{"id":342751,"date":"2025-06-22T12:23:56","date_gmt":"2025-06-22T05:23:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=342751"},"modified":"2025-06-22T12:23:56","modified_gmt":"2025-06-22T05:23:56","slug":"cece-itu-kota-dan-estetik-mbak-kampungan-jawa-medok","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cece-itu-kota-dan-estetik-mbak-kampungan-jawa-medok\/","title":{"rendered":"Fenomena Panggilan \u201cMbak\u201d Berubah Jadi \u201cCece\u201d Karena Terdengar Lebih Lucu, lebih Kota, dan Lebih Estetik"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah bisingnya suara klakson, konten TikTok yang nggak ada habisnya, dan diskonan ojol yang selalu menggoda iman, ada satu fenomena kecil tapi menarik di kalangan perempuan muda. Khususnya dari pedesaan Jawa, para mbak, yang sedang merantau ke kota. fenomena itu bernama nama panggilan cece.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, kamu nggak salah baca. Cewek-cewek yang dulunya dipanggil \u201cmbak\u201d atau \u201ckak\u201d, sekarang lebih senang dipanggil \u201ccece\u201d. Bukan karena mereka punya <a href=\"https:\/\/kumparan.com\/berita-hari-ini\/perbedaan-cici-dan-cece-yang-perlu-diketahui-jangan-sampai-salah-21SIae2Ool8\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">marga Zhang<\/a> atau punya sepupu yang menikah dengan orang di Pecinan, tapi karena, katanya, \u201ccece\u201d itu kedengarannya lebih lucu, lebih kota, lebih esthetic.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal kita tahu, beberapa dari mereka dulunya bernama Siti dari sebuah desa di Kendal. Yang tiap pagi bantu ibunya nyabit rumput, sore bantu tetangga bikin jenang. Tapi setelah pindah ke kota, semua berubah. Nama, dandanan, dan sapaan berubah. Nggak lagi \u201cMbak Siti\u201d, tapi \u201cCece Stefani.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Antara suntik putih dan liptint Korea<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau cuma soal panggilan sih, sebenernya nggak ada yang salah. Semua orang berhak memilih cara mereka ingin dipanggil. Tapi lucunya, perubahan ini kadang dibarengi dengan upaya-upaya lain yang lebih dalam dari suntik putih, cushion glowing, sampai eyeliner ditarik ke atas biar matanya keliatan sipit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bedak Kelly dan pensil alis merk Viva mulai ditinggalkan. Sekarang gantinya liptint Korea shade coral blossom dan cushion merek yang cuma bisa dibeli di live TikTok pukul 1 pagi. Cita-citanya satu kepingin tampil kayak \u201ccece\u201d <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surabaya-barat-katanya-basecamp-crazy-rich-benarkah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">chindo<\/a> di Instagram, lengkap dengan outfit berkelas dari atas sampai bawah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKaos 70k, rok 95k, heels 120k, self-love, priceless.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Latar fotonya tentu kafe dengan latte art, caption-nya berbahasa Inggris, \u201cYou ARe My Wonderwall Beb!\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Pindah kota, pindah identitas?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masuk ke kota memang kadang bikin orang berubah. Tapi yang bikin heran, kenapa perubahannya justru ke arah budaya yang bukan milik mereka sendiri?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kawan-kawan Chindo aja banyak yang tetap nyaman dipanggil \u201cmbak\u201d atau \u201ckak\u201d, bahkan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ngomong-lu-gue-dengan-logat-medok-itu-salahnya-di-mana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">logat Jawanya masih kental<\/a>. Tapi sebagian cewek Jawa justru ngotot ingin dipanggil \u201ccece\u201d, lengkap dengan nama-nama baru yang terdengar internasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sulastri jadi Chelsea. Wagiyem ganti jadi Monica. Kadang yang lebih absurd Karsini jadi Kayla Zhang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal baru 2 minggu lalu masih update story pakai caption, \u201cHalah, angel e gawe ketupat.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Apa salahnya jadi Jawa?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dipikir-pikir, ini bukan cuma soal gaya-gayaan ganti dari mbak ke cece. Ada yang lebih dalam dari itu soal penerimaan terhadap diri sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak yang merasa logat Jawa itu kampungan, warna kulit sawo matang itu kurang menarik, dan nama-nama khas Jawa itu nggak \u201cmenjual\u201d di dunia digital. Jadi semua harus di-upgrade biar dianggap keren. Yang padahal ya nggak segitunya juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa bilang cewek Jawa nggak keren? Mbak dengan logat medok itu unik, sopan santun nggak ada lawan, dan biasanya jago masak. Bahkan banyak cowok ibu kota yang justru lebih nyari cewek Jawa karena katanya \u201cnggak neko-neko.