{"id":343104,"date":"2025-06-29T14:25:24","date_gmt":"2025-06-29T07:25:24","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=343104"},"modified":"2025-06-29T14:59:47","modified_gmt":"2025-06-29T07:59:47","slug":"tes-kesehatan-untuk-camaba-uny-belum-kuliah-tapi-sudah-keluar-biaya-yang-wah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tes-kesehatan-untuk-camaba-uny-belum-kuliah-tapi-sudah-keluar-biaya-yang-wah\/","title":{"rendered":"Tes Kesehatan untuk Camaba UNY: Belum Kuliah, tapi Sudah Keluar Biaya yang Wah, Kasihan Nasib Camaba Luar Daerah!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya percaya bahwa setiap kampus pasti ingin memberikan yang terbaik untuk mahasiswanya. Termasuk UNY, almamater saya, yang dulunya dikenal kalem, sopan, bersahaja, dan murah senyum. Tapi akhir-akhir ini, banyak calon mahasiswa baru (camaba) 2025 yang merasa bahwa UNY bukan lagi rumah yang ramah, melainkan institusi yang mulai terasa seperti perusahaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gimana nggak? Belum juga masuk kuliah, <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/p\/DK7JiwWvbt5\/?igsh=MXQ2bWU1aDFvNXh0ag==\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">mereka sudah diwajibkan<\/a> untuk mengikuti <a href=\"https:\/\/radarjogja.jawapos.com\/campus\/656184067\/uny-gelar-tes-kesehatan-untuk-mahasiswa-baru-deteksi-dini-gangguan-fisik-dan-mental\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cek kesehatan langsung<\/a> di Fakultas Kedokteran (FK) UNY. Dan bukan cuma cek tekanan darah atau timbang badan seperti di puskesmas, lho. Ini satu paket lengkap dari pemeriksaan fisik, pengukuran tinggi badan, buta warna, sampai tes MMPI (psikotes kepribadian yang biasa dipakai buat rekrutmen profesional).<\/span><\/p>\n<h2><b>Harga yang mahal dan tersembunyi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biar adil, saya coba telusuri dulu. Saya pikir ini mungkin program tambahan buat jalur-jalur tertentu, seperti olahraga atau kedokteran. Eh ternyata, tes kesehatan ini jadi bagian wajib dari proses seleksi camaba jalur mandiri UNY. Dan yang paling menarik perhatian saya bukan sekadar prosedurnya, tapi biayanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut info resmi dan cerita para camaba di forum-forum daring, biaya tes kesehatan FK UNY ini bisa mencapai Rp300.000 sampai Rp500.000 per orang. Kalau dari berita dari <em><a href=\"https:\/\/jogja.idntimes.com\/life\/education\/uny-punya-s1-kedokteran-simak-pendaftaran-dan-biayanya-c1c2-01-783g5-3ll44q\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">IDN Times<\/a>, <\/em>biayanya malah mencapai 650 ribu. Dan itu belum termasuk ongkos datang ke Jogja, biaya nginep di kos harian, makan selama di sana, dan logistik lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba bayangkan kamu dari luar daerah\u2014misal dari Jambi, Kalimantan, atau NTT. Kamu dinyatakan lolos administrasi awal dan diminta datang langsung ke Jogja buat cek kesehatan. Mau nggak mau kamu harus:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Naik bus\/kereta\/pesawat ke Jogja\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Cari kos harian atau tempat nginep\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Siapkan uang tes kesehatan\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bayar makan dan transport selama beberapa hari\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan ini semua terjadi saat kamu belum resmi jadi mahasiswa.<\/span><\/p>\n<h2><b>Belum jadi mahasiswa, sudah jadi &#8220;konsumen awal&#8221; UNY<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang bikin saya miris adalah kesan bahwa UNY kini melihat camaba bukan lagi sebagai calon peserta didik, tapi semacam konsumen awal. Sejak awal kamu dituntut untuk punya uang dulu baru boleh lanjut. Sementara kita tahu, tidak semua camaba berasal dari keluarga mampu. Banyak yang nekat kuliah karena ingin memperbaiki nasib, bukan karena punya tabungan berlebih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, UNY dikenal bersahabat. Bahkan sempat jadi pilihan favorit anak daerah karena kampusnya adem dan biaya hidup di sekitarnya murah. Tapi sekarang, semangat inklusif itu mulai pudar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya paham bahwa FK UNY ingin menjaga kualitas. Bahwa cek kesehatan penting. Tapi kenapa harus terpusat di satu tempat, dan tanpa ada opsi alternatif yang lebih ramah untuk camaba dari luar kota?