{"id":342616,"date":"2025-06-21T11:12:34","date_gmt":"2025-06-21T04:12:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=342616"},"modified":"2025-06-21T11:12:34","modified_gmt":"2025-06-21T04:12:34","slug":"kenapa-sih-sekolah-negeri-terobsesi-dengan-kampus-negeri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-sih-sekolah-negeri-terobsesi-dengan-kampus-negeri\/","title":{"rendered":"Kenapa sih Sekolah Negeri Terobsesi dengan Kampus Negeri? Emang Kampus Swasta itu Jelek?  \u00a0"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut tulisan Mas Andi yang<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sekolah-hanya-bangga-pada-muridnya-yang-keterima-di-kampus-negeri\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, sekolah hanya bangga dengan muridnya yang diterima di kampus negeri. Sisanya hanya dianggap remah-remah, bahkan dianggap ada pun tidak. Awalnya, saya ingin membantah. Dengan semangat membara saya ingin bilang, \u201cNggak kok, nggak gitu. Sekolah bangga dengan semua pencapaian muridnya. Mau masuk kampus negeri ataupun swasta, semuanya istimewa~\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlebih, saya lihat sendiri akun resmi SMA di Tegal memajang semua foto murid-muridnya yang diterima di kampus negeri maupun swasta. Namun, setelah saya iseng mengintip akun IG SMA lain di daerah berbeda\u2014ya ampun, halah jebul iya. Yang dipajang hanya mereka yang diterima di kampus negeri. Nama dan logo kampusnya dibikin gede banget pula! Pokoknya, gimana caranya biar orang langsung \u2018ngeh\u2019, bahwa ada anak didik sekolah situ yang masuk kampus negeri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah saya ingat-ingat lagi, soal sekolah di Tegal yang tadi saya banggakan&#8230; Ya benar sih mereka memajang foto semua muridnya. Tapi, kalau dilihat lebih jeli lagi, yang swasta-swasta ini selalu ditaruh di slide akhir. Kampus negeri? Selalu di slide awal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alamak. Ini sih tulisan Mas Andi bukan sekadar opini, tapi laporan fakta! Kira-kira, kenapa ya sekolah bisa seobsesif itu dengan kampus negeri?<\/span><\/p>\n<h2><b>PTN dianggap cerminan mutu didik sekolah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau tidak adil, harus kita akui bahwa masyarakat kita kerap menilai mutu suatu SMA dari seberapa banyak lulusan mereka yang masuk PTN. Rumusnya sederhana saja: Semakin banyak murid sekolah tersebut masuk ke kampus negeri, semakin bagus mutunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak loh orang tua yang menjadikan keterserapan alumni di kampus negeri sebagai pertimbangan sekolah anak mereka. Jika persentase keterserapannya tinggi, orang tua merasa lebih yakin menyekolahkan anak mereka di sekolah tersebut. Dalam keyakinan mereka, peluang anaknya untuk masuk PTN juga ikut membesar karena anaknya duduk di bangku yang sama dengan para pendahulunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu sebabnya, jangan heran kalau guru-guru jadi seperti agen SBMPTN. Mulai semester 5, anak-anak lebih sering diajari strategi <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/edu\/perguruan-tinggi\/d-6839435\/utbk-adalah-ketahui-materi-tes-jalur-snbp-snbt-dan-jalur-mandiri\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UTBK<\/a> daripada diajari cara menyusun CV, menghadapi interview kerja, apalagi berwirausaha. Sekolah jadi semacam lembaga pelatihan masuk PTN, lengkap dengan simulasi, try out, dan afirmasi motivasi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kampus negeri gampang untuk dipamerkan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain kerap dijadikan sebagai standar mutu pendidikan, fakta bahwa kampus negeri lebih gampang untuk dipamerkan juga jadi salah satu alasan kenapa sekolah terobsesi dengan kampus negeri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi begini. Setiap tahun, sekolah harus membuat laporan kinerja. Dan dari sekian banyak indikator, angka kelulusan ke kampus negeri adalah metrik paling gampang untuk dijadikan highlight. Kalau kalian bertanya gunanya untuk apa? Ya banyak!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contohnya, laporan yang cantik akan lebih mudah \u201cnaik\u201d ke dinas, enak juga untuk dijadikan bahan presentasi di berbagai kegiatan, dan kalau beruntung bisa jadi batu loncatan promosi jabatan. Misal mau dipamerkan di medsos sekolah juga kepenak. Ya kali orang-orang nggak kenal nama-nama beken macam UI, ITB, UGM, dkk? Lain cerita kalau kampus swasta yang mungkin orang harus searching dulu namanya di Google.