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Yang hilang dan yang tersisa dari perubahan mbak ke cece<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu nggak semua cewek desa yang hijrah ke kota ikut pengin dipanggil cece. Banyak juga yang tetap bangga dengan identitasnya. Tapi nggak bisa dimungkiri, tren ini nyata. Dan kadang menyisakan kegelisahan soal budaya yang makin hari makin kabur bentuknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lucunya, pas momen Lebaran tiba, kenyataan suka menyadarkan. Si \u201cCece Angel\u201d yang biasa ngopi cantik dan pakai tone kulit porcelain white, begitu pulang kampung tetap disuruh ngulek sambel sama ibunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan bude-bude tetap manggil, \u201cMbak Wati, tolong ambilin piring, ya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Followers boleh ratusan ribu, feed Instagram bisa sehalus kulit editan, tapi pas di kampung halaman, kamu tetap \u201canak e Bu Saminah\u201d. Dan kamu harus menerima dengan ikhlas.<\/span><\/p>\n<h2><b>Cece bukan masalah, asal tahu akar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Boleh aja kamu dipanggil cece. Nggak ada yang melarang kamu pakai skincare Korea atau ngopi di rooftop sambil nonton drakor. Tapi, sebelum ganti nama dan sapaan, coba tanya ke diri sendiri ini karena suka, atau karena merasa malu jadi diri sendiri?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau jawabannya karena malu, itu yang perlu direnungkan. Karena identitas bukan buat disembunyikan, tapi dirawat. Mbak Jawa bisa tetap cantik tanpa harus putih. Bisa tetap anggun tanpa harus sipit. Dan bisa tetap keren meski cuma dipanggil \u201cmbak\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jadi diri sendiri, nggak pernah ketinggalan zaman<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Zaman boleh berubah. Kota boleh ramai. Tren boleh datang dan pergi. Tapi yang selalu relevan adalah jadi diri sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak usah repot-repot jadi cece kalau jadi mbak aja udah cukup keren. Ngapain ngaku-ngaku Zhang kalau jadi Ning Sulastri aja udah punya pesona yang nggak bisa dibeli di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kegelisahan-loyalis-tokopedia-setelah-selingkuh-ke-shopee\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Shopee<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena pada akhirnya, yang paling mahal dari kita adalah keaslian. Dan itu, nggak bisa dipoles pakai cushion atau caption aesthetic.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau artikel ini bikin kamu merasa \u201ctertampar halus\u201d, ya mungkin memang kita butuh refleksi kecil soal siapa kita sebenarnya. Nggak buat nyalahin, cuma ngajak mikir mau sejauh apa pun kamu melangkah, asal-muasal nggak pernah bisa kamu hapus. Dan itu justru yang bikin kamu punya warna.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, masih mau dipanggil cece, atau udah rindu dipanggil mbak lagi?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Andre Rizal Hanafi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/komen\/versus\/kata-siapa-panggilan-mbak-bermakna-rendahan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kata Siapa Panggilan Mbak Bermakna Rendahan?<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di tengah bisingnya suara klakson, konten TikTok yang nggak ada habisnya, dan diskonan ojol yang selalu menggoda iman, ada satu fenomena kecil tapi menarik di kalangan perempuan muda. Khususnya dari pedesaan Jawa, para mbak, yang sedang merantau ke kota. fenomena itu bernama nama panggilan cece. Iya, kamu nggak salah baca. Cewek-cewek yang dulunya dipanggil \u201cmbak\u201d [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2987,"featured_media":342821,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[28958,28959,28962,28961,623,1206,28957,28960],"class_list":["post-342751","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-cece","tag-cewek-jawa","tag-ciri-ciri-cewek-jawa","tag-gadis-jawa","tag-jawa","tag-kampungan","tag-panggilan-mbak","tag-zhang"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/342751","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2987"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=342751"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/342751\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/342821"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=342751"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=342751"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=342751"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}