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa nggak pakai surat keterangan sehat dari RSUD setempat saja dulu, dan nanti baru dicek ulang saat sudah resmi jadi mahasiswa?<\/span><\/p>\n<h2><b>Kebutuhan kesehatan atau seleksi finansial?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang lebih menyakitkan, buat camaba dari keluarga pas-pasan, biaya-biaya tersembunyi seperti ini justru jadi penghambat terbesar. Coba pikir, di saat orang tua masih sibuk cari dana buat bayar Uang Kuliah Tunggal (UKT), mereka juga harus menyiapkan dana ekstra hanya untuk tes kesehatan prakuliah. Belum lagi kalau nanti pengumuman diterima tidak sesuai harapan\u2014uang sudah habis, tapi status mahasiswa belum dikantongi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya muncul pertanyaan tajam di benak saya apakah ini memang soal kualitas mahasiswa? Atau soal \u201cuji daya beli\u201d terselubung?<\/span><\/p>\n<h2><b>UNY apakah masih rumah yang sama?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak sedang menyalahkan UNY. Kampus juga harus beradaptasi, apalagi setelah punya Fakultas Kedokteran baru. Mungkin ini bagian dari proses menuju kampus modern yang terintegrasi. Tapi tetap saja, saya tidak bisa menahan perasaan kecewa saat melihat bagaimana perubahan ini terasa berat sebelah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang berubah dari UNY bukan hanya kurikulumnya, tapi juga cara memperlakukan camaba. Dari yang dulunya mengayomi, kini terasa memaksa. Dari yang dulunya terbuka, kini penuh syarat tak tertulis. UNY sekarang sudah bertransformasi jadi kampus besar, tapi sayangnya, tidak semua camaba siap menghadapi cara barunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya percaya, niat UNY itu baik. Tapi cara menyampaikannya belum ramah. Saya percaya cek kesehatan itu penting, tapi memberatkan secara finansial di masa transisi juga bukan hal yang sepele.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk pihak kampus mungkin perlu ada solusi. Misalnya menyediakan subsidi tes kesehatan, membuka klinik regional per wilayah, atau memberi opsi surat keterangan sementara dari RS terdekat. Supaya kampus tidak hanya terlihat profesional, tapi juga tetap memelihara rasa empati sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena menjadi camaba itu bukan soal siapa yang paling siap bayar. Tapi siapa yang paling siap belajar. Dan kalau kampus mulai menyeleksi berdasarkan isi dompet sebelum membuka pintu ruang kelas, ya mohon maaf: bukan hanya idealisme yang tergadai, tapi juga rasa kemanusiaan yang dulu jadi alasan kenapa kampus itu dipilih.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Janu Wisnanto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/uny-kampus-medioker-ijazah-nggak-guna-di-dunia-kerja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Tahun Kuliah di UNY yang Menyandang Status Kampus Medioker, Ijazah Nggak Berguna di Dunia Kerja, dan \u201cCuma\u201d Komoditas Tenaga Kerja Murah<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya percaya, niat UNY itu baik. Saya percaya cek kesehatan itu penting, tapi memberatkan secara finansial juga tak bijak.<\/p>\n","protected":false},"author":2789,"featured_media":344097,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[29051,24382,9570],"class_list":["post-343104","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-camaba-uny","tag-tes-kesehatan","tag-uny"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/343104","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2789"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=343104"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/343104\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/344097"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=343104"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=343104"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=343104"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}