<\/span><\/p>\n<h2><b>Budaya kompetisi antarsekolah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Obsesi terhadap kampus negeri ini semakin mengakar dengan adanya budaya kompetisi antarsekolah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah bukan rahasia lagi jika setiap kepala sekolah pasti ingin meninggalkan warisan. Dan bagi sebagian dari mereka, warisan terbaik adalah lulusan yang masuk PTN sebanyak mungkin. Itulah yang dimaksud dengan budaya kompetisi antarsekolah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSekolah sebelah aja bisa ngirim 15 anak ke kampus itu, masa kita cuma 7?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalimat seperti ini tentu tidak ada di banner sekolah. Tapi, muncul lantang di sesi rapat bulanan. Muncul pula saat jam pembinaan wali kelas. Siswanya yang dengar mungkin diam, tapi hati mereka jadi termotivasi. Eh. Motivasi atau tekanan, ya? Itulah pokoknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, perkara masuk kampus negeri melebar jadi gengsi kolektif. Sekolah jadi berlomba-lomba masukkan muridnya ke kampus negeri. Yang kalah diam, yang menang upload story. Semakin banyak anak panah yang tepat sasaran, semakin banggalah sekolahnya. Siswa dianggap bukan sekadar lulus, tapi sudah ditempatkan secara strategis di peta nasional.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kampus negeri adalah bahan jualan terbaik saat SPMB<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan kalian tahu? Sederet alasan di atas sejatinya bermuara pada satu tujuan, yaitu mendapat murid sebanyak-banyaknya saat Seleksi Penerimaan Murid baru (SPMB).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Brosur sekolah bisa saja memuat program ekstrakurikuler, kegiatan literasi, atau jadwal parenting class. Tapi konten yang paling dilirik calon murid dan orang tua tetap sama: jumlah siswa yang lolos ke PTN tahun lalu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekolah tahu betul hal itu. Itu sebabnya, banyak sekolah yang menjadikan angka SNBT tahun sebelumnya sebagai bahan jualan yang utama. Dengan kata lain, murid bisa diganti tiap tahun, tapi reputasi masuk PTN harus abadi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jadi\u2026<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kembali ke judul awal tulisan ini, maka jawaban kenapa sekolah begitu terobsesi dengan kampus negeri, sudah jelas jawabannya. Tetapi, kalau pertanyaannya apakah kampus swasta itu otomatis jelek? Ya tentu tidak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di dunia pendidikan hari ini, batas antara \u201cbagus\u201d dan \u201cjelek\u201d sering kali ditentukan oleh variabel-variabel fana: akreditasi, ranking, branding, atau keterserapan kerja alumni. Padahal, semua itu bisa dibentuk, dibeli, dimanipulasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak ada kampus yang benar-benar baik, pun tidak ada yang sepenuhnya buruk, baik negeri maupun swasta. Semuanya bergerak dalam logika yang sama, yaitu logika pasar. Dan di mata kapitalisme, nilai bukan soal mutu, tapi daya jual.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aihhh, bisa nulis serius juga ternyata saya~<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/biaya-perguruan-tinggi-negeri-nyatanya-begitu-mahal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Biaya Perguruan Tinggi Negeri yang Mahal: Katanya Pendidikan Adalah Hak untuk Setiap Warga, tapi Kenapa Biayanya Nggak Masuk Akal?<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Walau tidak adil, harus kita akui bahwa masyarakat kerap menilai mutu suatu SMA dari seberapa banyak lulusan mereka yang masuk kampus negeri.<\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":342620,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[1713,16895,359,28951,7839],"class_list":["post-342616","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-kampus-negeri","tag-reputasi","tag-sekolah","tag-spmb","tag-utbk"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/342616","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=342616"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/342616\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/342620"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=342616"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=342616"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=342616"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}