kamu bisa naik Lamborghini. Sedikit merogoh kocek tapi berkesan!<\/p>\n","protected":false},"author":3005,"featured_media":343550,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[12833,29005,29004],"class_list":["post-343518","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kawah-ijen","tag-lamborghini-kawah-ijen","tag-ojek-gunung"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/343518","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3005"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=343518"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/343518\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/343550"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=343518"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=343518"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=343518"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}